SUKABUMISATU.com – Riuh rendah aksi ribuan guru madrasah yang mengepung Gedung DPR RI di Senayan Jakarta bukan sekadar angka atau deretan tuntutan di atas kertas. Di balik gelombang protes itu, ada wajah-wajah lelah para pendidik di akar rumput yang sedang memperjuangkan harga diri dan kelangsungan hidup keluarganya.
Salah satu potret nyata ironi pendidikan itu ada pada sosok Ubed Zubaedi (50), seorang guru madrasah asal Kampung Pasir Batok, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi.
Setumpuk Peluh di Luar Ruang Kelas
Bagi Pak Ubed, sapaan akrabnya, mengabdi sebagai guru madrasah selama 25 tahun adalah panggilan jiwa. Seperempat abad lamanya ia berdiri di depan kelas, menuntun moral dan mencerdaskan generasi bangsa. Namun, pengabdian panjang itu rupanya belum mampu memerdekakan ekonominya.
Setiap bulan, Pak Ubed hanya mengantongi honor sebesar Rp 525.000. Angka yang tentu jauh dari kata cukup untuk menghidupi keluarga besarnya yang terdiri dari 4 anak dan 11 cucu.
”Ya kalau ditanya harapan, kami ingin ada kejelasan status, minimal diangkat jadi PPPK atau ada peningkatan insentif yang layak. Selama ini kami mengajar dengan sukarela demi anak-anak bangsa, tapi dapur harus tetap ngebul,” cetus Pak Ubed getir, mengulangi jeritan hati yang juga disuarakan rekan-rekannya di Senayan.
Demi menyambung hidup dan memastikan belasan perut di rumahnya tetap terisi, baju batik gurunya langsung ditanggalkan setiap kali bel pulang sekolah berbunyi. Pak Ubed harus berganti peran menjadi buruh kasar kasar di kampungnya.
Pembuat Tungku: Ia memanfaatkan waktu luang untuk membuat tungku tanah tradisional pesanan warga.
Kuli Sabit Rumput: Menjelang sore, ia berjalan ke perbukitan menjadi kuli penyabit rumput untuk pakan ternak milik orang lain demi upah yang tak seberapa.
Menatap Atap Rumah yang Kian Miring
Penderitaan Pak Ubed tidak berhenti di urusan isi piring. Tempat bernaung keluarga besarnya di Pasir Batok kini kondisinya sangat memprihatinkan. Dinding-dinding kayu yang mulai lapuk dan struktur bangunan yang hampir roboh menjadi saksi bisu kecemasan mereka setiap kali hujan deras disertai angin kencang melanda wilayah Parakansalak.
Di rumah itulah, dengan gaji Rp 525 ribu ditambah hasil peluh menyabit rumput, Pak Ubed berkumpul bersama anak dan belasan cucunya.
”Kondisi di lapangan, khususnya untuk guru-guru honorer madrasah, ini sudah sangat memprihatinkan dari segi kesejahteraan,” ujar perwakilan sejawat Pak Ubed di Sukabumi saat melepas keberangkatan massa aksi ke Jakarta.
Asa dari Parakansalak untuk Senayan
Kisah Pak Ubed Zubaedi adalah satu dari ribuan alasan mengapa para guru madrasah di Sukabumi membulatkan suara untuk berangkat ke Jakarta. Mereka tidak sedang meminta kemewahan, melainkan kepastian status kepegawaian (PPPK) dan upah yang manusiawi.
Hingga Jumat sore, doa-doa terus mengalir dari rumah-rumah panggung di pelosok Sukabumi. Berharap ketukan pintu hati para wakil rakyat di DPR RI kali ini benar-benar didengar, agar guru-guru seperti Pak Ubed tidak perlu lagi membagi fokusnya antara mencerdaskan bangsa dan rasa cemas akan atap rumah yang sewaktu-waktu bisa ambruk.
Reporter: Suhendi Soex
Editor: Demi Pratama Adiputra








