SUKABUMISATU.com – Gelombang kenaikan harga kebutuhan pokok kembali menghantam masyarakat bawah. Di Pasar Semimodern Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (8/11/2025), harga sayuran dan sembako melonjak tajam. Pedagang mengeluh penjualan menurun, sementara pembeli makin kesulitan memenuhi kebutuhan harian.
Atang, pedagang sayuran yang biasa berjualan dari malam hingga pagi, mengaku kewalahan menghadapi kenaikan harga yang drastis. “Cabe sekarang sampai Rp65 ribu per kilo, sebelumnya cuma Rp35 ribu. Wortel juga naik dari Rp8 ribu jadi Rp16 ribu. Pembeli jadi sepi,” ujarnya dengan nada lesu.
Kondisi ini juga dirasakan langsung oleh warga. Tipa (30), ibu rumah tangga asal Nagrak, mengaku harus memutar otak agar dapur tetap ngebul.
“Sekarang semuanya naik, sementara penghasilan tetap segitu. Harapan saya semoga ekonomi cepat stabil, biar masyarakat bisa hidup normal lagi,” tuturnya.
Sementara itu, Dayat (60), pedagang sayuran lainnya, menilai kenaikan harga ini tak lepas dari program MBG yang digulirkan pemerintah. Menurutnya, kebijakan itu justru membuat harga-harga di pasar tradisional semakin tak terkendali.
“Harga ini bukan cuma naik, tapi berpindah harga. Pemilik Dapur MBG banyak belanja langsung ke suplier, bukan ke pasar tradisional. Akhirnya pedagang kecil yang kena imbas,” tegasnya.
Dayat menambahkan, pasar tradisional makin kehilangan pembeli, sementara keuntungan pedagang terus menipis.
“Kami cuma ingin harga kembali normal, biar rakyat kecil bisa belanja dan usaha kami tetap jalan,” harapnya.
Fenomena ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk meninjau ulang dampak program MBG terhadap ekonomi mikro. Di tengah gempuran kenaikan harga, pasar tradisional—yang seharusnya menjadi urat nadi ekonomi rakyat—justru mulai kehilangan denyutnya.
Reporter: Suhendi Soex
Editor: Demi Pratama Adiputra












