Kirab Mahkota Binokasih 2026: Menelusuri Jejak Sejarah dari Jampang hingga ke Jantung Galuh

Mahkota Binokasih, Sumber: Ki Kamaludin Pranamanggala

SUKABUMISATU.com – Persiapan perhelatan budaya kolosal Kirab Mahkota Binokasih (Makuta Binokasih) semakin matang. Agenda yang dijadwalkan berlangsung pada awal Mei 2026 ini bukan sekadar pawai biasa, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan historis untuk memperkuat kembali identitas budaya Sunda di tengah perkembangan zaman.

​Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkapkan bahwa rangkaian kirab ini diharapkan menjadi momentum kebahagiaan bagi masyarakat, khususnya di wilayah Ciamis dan Tasikmalaya, sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda tentang kekayaan tradisi lokal.

Rute Kirab: Kawali hingga Kampung Naga

​Berdasarkan informasi terkini, prosesi kirab akan dimulai pada Minggu, 3 Mei 2026. Titik awal pemberangkatan dimulai dari Alun-alun Kawali menuju kawasan bersejarah Astana Gede Kawali pada pukul 19.30 WIB.

Baca Juga  Dedi Mulyadi Mundur dari Golkar, Bupati Marwan: Oh Atoh Ari Saya Mah

​Keesokan harinya, Senin, 4 Mei 2026, kirab akan melanjutkan perjalanan dari Lapang Kawalu menuju Kampung Naga, sebuah kampung adat di Tasikmalaya yang hingga kini masih teguh memegang mandat tradisi leluhur.

Kebanggaan Jampang: “Rahim” Sang Mahkota

​Di balik kemeriahan kirab yang melintasi jalur Galuh tersebut, terdapat fakta sejarah yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Sukabumi. Berdasarkan naskah kuno Carita Parahiyangan, Mahkota Binokasih sejatinya memiliki keterikatan batin dengan wilayah Jampang.

​Sosok pembuat mahkota sakral ini adalah Batara Guru di Jampang, yang tak lain merupakan julukan bagi Prabu Bunisora Suradipati (Raja Galuh periode 1357-1371). Dalam naskah tersebut dijelaskan:

Baca Juga  Maut Mengintai di Leuwi Pariuk: Fondasi Tergerus, Warga Sekarwangi-Tenjo Jaya 'Bertaruh Nyawa' Setiap Hari

​”Batara Guru di Jampang ma, inya nu nyieun ruku Sanghiyang Pake, basa nu wastu dijieun ratu.”

(Batara Guru di Jampang-lah yang membuat mahkota Sanghyang Pake, saat yang sebenarnya diangkat menjadi raja).

​Mahkota yang kini tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang ini merupakan simbol kebijaksanaan dan legitimasi kekuasaan para raja Sunda, mulai dari era Galuh hingga Pakuan Pajajaran.

​Meskipun rute kirab kali ini belum melintasi wilayah Sukabumi secara langsung, nilai filosofis yang dibawa—bahwa simbol kebesaran Sunda “lahir” dari kearifan tokoh dari Jampang—menjadi pengingat penting akan kontribusi besar Sukabumi dalam peta sejarah Jawa Barat.

​”Semoga seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan membawa keberkahan bagi kebersamaan masyarakat Sunda,” ujar Gubernur Dedi Mulyadi dalam pesan tertulisnya.

Baca Juga  Penertiban PETI di TNGHS Dinilai Terlambat: Kerusakan Hutan Halimun Salak Sudah Memicu Ancaman Bencana Besar

Editor: Demi Pratama Adiputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *