SUKABUMISATU.com – Melanjutkan kisah petualangan Franz Junghuhn di Dataran Tinggi Jampang, Sukabumi Selatan, kali ini kita akan membahas bagaimana sang naturalis tak hanya fokus pada bebatuan purba, tetapi juga pada kehidupan hijau dan pola iklim yang membentuk lanskap Sukabumi. Sebagai ahli botani yang ulung, Junghuhn menerapkan hukum ketinggiannya yang terkenal, “Zonasi Junghuhn”, untuk memahami kekayaan flora di wilayah ini.
Zonasi Vegetasi dan Hutan Jati Liar
Di Jampang, Junghuhn mendata flora secara rinci. Pada dataran rendah (Zona Panas, 0-600 mdpl), ia mencatat dominasi hutan jati liar yang saat itu masih tumbuh luas dan alami. Ini memberikan gambaran betapa perawan dan alaminya wilayah Jampang di masa itu.
Selain itu, Junghuhn juga melakukan analisis kesuburan tanah. Tujuannya? Untuk menilai potensi Jampang sebagai lahan perkebunan komoditas ekspor seperti kopi atau tebu. Ia menyimpulkan bahwa beberapa area di Jampang cenderung lebih kering dibandingkan wilayah Priangan lainnya, sebuah temuan penting untuk perencanaan agrikultur kolonial.
Sukabumi, Pusat Kopi dan Kina
Di Sukabumi secara keseluruhan, perkebunan kopi memang menjadi primadona. Junghuhn memberikan saran-saran teknis yang berharga mengenai lokasi penanaman kopi yang optimal, berdasarkan pengukuran suhu dan kelembapan tanah yang ia lakukan sendiri. Tak hanya kopi, kelak ia juga berperan besar dalam memperkenalkan pohon Kina (Cinchona) yang banyak ditanam di pegunungan Jawa Barat, menjadi cikal bakal industri farmasi penting.
Iklim dan Rahasia Curah Hujan
Junghuhn tak pernah bepergian tanpa termometer dan barometer. Di Jampang, ia meneliti distribusi curah hujan, mencatat bahwa wilayah ini memiliki musim kemarau yang lebih tegas dibandingkan pegunungan di utara Sukabumi (seperti Gede-Pangrango). Ia juga memetakan titik-titik ketinggian untuk menentukan batas-batas zonasi iklim yang ia rumuskan.
Dari rembesan minyak alami hingga mata air panas, Junghuhn bahkan mencatat gejala kebumian yang menunjukkan potensi sumber daya bawah tanah. Ia mendokumentasikan rembesan minyak di beberapa titik di Jawa, termasuk indikasi mineral di selatan. Mata air panas juga tak luput dari perhatiannya, sebagai penanda aktivitas vulkanik bawah tanah yang masih ada.
”Dataran tinggi Jampang membentuk sebuah massa batuan yang sangat luas, yang dari puncaknya orang dapat melihat ke bawah ke arah samudra yang tak bertepi… di sini vegetasi berubah secara tiba-tiba, dari hutan pegunungan yang lembap menuju hutan-hutan yang lebih kering di mana pohon jati mulai mendominasi.”
Penelitian Junghuhn melukiskan gambaran komprehensif tentang Jampang, bukan hanya sebagai lanskap geologis, tetapi juga sebagai ekosistem yang hidup.
Jangan lewatkan bagian terakhir, kita akan mengintip catatan Junghuhn tentang kehidupan liar dan satwa endemik di hutan-hutan Jampang. (Demi Pratama Adiputra)












