Rabu,11 Februari 2026
Pukul: 10:09 WIB

“Simfoni” Hutan Djampang: Jejak Satwa Liar dalam Catatan Junghuhn

“Simfoni” Hutan Djampang: Jejak Satwa Liar dalam Catatan Junghuhn

Senin, 12 Januari 2026
/ Pukul: 13:46 WIB
Senin, 12 Januari 2026
Pukul 13:46 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

SUKABUMISATU.com – Setelah menyelami struktur geologi dan kekayaan botani di Dataran Tinggi Jampang, Sukabumi Selatan, mari kita menelusuri catatan Franz Junghuhn yang tak kalah menarik: kehidupan satwa liar. Bagi Junghuhn, fauna adalah elemen tak terpisahkan dari ekosistem hutan dan pegunungan yang ia petakan. Selain pengamatan mengenai banteng atau sapi liar, ia mencatat berbagai satwa endemik yang menjadi penghuni setia hutan-hutan Djampang.

Primata Endemik dan Suara Hutan

​Dalam perjalanannya menembus hutan lebat Jampang dan Priangan, Junghuhn kerap mendeskripsikan suara dan keberadaan primata yang menjadi ciri khas hutan hujan Jawa. Ia mencatat suara nyanyian Owa Jawa (Hylobates moloch) yang khas di pagi hari, membelah kabut dari kanopi hutan pegunungan yang lembap. Tak hanya itu, kelompok Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) yang bergelantungan di pohon-pohon tinggi menuju pesisir selatan juga tak luput dari pengamatannya.

Baca Juga  Peresmian Kantor Kecamatan Ciemas Jadi Momentum Penataan Infrastruktur Wilayah

Burung-Burung Spektakuler

​Sebagai naturalis yang detail, Junghuhn juga mencatat kehadiran burung-burung yang mencolok. Ia mendeskripsikan pemandangan Merak Hijau (Pavo muticus) yang berkeliaran di area terbuka atau pinggiran hutan jati di Jampang. Suara kepakan sayap burung Enggang yang berat dan teriakannya di hutan Jampang sering ia gambarkan sebagai bagian dari “simfoni” hutan liar Jawa.

Reptil, Insekta, dan Jejak Predator

​Di muara sungai-sungai besar Jampang yang bermuara ke Samudra Hindia (seperti wilayah Ciletuh), ia mencatat keberadaan Buaya Muara. Mengingat minat awalnya pada botani, ia juga mengamati keterkaitan antara tanaman tertentu dengan serangga endemik Jawa, termasuk beragam kupu-kupu yang ia temui di pedalaman.

​Meski jarang bertemu langsung, Junghuhn juga mencatat laporan dan jejak dari Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), menyadari keberadaan predator ini sebagai penguasa rantai makanan di hutan-hutan Sukabumi yang saat itu masih sangat perawan.

Baca Juga  Gong, Laska Hotel dan Resort Ciletuh Di Resmikan Bupati Sukabumi

Kutipan Penuh Filosofi

​Junghuhn tidak hanya melaporkan, tetapi juga merenungkan. Dalam salah satu kutipannya, ia menulis: “Di sini, di dalam kesunyian hutan-hutan Jampang yang abadi, manusia merasa dirinya begitu kecil. Di bawah kanopi raksasa yang tak tertembus cahaya matahari, terdengar nyanyian pagi Owa Jawa yang membelah kabut, bersahut-sahutan dengan kepakan sayap burung Enggang di atas tajuk pohon. Alam di sini bukanlah sekadar tumpukan batu dan tumbuhan; ia adalah sebuah organisme besar yang bernapas, di mana setiap serangga yang merayap dan setiap jamur yang tumbuh di zona remang-remang memiliki tempatnya dalam rantai kehidupan yang agung.”

Baca Juga  PT Wilton Mulai Pengoperasian Secara Komersil Tambang Emas di Area Geopark Ciletuh Sukabumi

​Pengamatan Junghuhn ini menunjukkan ketelitiannya dalam mencatat fauna endemik yang menjadi suara khas hutan Jawa Barat, sekaligus menghubungkan pengamatan ilmiahnya dengan perasaan kagum yang mendalam terhadap alam. Sebuah ciri khas yang membuat tulisan-tulisannya berbeda dari ilmuwan biasa.

​Perjalanan Franz Wilhelm Junghuhn di Dataran Tinggi Jampang, sebuah warisan pengetahuan yang juga ia gambarkan dalam peta hasil karyanya yang bernama “Kaart van het Eiland Java. “

​Peta besar Pulau Jawa karya Junghuhn ini sangat krusial karena untuk pertama kalinya wilayah seperti Jampang dipetakan dengan akurasi ilmiah pada masa itu, mencakup jalur sungai, punggungan gunung, dan batas-batas vegetasi.

Penulis: Demi Pratama Adiputra

Sumber:

Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bau, Franz Wilhelm Junghuhn

Topographische und naturwissenschaftliche Reisen durch Java, Franz Wilhelm Junghuhn

Related Posts

Add New Playlist