Dihantui Pergerakan Tanah, Jalan Makam Babakan Cibadak Terbelah: Warga Swadaya Menguruk, Berharap Relokasi Jalur

Pergerakan tanah di Kampung Babakan RT 01/07, Desa Karang Tengah, Kecamatan Cibadak. Kamis, (4/6/26).

CIBADAK, SUKABUMISATU.com – Bayang-bayang bencana geologi kembali menghantui warga Kabupaten Sukabumi. Kali ini, fenomena pergerakan tanah (soil creep) skala masif melanda Kampung Babakan RT 01/07, Desa Karang Tengah, Kecamatan Cibadak. Akibat intensitas hujan ekstrem yang mengguyur wilayah perbukitan tersebut, satu-satunya akses utama menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) warga terbelah hancur dan menciptakan celah menganga sedalam 4 meter. Kondisi ini memicu kecemasan sekaligus melumpuhkan mobilitas krusial masyarakat setempat.

​Peristiwa mencekam ini bermula pada malam Senin menjelang Hari Raya Idul Fitri lalu. Curah hujan yang tinggi menjenuhkan struktur tanah hingga batas kestabilan tertingginya runtuh. Dampaknya nyata: rekahan tanah sepanjang hampir 200 meter membentang, memutus total jalan setapak yang menjadi urat nadi warga menuju areal pemakaman leluhur mereka.

Ancaman Nyata di Bawah Pohon yang Bertahan

​Menurut kesaksian tokoh masyarakat setempat, Dede Suryana, kondisi geologis di lapangan saat ini sangat kritis dan memerlukan penanganan struktural segera dari dinas terkait. Retakan yang terjadi tidak hanya memanjang, namun juga melebar secara fluktuatif antara 50 hingga 60 centimeter dengan kedalaman rongga bawah tanah yang sangat membahayakan.

​”Kejadiannya malam Senin pas mau Lebaran kemarin, pak. Hujannya memang lebat sekali dan lama. Sekarang ini kondisi tanah amblesnya bervariasi, ada yang dalamnya sampai 4 meter dengan panjang retakan hampir 200 meter. Untungnya, pergerakan tanah saat ini masih tertahan oleh akar pepohonan di sekitar lokasi. Kalau tidak ada pohon-pohon itu, material tanah dipastikan sudah longsor menghantam area persawahan di bawahnya,” tutur Dede Suryana kepada SUKABUMISATU.com. Kamis, (4/6/26).

​Investigasi lapangan menunjukkan ancaman bencana sekunder masih mengintai kuat. Di bagian hilir lereng, saluran air atau selokan penting dilaporkan telah tertutup oleh material longsoran kecil. Jika volume air tersumbat saat hujan kembali turun, tekanan hidrostatis di dalam tanah akan meningkat tajam (pore water pressure) dan berpotensi memicu longsoran besar yang siap menyapu area persawahan dan pemukiman di bawahnya.

Baca Juga  Satpol PP Cibadak Gelar Patroli Ramadan, Tertibkan Warung yang Buka di Siang Hari

Satu Warga Sempat Terperosok, Peziarah Dihantui Rasa Ngeri

​Dampak sosial dan psikologis dari ketidakstabilan tanah ini sangat memukul psikologis warga Kampung Babakan. Nunung, salah seorang warga RT 01/07, mengungkapkan betapa vitalnya jalan yang kini hancur tersebut. Selain sebagai jalur evakuasi jenazah jika ada warga yang meninggal dunia, jalan ini merupakan rute utama tradisi ziarah kubur yang rutin memuncak setiap hari Jumat dan selama momentum Idul Fitri.

​”Jalan ini satu-satunya akses kalau ada warga yang meninggal atau mau ziarah. Waktu Lebaran kemarin, banyak saudara dari luar daerah yang datang dan mereka ketakutan, ngeri melihat kondisinya yang sudah terbelah begitu. Kami sangat khawatir, apalagi selokan di atas juga airnya bisa meluap ke sawah di bawah kalau terjadi longsor susulan,” keluh Nunung dengan nada cemas.

​Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Dede Suryana membeberkan bahwa jalur berbahaya tersebut sudah memakan korban. Seorang warga dilaporkan sempat terperosok ke dalam lubang rekahan tanah sedalam kurang lebih 2 meter saat melintas. Beruntung, korban berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Namun, insiden ini menjadi alarm keras bahwa lokasi tersebut sudah masuk dalam zona bahaya tinggi yang tidak layak dilewati manusia.

Mengapa Pergerakan Tanah Terjadi dan Bagaimana Menghadapinya?

Akar Masalah Geologis: Wilayah perbukitan Cibadak umumnya memiliki lapisan tanah pelapukan yang tebal di atas batuan dasar yang kedap air. Saat hujan lebat berdurasi panjang, air meresap dan menumpuk di atas batuan kedap tersebut, bertindak sebagai ‘pelumas’ sekaligus menambah bobot massa tanah. Akibat gaya gravitasi, tanah di atasnya akan mulai bergeser (sliding).

Baca Juga  Milad ke-35 YKPA Ad-Da’wah, Meriah dengan Bazar Murah dan Santunan Yatim

​Tanda-Tanda Awal yang Harus Diwaspadai: 1. Munculnya retakan kecil atau retakan rambut berbentuk tapal kuda di permukaan tanah atau dinding rumah.

2. Tiang listrik, tiang telepon, atau pepohonan sekitar yang mulai miring secara mendadak.

3. Air sumur warga atau mata air lokal mendadak berubah menjadi keruh.

​Langkah Tindakan Darurat Swadaya: Warga diimbau segera menutup dan memadatkan rekahan tanah menggunakan tanah lempung (tanah liat) agar air hujan tidak kembali masuk meresap ke dalam sistem rekahan. Selain itu, alihkan aliran air permukaan agar tidak mengalir langsung menuju zona rekahan.

Tuntutan Relokasi: Menanti Respons Cepat Pemdes dan Pemkab Sukabumi

​Menghadapi kelumpuhan akses ini, warga Kampung Babakan telah bergerak melakukan gotong royong darurat secara swadaya. Di bawah koordinasi Ketua RT dan RW, rongga-rongga tanah yang menganga diuruk sekadarnya menggunakan material lokal demi meminimalisir risiko jatuhnya korban baru.

​Kendati demikian, opsi perbaikan atau pengaspalan ulang di jalur yang sama dinilai para ahli geologi sangat berisiko tinggi dan tidak berkelanjutan (sustainable), mengingat struktur tanahnya telah mengalami diskontinuitas (patah). Solusi jangka panjang yang paling rasional adalah pengalihan rute atau relokasi jalur ke area yang memiliki batuan dasar jauh lebih stabil.

​Kini, warga mengetuk pintu hati Pemerintah Desa Karang Tengah, pihak Kecamatan Cibadak, hingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi agar segera mengambil langkah konkret. Pengadaan lahan baru untuk jalan alternatif darurat sudah menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda.

Baca Juga  Innalillahi! Dua Rumah Hangus Terbakar di Cibadak Sukabumi

​”Kami sudah berkoordinasi dengan RT, RW, dan pihak desa agar warga tidak memaksakan lewat jalan lama karena taruhannya nyawa. Harapan kami saat ini, mohon kepada pihak pemerintah atau dinas terkait untuk bisa membantu pengadaan lahan baru. Kami butuh jalur alternatif dengan lebar sekitar 1,5 meter dan panjang 100 meter demi memindahkan akses jalan ke tempat yang aman. Ini urusan pemakaman warga, sifatnya darurat dan tidak bisa ditunda kalau ada yang meninggal dunia,” tegas Dede Suryana mengakhiri pembicaraan.

​Hingga berita ini diturunkan, jurnalis SUKABUMISATU.com masih terus berupaya melakukan konfirmasi lanjutan kepada pihak Pemerintah Desa Karang Tengah dan BPBD Kabupaten Sukabumi terkait rencana kontinjensi serta solusi penyediaan lahan alternatif bagi masyarakat Kampung Babakan yang kini terancam terisolasi dari pemakaman leluhur mereka.

Reporter: Suhendi Soex

Editor: Demi Pratama Adiputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *