SUKABUMISATU.COM, BANTARGADUNG – Harapan puluhan warga Kampung Cihurang RT 01 RW 07, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, kian menipis. Di tengah ancaman bencana pergerakan tanah yang terus menghantui, kepastian relokasi dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi tak kunjung terealisasi.
Bencana yang mulai terdeteksi sejak 2022 ini telah berubah menjadi ancaman nyata yang mengerikan. Jika awalnya hanya berupa retakan kecil, kondisi di tahun 2024 memburuk secara drastis hingga merusak puluhan rumah. Ironisnya, hingga memasuki April 2026, warga merasa hanya diberi harapan palsu lewat rentetan survei tanpa eksekusi.
“Awalnya tahun 2022 belum terlalu parah. Tapi kejadian lagi tahun 2024 makin besar dampaknya. Sampai sekarang belum ada kepastian relokasi,” ujar Jamal (37), salah seorang warga terdampak kepada sukabumisatu.com, Senin (27/4/2026).
35 Rumah Terdampak, Lahan Ada Tapi Tak Mampu Bangun
Berdasarkan data yang dihimpun, sedikitnya 35 unit rumah terdampak pergerakan tanah, di mana 25 unit di antaranya mengalami kerusakan berat. Situasi ini memaksa warga hidup dalam ketakutan. Sebagian bertahan di bangunan yang nyaris ambruk, sementara lainnya mengungsi ke rumah kerabat.
Jamal mengungkapkan, sebenarnya sudah ada titik terang mengenai lahan relokasi yang berlokasi di kawasan PT Citimu. Namun, lahan kosong tetaplah lahan kosong jika tidak ada bantuan pembangunan fisik dari pemerintah.
“Harapan kami sekarang sederhana, relokasi segera dibangun. Tidak harus langsung sempurna, yang penting ada kepastian. Kami juga ingin Bupati Sukabumi, Asep Japar, turun langsung melihat kondisi kami,” tegas Jamal.
Bertaruh Nyawa di Zona Merah
Pantauan di lapangan menunjukkan potret getir warga yang tak punya pilihan. Sekitar lima Kepala Keluarga (KK) masih nekat bertahan di zona merah meski nyawa menjadi taruhannya.
“Yang masih bertahan ada lima rumah. Mereka juga ingin pindah, tapi tidak tahu harus ke mana,” tambahnya.
Kecemasan serupa dirasakan Ujang (55). Baginya, hujan bukan lagi berkah, melainkan sinyal bahaya yang membuatnya sulit memejamkan mata.
“Kalau hujan, warga selalu waswas. Kadang tanah terasa bergerak, tembok rumah juga pernah ambruk. Relokasi sudah ada lahannya, tapi untuk bangun rumah warga tidak punya biaya. Jadi masih menunggu bantuan,” pungkas Ujang.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah. Warga Cihurang tidak butuh lagi wacana atau sekadar pendataan ulang. Mereka butuh kehadiran nyata pemerintah sebelum pergerakan tanah benar-benar menelan korban jiwa.
Reporter: Mawaldi
Editor: Demi Pratama Adiputra






