SUKABUMISATU.com – Setelah menyelami struktur geologi dan kekayaan botani di Dataran Tinggi Jampang, Sukabumi Selatan, mari kita menelusuri catatan Franz Junghuhn yang tak kalah menarik: kehidupan satwa liar. Bagi Junghuhn, fauna adalah elemen tak terpisahkan dari ekosistem hutan dan pegunungan yang ia petakan. Selain pengamatan mengenai banteng atau sapi liar, ia mencatat berbagai satwa endemik yang menjadi penghuni setia hutan-hutan Djampang.
Primata Endemik dan Suara Hutan
Dalam perjalanannya menembus hutan lebat Jampang dan Priangan, Junghuhn kerap mendeskripsikan suara dan keberadaan primata yang menjadi ciri khas hutan hujan Jawa. Ia mencatat suara nyanyian Owa Jawa (Hylobates moloch) yang khas di pagi hari, membelah kabut dari kanopi hutan pegunungan yang lembap. Tak hanya itu, kelompok Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) yang bergelantungan di pohon-pohon tinggi menuju pesisir selatan juga tak luput dari pengamatannya.
Burung-Burung Spektakuler
Sebagai naturalis yang detail, Junghuhn juga mencatat kehadiran burung-burung yang mencolok. Ia mendeskripsikan pemandangan Merak Hijau (Pavo muticus) yang berkeliaran di area terbuka atau pinggiran hutan jati di Jampang. Suara kepakan sayap burung Enggang yang berat dan teriakannya di hutan Jampang sering ia gambarkan sebagai bagian dari “simfoni” hutan liar Jawa.
Reptil, Insekta, dan Jejak Predator
Di muara sungai-sungai besar Jampang yang bermuara ke Samudra Hindia (seperti wilayah Ciletuh), ia mencatat keberadaan Buaya Muara. Mengingat minat awalnya pada botani, ia juga mengamati keterkaitan antara tanaman tertentu dengan serangga endemik Jawa, termasuk beragam kupu-kupu yang ia temui di pedalaman.
Meski jarang bertemu langsung, Junghuhn juga mencatat laporan dan jejak dari Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), menyadari keberadaan predator ini sebagai penguasa rantai makanan di hutan-hutan Sukabumi yang saat itu masih sangat perawan.
Kutipan Penuh Filosofi
Junghuhn tidak hanya melaporkan, tetapi juga merenungkan. Dalam salah satu kutipannya, ia menulis: “Di sini, di dalam kesunyian hutan-hutan Jampang yang abadi, manusia merasa dirinya begitu kecil. Di bawah kanopi raksasa yang tak tertembus cahaya matahari, terdengar nyanyian pagi Owa Jawa yang membelah kabut, bersahut-sahutan dengan kepakan sayap burung Enggang di atas tajuk pohon. Alam di sini bukanlah sekadar tumpukan batu dan tumbuhan; ia adalah sebuah organisme besar yang bernapas, di mana setiap serangga yang merayap dan setiap jamur yang tumbuh di zona remang-remang memiliki tempatnya dalam rantai kehidupan yang agung.”
Pengamatan Junghuhn ini menunjukkan ketelitiannya dalam mencatat fauna endemik yang menjadi suara khas hutan Jawa Barat, sekaligus menghubungkan pengamatan ilmiahnya dengan perasaan kagum yang mendalam terhadap alam. Sebuah ciri khas yang membuat tulisan-tulisannya berbeda dari ilmuwan biasa.
Perjalanan Franz Wilhelm Junghuhn di Dataran Tinggi Jampang, sebuah warisan pengetahuan yang juga ia gambarkan dalam peta hasil karyanya yang bernama “Kaart van het Eiland Java. “
Peta besar Pulau Jawa karya Junghuhn ini sangat krusial karena untuk pertama kalinya wilayah seperti Jampang dipetakan dengan akurasi ilmiah pada masa itu, mencakup jalur sungai, punggungan gunung, dan batas-batas vegetasi.
Penulis: Demi Pratama Adiputra
Sumber:
Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bau, Franz Wilhelm Junghuhn
Topographische und naturwissenschaftliche Reisen durch Java, Franz Wilhelm Junghuhn









