Kamis,12 Februari 2026
Pukul: 05:05 WIB

Melacak El-Nino 2023 dan Strategi Antisipasi

Melacak El-Nino 2023 dan Strategi Antisipasi

Minggu, 23 Juli 2023
/ Pukul: 10:26 WIB
Minggu, 23 Juli 2023
Pukul 10:26 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Muhammad Yusuf Awaluddin, S.Kel., M.Sc. (Dosen di Departemen Kelautan, FPIK-UNPAD)

SUKABUMISATU.COM – Fenomena El-Nino yang berpeluang menguat pada tahun 2023 memiliki potensi untuk membawa dampak signifikan bagi Indonesia, termasuk perubahan pola curah hujan, anomali suhu, dan gangguan pada kegiatan kemaritiman termasuk ekosistem laut.

Selain untuk menekankan pentingnya informasi yang tepat dalam memahami perkembangan fenomena El-Nino terkini, artikel ini juga membahas potensi dampak dan mitigasinya dalam sektor kelautan dan ekosistem laut di dalamnya.

El-Nino adalah fenomena iklim menarik yang dapat memengaruhi lautan dan cuaca di berbagai wilayah dunia.

Mengingat dampak yang ditimbulkannya sangat luas, para ilmuwan memantau
fenomena alam ini secara serius. Salah satu karakteristik utama El-Nino adalah kemunculannya yang tidak teratur dan memiliki intensitas yang berbeda.

El-Nino diindikasikan dengan kondisi Samudera Pasifik yang menghangat suhu permukaan lautnya, melebihi rata-rata suhu di wilayah ini. Keadaan tersebut dibarengi dengan melemahnya angin pasat timur dan bergeraknya permukaan air hangat ke arah barat benua Amerika.

Efeknya berbeda-beda, banyak terjadi hujan di area bagian barat Amerika sementara kekeringan terjadi di wilayah
Indonesia dan sekitarnya.

Fenomena ini bukan hal yang baru, tapi sering terjadi dengan variasi intensitas mulai yang lemah hingga kuat. Sebagai contoh, periode tahun 2015-2016 dikenal sebagai periode El-Nino yang kuat.

Peneliti menyebutnya sebagai “Super El-Nino”, untuk menggambarkan besarnya
efek yang ditimbulkan akibat kuatnya intensitas El-Nino pada tahun tersebut. Bahkan, sejarah mencatatnya sebagai El-Nino terkuat sejak pengukuran modern dilakukan tahun 1950.

Selain memicu kekeringan serta kebakaran hutan yang luas, kejadian saat itu telah menyebabkan pelelehan es yang masif di barat Antartika, perubahan ekosistem di daerah Tropikal Pacific, serta berefek negatif pada ekosistem laut secara keseluruhan.

Baca Juga  Homeschooling Sebagai Alternatif Pilihan

Lalu bagaimana dengan kondisi El-Nino di tahun ini? Kali ini terdapat indikasi bahwa El-Nino akan hadir dan menguat hingga penghujung tahun.

Badan Meteorologi Dunia (WMO) menjelaskan bahwa kemunculan El-Nino telah terpantau di kawasan Tropical Pacific, pertama kali sejak 7 tahun terakhir ini. Para ahli iklim melakukan pemantauan kondisi El-Nino ini melalui Indeks perubahan suhu permukaan laut di area topical pacific yang dikenal dengan nama indeks NINO3.4.

Melalui pemantauan data mingguan di daerah ini, para ahli iklim menemukan kenaikan suhu permukaan laut dari biasanya dan menjadi indikasi hadirnya El-Nino.

Selain itu, model prediksi iklim dari Lembaga Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat (NOAA) turut membandingkan kondisi yang terjadi saat ini dengan fenomena yang sama di tahun 2015-2016, hasilnya menunjukkan bahwa El-Nino diprediksi akan terus menguat di tahun 2023-2024 ini dengan peluang sebesar 90%.

Fakta-fakta yang terjadi menunjukan kecenderungan hal tersebut, sebagai contohsaja, para ahli iklim mencatat rekor suhu permukaan laut bulan Juni ini yang cukup tinggi sejak tahun1991, selain itu terlihat dari tingkat es yang mencapai rekor terendah di laut antartika, yang terus mengalami pelelehan.

Sehingga tak heran bila para ahli iklim memprediksi fenomena ini akan berlangsung periode 2023-2024 ini dengan intensitas menengah hingga kuat. Kondisi dan intensitas El-Nino ini terus dipantau oleh lembaga iklim dunia, termasuk juga badan terkait di Indonesia.

Apakah wilayah Indonesia akan terkena imbasnya bila memang El-Nino ini datang? Apabila melihat pola El-Nino yang terjadi selama ini, indikasi suhu permukaan laut yang tinggi di wilayah Tropikal Pasifik tersebut bisa menimbulkan efek juga di wilayah kita.

Baca Juga  Rebo Nyunda: Eksistensi Kedirian Orang Sunda

Bahkan sejak bulan Maret, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah melakukan press release mengenai kemungkinan terjadinya kemarau panjang yang disertai kehadiran fase El-Nino pada semester kedua tahun ini.

Langkah antisipatif ini perlu diapresiasi, sehingga pemangku kebijakan mulai dari pusat hingga di daerah bisa menentukan langkah yang cepat dan tepat dalam menghadapi segala kemungkinan. Salah satu sektor yang berpotensi terdampak El-Nino adalah bidang kemaritiman serta ekosistem laut.

Menariknya, untuk sektor perikanan tangkap bisa terjadi dua hal yang berbeda. Sebagian mengalami penurunan stok ikan tangkap sementara di daerah lainnya mengalami peningkatan hasil tangkapan ikan.

Hal ini kemungkinan diakibatkan migrasi ikan dari daerah tangkap biasanya menuju daerah lainnya yang sesuai dengan habitat yang cocok dengan ikan tersebut.

Ada pula daerah yang memang mengalami penurunan hasil tangkap karena fenomena ini.

Selain itu, untuk sektor budidaya laut bisa terancam dengan fenomena El-Nino mengingat kondisi perairan yang berpotensi terus menghangat ekstrim dan akan mempengaruhi produksi sektor ini. Sedangkan untuk ekosistem laut lainya seperti terumbu karang juga turut terancam El-Nino dengan adanya pemutihan karang.

Kondisi ini diakibatkan karena suhu lautan yang ekstrim sehingga menimbulkan kematian masal dari terumbu karang seperti yang terjadi pada El-Nino kuat sebelumnya tahun 2015-2016. Terumbu karang ini berperan penting sebagai tempat berkembangnya nya ikan-ikan jenis tertentu serta keanekaragaman barang itu sendiri.

Berbagai efek tersebut sangat memungkinkan merembet kepada sisi ekonomis yang akan terkena dampaknya.

Oleh karena itu, monitoring perkembangan El-Nino dan penerapan langkah-langkah mitigasi sangat penting dilakukan. Peningkatan sistem peringatan dini dan kapasitas lembaga terkait perlu diprioritaskan. Informasi yang tepat dan akurat mengenai fenomena ini sangat diperlukan oleh masyarakat.

Baca Juga  Pentingnya Pendidikan Karakter di Sekolah

Lembaga terkait perlu juga untuk melakukan edukasi yang terstruktur kepada berbagai lapisan masyarakat agar bisa meningkatkan kewaspadaan masyarakat umum. Selain itu, mitigasi dalam sektor kemaritiman dan ekosistem laut juga perlu dilakukan secara tepat.

Beberapa langkah yang bisa diambil diantaranya seperti pengelolaan area perlindungan laut yang baik, penangkapan ikan yang berkelanjutan, pemanfaatan hasil tangkap yang baik bila terjadi kelebihan hasil tangkap ikan, pengelolaan pesisir terpadu, penerapan kebijakan yang efektif serta pemberdayaan masyarakat setempat.

Intinya, fenomena El-Nino berpeluang menguat pada tahun 2023 ini dan kemungkinan akan berdampak bagi Indonesia. Perubahan pola curah hujan, anomali suhu, dan gangguan pada
sektor kemaritiman dan ekosistem laut adalah beberapa dampak yang perlu diperhatikan.

Tetapi, dengan mengimplementasikan sistem peringatan dini yang efektif, dan kebijakan yang tepat, Indonesia dapat mengurangi dampak negatifnya dan meningkatkan ketahanannya menghadapi fenomena El-Nino ini.

Memang saat tulisan ini dibuat kondisi El-Nino belum terlalu kuat dan belum terasa efeknya.

Namun, kondisi suhu permukaan laut di Ekuatorial Pasifik berpeluang menguat dalam bulan-bulan selanjutnya, sehingga El-Nino bisa menguat intensitasnya dalam beberapa bulan ke depan. Kalau boleh diibaratkan pesawat terbang, maka El-Nino sudah berada di landasan pacu dan bersiap untuk terbang, selayaknya penumpang yang ada di dalam pesawat tersebut, kita pun harus bersiap diri dan mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi, salah satunya adalah memasang dan mengencangkan ikat pinggang seraya mengikuti arahan pilot demi keselamatan bersama.(*)

Related Posts

Add New Playlist