SUKABUMISATU.com – Di tengah gencarnya program pemerintah yang bertajuk Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah, insiden mengkhawatirkan terjadi di Desa Cipamingkis, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi. Sebanyak 32 siswa-siswi dari beberapa kampung dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah mengalami gejala yang mengarah pada keracunan massal.
Kejadian bermula pada Rabu, 6 Agustus 2025. Beberapa anak dari Kampung Tugu mengeluhkan mual dan muntah usai pulang sekolah. Tak lama, laporan serupa berdatangan dari kampung lain seperti Cikadu, Ciawitali, hingga Pasir Malang. Hingga malam hari, total ada 32 anak mengalami gejala mencurigakan: mual, muntah, diare, demam, sakit perut dan lemas.
Kejadian Terjadi Usai Pembagian MBG
Berdasarkan penelusuran tim SUKABUMISATU.com, sehari sebelum kejadian, program Makanan Bergizi Gratis digelar di beberapa titik sekolah dasar di wilayah Cipamingkis. MBG ini merupakan bagian dari program unggulan untuk penanggulangan stunting dan peningkatan gizi anak.
Namun, tidak ada informasi yang transparan mengenai pihak penyedia makanan, bahan baku yang digunakan, maupun standar distribusi dan pengecekan kelayakan konsumsi.
Salah satu orang tua siswa yang anaknya mengalami gejala mual dan diare, (inisial N, warga Kampung Tugu) mengatakan bahwa anaknya makan nasi dan lauk pauk dari sekolah. “Katanya makanan gratis dari pemerintah. Tapi siangnya langsung muntah-muntah dan badannya lemas,” ungkapnya.
Minim Pengawasan, Distribusi Makanan Tak Diawasi Puskesmas?
Investigasi kami mengungkap, tidak ada keterlibatan langsung tenaga medis dalam pengecekan kualitas makanan sebelum dibagikan. Hal ini diamini Kepala Puskesmas Cidolog, Cepi Hermansyah, SKM, yang menyatakan bahwa pihaknya hanya melakukan penanganan medis setelah kasus mencuat.
“Kami baru turun setelah laporan masuk. Langkah pertama tentu melakukan pemeriksaan gejala, pemberian obat, dan edukasi. Sampel makanan dan air sudah kami kirim ke Labkesda,” jelas Cepi pada wartawan.
Artinya, rantai distribusi MBG nyaris tanpa pengawasan medis, dan ini bisa menjadi celah kelalaian dalam penyediaan makanan untuk anak-anak usia sekolah.
Diduga Ada Kelemahan di Pengadaan atau Prosedur Sanitasi
Pakar kesehatan lingkungan yang kami hubungi, menyebut bahwa keracunan massal bisa berasal dari makanan yang tidak disimpan dalam suhu aman, atau air yang digunakan untuk memasak tidak steril. Protokol standar seharusnya mengharuskan penyedia MBG untuk menyimpan makanan di suhu di bawah 5°C atau di atas 60°C bila tidak langsung disajikan, guna mencegah pertumbuhan bakteri.
Namun sejauh ini belum ada satupun pihak penyedia makanan yang dimintai keterangan resmi atau dimunculkan ke publik.

Siapa yang Bertanggung Jawab?
Tidak ada kejelasan dari pemerintah desa maupun kecamatan siapa penyedia katering program MBG di Cidolog. Bahkan, Camat Cidolog saat dihubungi melalui sambungan telepon oleh tim SUKABUMISATU.com tidak memberikan keterangan resmi.
Padahal, program MBG merupakan kegiatan yang menyangkut ribuan anak sekolah dan digulirkan dengan dana negara.
Jika benar keracunan ini bersumber dari makanan yang didistribusikan secara massal, maka kasus ini bukan hanya soal kesalahan teknis, tapi bisa masuk ranah kelalaian sistemik.
Menunggu Hasil Lab, Tapi Jangan Biarkan Kasus Ini Tenggelam
Hingga kini, hasil laboratorium dari sampel makanan dan air belum keluar. Tapi publik perlu mendesak transparansi dari pemerintah daerah, dinas pendidikan, dan dinas kesehatan. Jangan sampai kasus ini dilupakan begitu saja, sementara ratusan anak lainnya masih terus mengonsumsi makanan dari program serupa.
Satu nyawa mungkin tidak melayang dalam insiden ini, tapi kepercayaan publik terhadap program negara bisa rusak bila tak ada akuntabilitas yang jelas.
Reporter: Maulana
Editor: Demi Pratama Adiputra










