SUKABUMISATU.com – Kabupaten Sukabumi tak hanya menyimpan keindahan alam, tapi juga jejak sejarah yang erat dengan masa kejayaan Kerajaan Padjadjaran. Dalam sejumlah pantun kuno seperti Dadap Malang Sisi Cimandiri dan Ronggeng Tujuh Kalasirna, Sukabumi disebut sebagai tempat akhir perjalanan Putri Bungsu Prabu Suryakencana, yaitu Nyai Purnamasari, yang dikenal sebagai pewaris terakhir tahta Padjadjaran.
Dikisahkan, Nyai Purnamasari bersama suaminya Raden Kumbang Bagus Setra dan seorang abdi setia Rakean Kalang Sunda menempuh perjalanan panjang dari Pakuan Padjadjaran (Bogor) menuju selatan. Mereka melewati berbagai tempat yang kini menjadi wilayah Sukabumi seperti Gunung Salak, Kalapa Nunggal, Cidahu, hingga Simpenan.
Dalam pelarian itu, banyak peristiwa terjadi — mulai dari diserang harimau di Cidahu, diselamatkan dari ular di Cioray, hingga pertempuran sengit dengan pasukan Jaya Antea, sosok yang diceritakan sebagai pengkhianat Padjadjaran. Beberapa lokasi perjalanan mereka bahkan masih dikenal hingga kini, seperti Leuweung Datar, Padanyenyang, Bukit Panenjoan Cibadak, Cibungur Warungkiara, hingga Pasir Cisireum Bantargadung.
Tragisnya, Raden Kumbang Bagus Setra gugur di Gunung Jayanti, Palabuhanratu, saat melindungi istrinya yang tengah mengandung. Nyai Purnamasari kemudian melahirkan anaknya di Kampung Cidadap, tepi Sungai Cimandiri, wilayah Kecamatan Simpenan. Dari sinilah kisah baru dimulai — sang anak, Nyi Mayang Sagara Pamulangan, kelak membangun kerajaan kecil yang menjadi cikal bakal Palabuhanratu.
Hingga kini, berbagai petilasan yang disebut dalam pantun Padjadjaran masih menjadi bagian dari budaya dan kepercayaan masyarakat setempat. Seolah mengingatkan bahwa di balik alam Sukabumi yang elok, tersimpan kisah cinta, pengkhianatan, dan perjuangan dari masa keemasan Padjadjaran. (Demi Pratama Adiputra)








