Senin,27 April 2026
Pukul: 17:05 WIB

Menelusuri ‘Laboratorium Alam’ Sukabumi yang Menjadi Incaran Ilmuwan Eropa Sejak Awal Abad 19

Menelusuri ‘Laboratorium Alam’ Sukabumi yang Menjadi Incaran Ilmuwan Eropa Sejak Awal Abad 19

Minggu, 4 Januari 2026
/ Pukul: 16:24 WIB
Minggu, 4 Januari 2026
Pukul 16:24 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

SUKABUMISATU.com – Wilayah Selatan Sukabumi, khususnya Jampang Tengah dan Palabuhanratu, ternyata bukan hanya sekadar deretan perbukitan dan garis pantai yang indah. Jauh sebelum ditetapkan sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark, wilayah ini telah menjadi magnet bagi ilmuwan dunia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati (biodiversitas) terpenting di masa Hindia Belanda.

​Berdasarkan arsip literatur klasik dan laporan ilmiah Dr. V. Lallemand bertajuk “Cercopides du Musée de Buitenzorg (Java)”, Jampang pada dekade 1930-an dideskripsikan sebagai “laboratorium alam” yang menyimpan rahasia spesies serangga yang belum pernah ditemukan di belahan bumi mana pun.

​Penemuan Spesies Baru di Gunung Cisuru

​Salah satu titik yang paling disorot dalam literatur dunia adalah Gunung Cisuru (Mt. Tjisoeroe) yang terletak di Jampang Tengah. Berada pada ketinggian 600-800 meter di atas permukaan laut (mdpl), kawasan ini menjadi saksi bisu penemuan spesies baru bagi ilmu pengetahuan.

Baca Juga  Hari ke 2 Bocah Tenggelam di Sungai Cimandiri, Tim Sar Gabungan Lakukan Pencarian

​Pada Februari 1935, seorang kolektor kenamaan, M. E. Walsh (Maria Elisabeth Walsh), berhasil mengoleksi spesimen serangga baru yang kemudian diberi nama ilmiah Clovia mairi Lall. Tak hanya itu, jenis lain seperti Plinia ampla var. nigrifrons juga banyak ditemukan di hutan-hutan Jampang yang kala itu masih rimbun dan perawan.

​Menjelajahi Pesisir Palabuhanratu

​Tak hanya wilayah pegunungan, wilayah pesisir Sukabumi yang dikenal dengan nama Wijnkoopsbaai (Teluk Pelabuhan Ratu) juga masuk dalam radar penelitian global. Ilmuwan terkemuka dari Museum Zoologi Buitenzorg (sekarang Museum Zoologi Bogor), M. A. Lieftinck, tercatat melakukan ekspedisi besar di Palabuhanratu dan Cipanas pada April 1933.

Baca Juga  Innalillahi! Seorang Remaja Tewas Usai Jatuh ke Jurang di Objek Wisata Panenjoan Geopark Ciletuh

​Ekspedisi ini membuktikan bahwa Sukabumi memiliki gradien ekosistem yang unik—dari kelembapan pesisir hingga dinginnya pegunungan Jampang—yang mendukung kehidupan berbagai spesies langka dari famili Cercopidae.

​Mengapa Sejarah Ini Penting Bagi Warga Sukabumi?

​Menelusuri kembali catatan Dr. Lallemand bukan sekadar romantisme sejarah. Hal ini memberikan beberapa pelajaran penting bagi kita saat ini:

  1. Bukti Kekayaan Hayati: Jampang dan Palabuhanratu adalah aset sains dunia. Jika seratus tahun lalu para ilmuwan Eropa rela menembus hutan lebat demi satu spesies, maka sudah sepatutnya generasi sekarang menjaga kelestarian hutan yang tersisa.
  2. Nilai Tambah Geopark: Narasi mengenai sejarah penemuan spesies ini memperkuat posisi Sukabumi dalam peta Geopark dunia. Sukabumi bukan hanya soal batu-batuan purba (Geodiversity), tapi juga kekayaan hayati yang luar biasa (Biodiversity).
  3. Inspirasi Pendidikan: Mengetahui bahwa wilayah lokal seperti Jampang Tengah sering disebut dalam jurnal ilmiah internasional diharapkan dapat memicu semangat riset bagi putra daerah dan pelajar di Sukabumi.
Baca Juga  Jalan Tak Kunjung di Perbaiki, Warga Mandrajaya Ciemas Ancam Lakukan Aksi

​Kini, dokumen-dokumen berharga tersebut masih tersimpan rapi di lembaga bergengsi seperti Treub-Laboratorium Kebun Raya Bogor, menjadi pengingat bahwa di bawah rindangnya pohon-pohon Jampang, tersimpan kekayaan yang diakui oleh dunia internasional.

​Sudah saatnya kita tidak hanya bangga pada keindahannya, tapi juga sadar akan pentingnya menjaga ekosistem Sukabumi agar tetap menjadi “perpustakaan alam” bagi anak cucu kita di masa depan. (Demi Pratama Adiputra) 

Related Posts

Add New Playlist