CIKAKAK, SUKABUMI – Rencana besar pemanfaatan energi panas bumi (geothermal) di kawasan Cisolok-Cisukarame terus memantik sorotan kritis dari warga setempat. Proyek strategis nasional tersebut dinilai menyimpan bom waktu ekologis jika tidak dikawal ketat, terutama terkait ancaman menyusutnya sumber air bersih di wilayah Kecamatan Cikakak, khususnya Desa Cimaja dan Desa Cikakak.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Wilayah kaki gunung yang menjadi zona tangkapan air kini mulai bersinggungan dengan aktivitas eksplorasi fisik.
Hulu Terganggu, Desa di Hilir Terancam Kering
Tokoh Masyarakat Cikakak sekaligus Pembina Komunitas Rivera Sukabumi Usman Faqih, menegaskan bahwa masyarakat tidak berniat menentang program pembangunan energi terbarukan oleh pemerintah. Namun, ia mengingatkan bahwa jaminan kedaulatan air bagi warga lokal adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.
”Kami tidak anti-pembangunan atau investasi. Tapi pemerintah dan pengembang harus paham, sungai dan mata air di Cikakak ini adalah urat nadi kehidupan kami. Kalau aktivitas di hulu sampai mengganggu debit atau mencemari akuifer bawah tanah, Desa Cikakak dan Cimaja yang akan paling dulu merasakan dampaknya,” ujar Usman Faqih pada sukabumisatu.com Jumat, (22/05/2026).
Menurut Usman, sebagian besar warga di dua desa tersebut masih menggantungkan kebutuhan domestik dan sektor pertanian pada aliran sungai alami yang berhulu di kawasan hutan konservasi tersebut.
Rivera Sukabumi: Jangan Sampai Energi Bersih Bikin Air Bersih Habis
Senada dengan tokoh masyarakat, Ketua Rivera Sukabumi, Tios Ardian Gunawan, angkat bicara mengenai risiko ekologis jangka panjang dari proyek geothermal ini. Organisasi lingkungan yang bermarkas di Desa Cimaja, Cikakak ini menilai pengawasan AMDAL di lapangan sering kali longgar.
”Jangan sampai atas nama mengejar target ‘energi bersih’ di perut bumi, kita malah mengorbankan dan menghabiskan ‘air bersih’ di permukaan tanah. Dampak hidrologis dari pengeboran dalam itu nyata jalurnya. Begitu sistem hidrologi lokal terganggu, pemulihannya memakan waktu puluhan tahun,” tegas Tios Ardian Gunawan.
Tios menambahkan, Rivera Sukabumi akan terus mengawal dan bersikap kritis terhadap setiap tahapan proyek guna memastikan hak-hak ekologis masyarakat lokal tidak terpinggirkan oleh kepentingan korporasi.
Seruan Antisipasi Kekeringan Sejak Dini
Menyikapi potensi ancaman krisis air tersebut, Rivera Sukabumi tidak tinggal diam. Berangkat dari markas mereka di Cimaja, organisasi ini langsung meluncurkan gerakan moral untuk mengajak masyarakat bergerak aktif melakukan mitigasi mandiri.
Berikut adalah beberapa poin aksi yang diserukan Rivera Sukabumi kepada warga Desa Cimaja dan Cikakak:
Identifikasi dan Pemetaan Mandiri: Mengajak warga desa mendata kembali seluruh titik mata air aktif dan memantau fluktuasi debit airnya secara berkala.
Gerakan Menanam Pohon Pengikat Air: Menggalakkan penanaman vegetasi berakar dalam di sekitar sempadan sungai dan area resapan warga.
Memelihara Sanitasi Sumber Air: Menjaga kebersihan hulu sungai dari limbah domestik agar kualitas air tetap terjaga di tengah ancaman penyusutan debit.
”Kita tidak bisa hanya pasrah menunggu dampak itu datang. Antisipasi kekeringan harus dimulai dari sekarang, dari tingkat kedusunan. Memelihara sumber-sumber air yang tersisa saat ini adalah benteng pertahanan terakhir kita untuk menyelamatkan masa depan generasi Cikakak,” pungkas Tios.
Editor: Demi Pratama Adiputra








