SUKABUMISATU.COM, JAMPANGKULON — Anggota Komisi VII DPR RI, Iman Adinugraha, menggelar sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi, Senin (11/5/2026).
Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama Kelompok Hutan Hanjuang Selatan dengan menghadirkan Asep Abdul Wasid sebagai narasumber.
Sosialisasi ini merupakan bagian dari tugas anggota MPR RI dalam memperkuat pemahaman masyarakat terhadap empat konsensus dasar berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam sambutannya, Iman Adinugraha menegaskan pentingnya Empat Pilar sebagai fondasi utama dalam menjaga keutuhan bangsa.
“Saya sebagai anggota MPR RI melaksanakan sosialisasi ini di Dapil Jabar VI, tepatnya di Jampang Kulon. Sebagai bangsa, kita harus tetap kuat dan bersatu dengan memahami dan mengamalkan Empat Pilar,” ujarnya.
Dalam sesi dialog, warga menyampaikan aspirasi terkait kondisi infrastruktur jalan nasional di wilayah selatan Sukabumi yang dinilai masih banyak mengalami kerusakan pascabencana.
Menanggapi hal tersebut, Iman menyatakan komitmennya untuk mendorong pembangunan di wilayah Pajampangan, termasuk perbaikan akses jalan.
“Saya memiliki keinginan kuat membangun Pajampangan, apalagi ini tanah leluhur saya. Insyaallah, meski saat ini saya belum berada di Komisi Infrastruktur, doakan saya dapat bertugas di sana ke depan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa perbaikan infrastruktur jalan menjadi kunci dalam mengoptimalkan potensi daerah, khususnya sektor pariwisata di selatan Sukabumi.
“Jika diberi amanah di Komisi Infrastruktur, saya akan fokus membenahi akses jalan karena Pajampangan memiliki potensi yang sangat besar,” tambahnya.
Iman juga menilai bahwa potensi pariwisata di wilayah selatan belum tergarap maksimal akibat keterbatasan akses dan infrastruktur yang belum memadai.
Melalui kegiatan ini, ia berharap nilai-nilai Empat Pilar dapat diinternalisasi masyarakat dalam menjaga persatuan serta mendorong pengelolaan potensi daerah secara berkelanjutan.
Acara ditutup dengan dialog interaktif yang melibatkan tokoh masyarakat, petani hutan, dan perwakilan pemuda setempat.










