CISOLOK, SUKABUMISATU.com – Setahun sudah berlalu sejak tanah di bawah kaki warga Kampung Citiis, Desa Gunung Keramat, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, mulai bergeser dan meretakkan asa mereka. Namun, hingga detik ini, janji manis relokasi dari pemerintah daerah seolah hanyut terbawa air hujan.
Lelah menunggu kepastian yang tak kunjung datang, warga akhirnya memilih berhenti berharap pada “uluran tangan” birokrasi. Mereka bergerak sendiri, bergotong-royong membangun hunian baru dengan modal keringat dan udunan (iuran) swadaya.
Janji yang Menguap di Gunung Keramat
Masih segar di ingatan warga saat Bupati Sukabumi, Marwan Hamami, datang berkunjung sesaat setelah bencana pergerakan tanah melanda pada Desember 2024 lalu. Kala itu, di hadapan warga yang tengah berduka, pernyataan tegas untuk segera merelokasi warga terlontar sebagai angin segar.
Namun, memasuki awal 2026, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik. Sebanyak 36 Kepala Keluarga (KK) yang terdiri dari 121 jiwa sempat terombang-ambing tanpa kejelasan.
”Di hadapan warga yang kena bencana, bilangnya akan segera melaksanakan renovasi atau relokasi, tapi janji Bupati sampai saat ini tidak terbukti. Warga menilai ini hanya PHP (Pemberi Harapan Palsu),” cetus Kepala Desa Gunung Keramat, Subaeta, dengan nada kecewa. Rabu, (14/01/26).
Gotong Royong Melawan Pengabaian
Bencana tersebut memang tidak main-main. Tanah anjlok hingga kedalaman 3 meter, jalan desa terbelah, dan 29 unit rumah rusak parah hingga tak layak huni. Hasil kajian geologi pun sudah menyatakan kawasan tersebut zona merah.
Karena tak tahan melihat warganya menumpang di rumah tetangga selama lebih dari setahun, Pemerintah Desa bersama warga akhirnya mengambil langkah nekat: Relokasi Mandiri.
Tanpa bantuan sepeser pun dari anggaran Pemda Kabupaten maupun Provinsi, warga bahu-membahu. Ibu-ibu hingga para pemuda turun tangan mengangkut material bangunan demi mewujudkan hunian yang aman.
- Total Terdampak: 29 Rumah (36 KK / 121 Jiwa).
- Kondisi Lahan: Tanah anjlok 3 meter, infrastruktur jalan hancur.
- Status Relokasi: Murni swadaya warga dan gotong royong warga desa.
Kekecewaan senada juga diungkapkan oleh Asep warga setempat yang merasa prihatin atas nasib tetangganya. Ia menyebut janji pemerintah seolah hanya menjadi penenang sesaat tanpa realisasi nyata.
“Kasihan warga, sudah lebih dari setahun nasibnya tidak jelas. Harapan kami segera ditangani pusat atau provinsi kalau memang kabupaten sudah tidak sanggup,” sindirnya.
Mandirinya warga Citiis ini menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Di saat anggaran daerah dialokasikan untuk berbagai program, warga korban bencana justru harus “bongkar celengan” sendiri untuk sekadar memiliki tempat berteduh yang aman dari ancaman longsor.
Kini, pondasi bangunan mulai berdiri di lahan relokasi baru. Bukan karena bantuan pemerintah, melainkan karena solidaritas rakyat yang menolak menyerah pada janji-janji yang tak ditepati.
Editor: Demi Pratama Adiputra









