SUKABUMISATU.com – Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Republik Indonesia, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut., M.P., menegaskan pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan saat melakukan kunjungan kerja ke fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) TPSA Cimenteng, Kabupaten Sukabumi, Rabu (28/07/2026).
Dalam kunjungannya, Hanif mengingatkan bahwa investasi besar yang telah digelontorkan untuk pembangunan RDF Cimenteng harus dijaga dan dimanfaatkan secara maksimal. Menurutnya, fasilitas pengolahan sampah tersebut tidak boleh dibiarkan berubah fungsi menjadi sekadar tempat penumpukan sampah.
“Investasi yang mahal ini harus kita jaga. Jangan sampai sampah menumpuk di sini. Pengelola RDF harus berani membatasi sampah yang masuk apabila kapasitas sudah tidak memungkinkan,” tegas Hanif di lokasi TPSA Cimenteng.
Kapasitas Masih di Bawah Target, Edukasi Pemilahan Sampah Digenjot
Ia menjelaskan, RDF Cimenteng yang sejatinya dirancang mampu mengolah sekitar 120 ton sampah per hari, saat ini baru menerima sekitar 80 ton sampah harian. Pasokan tersebut berasal dari 33 kecamatan dari total 47 kecamatan yang ada di Kabupaten Sukabumi.
Menurut Hanif, keberhasilan penanganan sampah tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, melainkan sangat ditentukan oleh perubahan perilaku masyarakat. Oleh karena itu, ia meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi untuk terus gencar mengedukasi warga agar membiasakan diri memilah sampah sejak dari rumah.
“Kita ingin setiap kecamatan memiliki desa binaan yang menjadi percontohan. Minimal 10 persen masyarakatnya sudah melakukan pemilahan sampah. Kalau sampah dipilah, manfaatnya luar biasa, mulai dari kesehatan masyarakat meningkat, lingkungan menjadi lebih baik, hingga sampah dapat menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi,” paparnya.
Ia menambahkan, sampah organik yang telah dipilah dapat dimanfaatkan menjadi kompos untuk tanaman, sementara jenis sampah lainnya disalurkan untuk didaur ulang sehingga dapat mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) secara signifikan.
Solusi Tanpa Sisa: Kolaborasi Pemkab dan PT Semen Jawa (SCG)
Pemanfaatan teknologi RDF di Kabupaten Sukabumi juga menjadi bagian dari kolaborasi strategis antara Pemkab Sukabumi dan PT Semen Jawa (SCG) yang beroperasi di Kecamatan Cikembar. Melalui sentuhan teknologi RDF, sampah rumah tangga yang selama ini dianggap beban lingkungan disulap menjadi bahan bakar alternatif pengganti batubara.
Langkah ini sejalan dengan target nasional Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang mewajibkan penghentian sistem pembuangan terbuka (open dumping) di seluruh Indonesia pada tahun 2026.
Skema co-processing di pabrik semen dianggap sebagai salah satu solusi paling ideal untuk mengeliminasi sampah dalam skala besar. Tanur (*kiln*) pabrik semen SCG beroperasi pada suhu ekstrem mencapai **1.400 hingga 2.000 derajat Celsius**.
Pada suhu setinggi itu, materi sampah plastik, tekstil, dan kertas yang telah dicacah serta dikeringkan akan terbakar habis secara sempurna tanpa menyisakan abu (*zero waste*). Sisa abu pembakaran secara otomatis menyatu dengan bahan baku semen (*clinker*).
Bagi Pemkab Sukabumi, keberadaan fasilitas ini memangkas volume sampah yang masuk ke TPA secara drastis. Sementara bagi PT Semen Jawa, penggunaan RDF menjadi langkah nyata untuk menekan jejak karbon industri sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Dorong Industri Semen Nasional Manfaatkan RDF
Melihat potensi besar tersebut, Hanif mengapresiasi keterlibatan industri semen dalam mendukung pengelolaan sampah nasional. Perusahaan semen—termasuk PT SCG asal Thailand—memang memiliki target internal untuk mengurangi penggunaan batubara yang beremisi karbon tinggi.
“Di Pulau Jawa ada 23 perusahaan semen yang berpotensi memanfaatkan RDF sebagai bahan bakar alternatif. Jika dimaksimalkan, industri tersebut mampu membantu penanganan sampah di sekitar 132 kabupaten dan kota,” ungkap Hanif.
Di akhir kunjungannya, Hanif mengaku optimistis Pemkab Sukabumi di bawah kepemimpinan Bupati Sukabumi dapat mempercepat penanganan sampah melalui perluasan fasilitas RDF dan penguatan edukasi masyarakat.
“Saya berharap pembangunan RDF semakin diperbanyak untuk menjangkau seluruh penduduk Kabupaten Sukabumi. Pengelolaan sampah bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga masa depan lingkungan dan kesehatan generasi mendatang,” pungkasnya.
Reporter: Suhendi Soex
Editor: Demi Pratama Adiputra












