Jumat,1 Mei 2026
Pukul: 20:45 WIB

Perempuan dalam Konstruk Sosial Usang

Perempuan dalam Konstruk Sosial Usang

Jumat, 1 Mei 2026
/ Pukul: 19:51 WIB
Jumat, 1 Mei 2026
Pukul 19:51 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Silvi Pauzia (Aktivis Perempuan Sukabumi)

​Perempuan adalah manusia yang kerap dianggap inferior, memiliki emosi tidak stabil, dan eksistensinya terus berusaha dilenyapkan. Ya, begitulah realitas hidup perempuan hari ini. Mereka sering kali terjebak dalam tatanan sosial yang dipupuk dengan stigmatisasi usang tentang apa dan di mana mereka harus berkiprah. Pakaiannya diatur, dan norma tidak tertulis selalu menyudutkan mereka ke dalam ketidakberdayaan.

​Beberapa hari terakhir, berita tentang kehidupan perempuan menunjukkan dengan sangat jelas bahwa mereka hidup dalam ruang-ruang rawan, bahkan tidak aman. Mari kita soroti peristiwa menyesakkan akhir-akhir ini: pelecehan seksual di lingkungan kampus—tempat mereka mengejar mimpi; kasus kekerasan anak di daycare—tempat yang seharusnya menjadi solusi aman bagi ibu pekerja namun justru menjadi neraka yang meninggalkan trauma besar; hingga kecelakaan kereta api jarak jauh dengan KRL yang korbannya 100% adalah perempuan. Semua ini tentang perempuan.

​Tidak pernah benar-benar ada ruang aman bagi perempuan. Saat menjadi murid, ia menjadi sasaran empuk untuk diobyektifikasi, dijadikan komoditas, dilecehkan, dan diperlakukan seakan-akan tidak memiliki martabat. Nahasnya, ketika perempuan bersuara, kesalahan justru ditimpakan kepada dirinya sendiri. Komentar jahat terus berdatangan, menyalahkan cara berpakaian dan perilakunya. Bahkan saat bersuara pun, ia tidak luput dari stigma patriarki bahwa segala kekacauan terjadi karena ulah perempuan. Ia disebut memiliki bentuk tubuh yang memancing, dianggap berlebihan, atau dinilai terlalu “drama” untuk sebuah pelecehan yang dilabeli kata “bercanda”—seakan kata itu bisa menyembuhkan luka. Padahal, kekerasan seksual sering kali menjadi awal dari kekacauan lain yang lebih ekstrem. Mari kita coba melupakan kebiadaban tanggapan orang-orang yang dibesarkan untuk menganggap perempuan secara inheren bersalah.

Baca Juga  Membangun Tim Juara: Pelajaran dari Lapangan Hijau untuk Perguruan Tinggi Global Kompetitif

​Bias gender ini selalu menentukan bagaimana perempuan seharusnya berkiprah. Secara kultural, ia hanya “boleh” bekerja dalam tatanan domestik tanpa diakui identitas aslinya. Bayangkan, betapa banyak kesempatan bagi perempuan untuk tumbuh, berkembang, dan berbahagia jika kita tidak memiliki ekspektasi gender yang mengekang.

​Laki-laki dan perempuan memang berbeda secara biologis—hormon, organ seksual, dan kemampuan reproduksi (perempuan mengandung, laki-laki tidak). Laki-laki memiliki lebih banyak testosteron dan umumnya secara fisik lebih kuat. Namun, sosialisasi sosial selalu melebih-lebihkan perbedaan tersebut. Aktivitas domestik dilekatkan sebagai kewajiban perempuan bahkan sebelum ia lahir, sehingga kiprah perempuan di ranah publik sering mendapat sorotan negatif.

​Perempuan dikonotasikan harus pandai memasak, padahal mayoritas juru masak profesional (chef) adalah laki-laki. Hal yang lebih membingungkan adalah perlakuan terhadap mereka: ketika menjadi ibu rumah tangga penuh waktu (full-time mom), mereka tetap tidak lepas dari paradigma negatif, seperti dianggap tidak becus membesarkan anak saat anak sakit atau tantrum. Bahkan, banyak perempuan mendapat lirikan sinis saat membawa anak keluar rumah karena dianggap mengganggu. Di sisi lain, muncul beban ganda yang membingungkan; misalnya ketika perempuan merasa harus berterima kasih kepada suami karena telah mengganti popok, padahal itu adalah tanggung jawab alami seorang ayah dalam merawat anaknya.

Baca Juga  Ikrar Syahadat dan Politik Uang dalam Mengarahkan Calon Pemilih pada Pemilu Kepala Daerah

​Konstruk sosial usang yang mendomestifikasi perempuan selalu mencari celah untuk menyalahkan mereka. Ketika terjadi kekerasan anak di daycare, perempuanlah pihak pertama yang didakwa bersalah secara norma sosial. Perempuan dikurung dalam belenggu sanksi sosial atas apa yang terjadi pada anggota keluarganya. Alih-alih berempati, masyarakat justru gemar melabeli “ibu jahat” tanpa memahami kerentanan emosional maupun finansial mereka, hanya demi menegaskan bahwa meninggalkan anak untuk bekerja adalah kesalahan besar.

​Sorakan itu semakin nyaring saat terjadi kecelakaan kereta yang menewaskan korban yang seluruhnya perempuan. Masyarakat misoginis sibuk mengutuk para ibu pekerja. Banyak komentar di media sosial yang sangat tidak pantas, terutama menanggapi penemuan cooler bag (tas pendingin ASI) di lokasi kejadian. Hal itu sangat menyayat hati; di sela keletihan bekerja, seorang ibu masih sempat memompa ASI untuk buah hatinya dengan harapan bisa pulang dan memeluk anaknya. Sayangnya, harapan itu terhenti di perjalanan, dan ceritanya akan terkenang selamanya.

Baca Juga  Manifesto Garda Wanita NasDem 'Garnita Malahayati'

​Andaikan tidak ada ekspektasi gender, mungkin segala peristiwa akan dinilai secara objektif dan netral tanpa justifikasi terhadap gender tertentu. Semua manusia bisa hidup dengan layak, dihormati, dan diperlakukan secara bermartabat.

​Semua perempuan berhak melakukan apa pun. Menjadi feminin dengan sepatu hak tinggi, mengenakan pakaian yang disukai, atau bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup bukanlah sebuah kesalahan. Berbicara tentang perempuan memang terdengar kompleks karena sistem dan sosialisasi yang ada memang dirancang untuk melanggengkan ideologi patriarki.

​Mari kita hidup sebagai perempuan sekaligus sebagai manusia utuh yang tidak menutup potensi diri. Jangan berhenti bertanya pada diri sendiri tentang apa yang boleh dilakukan hanya karena alasan gender. Jangan pernah jadikan “karena saya perempuan” sebagai alasan untuk membatasi diri. Berkiprah di ranah domestik maupun publik adalah hal yang sah. Mari hidup setara dalam sektor apa pun, baik itu pendidikan, peran, maupun pekerjaan.

Related Posts

Add New Playlist