SUKABUMISATU.com – Politik Indonesia hari ini bukan lagi panggung kompetisi, melainkan sebuah laboratorium bedah. Di balik tirai transparansi, ada “tangan dingin” yang sedang sibuk melakukan amputasi dan cangkok kekuasaan secara masif. Senayan tidak sedang menunggu hasil pilihan rakyat; Senayan sedang didesain ulang untuk memastikan hanya suara-suara “jinak” yang boleh menggema di bawah kubah hijau.
1. Bayi Tabung Politik dan Karpet Merah Kekuasaan
Fenomena munculnya pendatang baru yang tiba-tiba berotot bukan karena latihan beban di akar rumput, melainkan hasil steroid logistik dan injeksi kekuasaan. Ini adalah “partai bayi tabung”—diciptakan di ruang steril, diberi nutrisi tak terbatas dari lingkar dalam, dan disiapkan untuk menggusur penghuni lama.
Ini bukan pertumbuhan organik, melainkan rekayasa genetika politik. Kursi di Senayan adalah zero-sum game; hadirnya “sang anak emas” menuntut tumbal. Dan tumbalnya adalah mereka yang dianggap terlalu vokal atau sudah tidak lagi dalam satu frekuensi kepentingan.
2. Teror Ambang Batas: Genosida Partai Menengah
Wacana kenaikan Parliamentary Threshold (PT) menjadi 6-8% adalah instrumen genosida politik yang dibungkus dengan eufemisme “stabilitas sistem”. Menggunakan dalih putusan MK untuk mempersempit pintu masuk adalah bentuk pembangkangan konstitusi yang halus namun mematikan.
Angka 8% bukan sekadar filter, melainkan pagar berduri yang dirancang untuk membunuh partai menengah secara sistematis. Jika ini gol, demokrasi kita akan berubah dari pasar ide menjadi kartel elit. Stabilitas yang mereka janjikan sebenarnya adalah kesunyian makam—tidak ada kritik, tidak ada oposisi, hanya ada orkestra persetujuan yang membosankan.
3. Trilogi Biru: Dari Pragmatisme hingga Penjajahan Citra
Nasib tiga entitas “biru” saat ini adalah cermin betapa brutalnya politik pembersihan:
Si Oposan yang Menyerah: Mereka yang dulu garang kini berubah menjadi “pencari suaka politik”. Demi napas tambahan, mereka rela menanggalkan ideologi dan menjadi dayang-dayang kekuasaan. Strategi survival ini adalah pengakuan bahwa hukum dan etika sudah kalah oleh ancaman eksistensial.
Kanibalisme Struktur: Partai kedua tidak hanya dihadapi sebagai lawan, tapi sedang dihancurkan secara molekuler. Kader mereka dipreteli, lumbung suaranya “dirampok”, dan strukturnya dibuat lumpuh dari dalam. Ini bukan persaingan, ini adalah hostile takeover.
Pembunuhan Karakter Masif: Bagi partai ketiga, senjatanya adalah stigma. Mereka tidak dihancurkan dengan uang, tapi dengan polusi opini. Narasi kebencian disuntikkan secara periodik agar pemilih merasa “berdosa” jika mencoblos mereka.
Demokrasi Tanpa Kedaulatan
Kita sedang menuju era Demokrasi Terpimpin Jilid Baru. Jika peta 2029 sudah dikunci di ruang-ruang gelap melalui kombinasi kenaikan PT dan operasi senyap, maka Pemilu hanyalah sekadar seremoni kosmetik.
Rakyat hanya disodorkan kertas suara yang pilihannya sudah “disaring” oleh koki kekuasaan. Pertanyaannya: Apakah kita akan tetap menjadi penonton yang patuh, atau menyadari bahwa kedaulatan kita sedang dibonsai sebelum sempat tumbuh?
Penulis: Demi Pratama Adiputra









