SUKABUMISATU.com – Sejarah Nusantara selalu menyimpan misteri yang tak habis digali. Dari catatan mitologi, cerita rakyat, hingga temuan arkeologi, benang merah tentang peradaban tua di bumi Pasundan kerap muncul dan memancing rasa ingin tahu. Salah satu yang menarik adalah gagasan Alm. Dicky Zainal Arifin dalam novel triloginya Arkhytirema.
Dicky, lebih dikenal dengan sapaan Kang Dicky, bukan hanya seorang penulis, tetapi juga tokoh penting dalam dunia bela diri. Ia adalah Guru Utama sekaligus pendiri Lembaga Seni Bela Diri Hikmatul Iman Indonesia (LSBD HI) yang dipimpinnya selama 27 tahun. Pada April 2016, LSBD HI kemudian bertransformasi menjadi wadah yang lebih global dengan nama Lanterha The Lemurian Meditation.
Dalam karya dan pemikirannya, Kang Dicky menyisipkan pandangan berani: nenek moyang urang Sunda berasal dari bangsa Lemurian. Dalam kisahnya, Lemurian digambarkan sebagai bangsa yang sangat maju, bahkan menjadi role model umat manusia sealam semesta. Mereka berbahasa Sunda, dan beberapa kosakata Lemurian diyakini masih hidup hingga kini, seperti kata nuhun untuk “terima kasih”.
Menurut Dicky, bangsa Lemurian terbiasa berinteraksi dengan peradaban dari galaksi lain. Bahkan, beberapa cerita rakyat Sunda seperti kisah Nini Anteh yang pergi ke bulan, ia tafsirkan sebagai jejak teknologi purba bangsa Nirranthea, yang dipercaya sebagai pengembang satelit bumi. Dicky menyebut bulan bukan benda alami, melainkan hasil rekayasa teknologi yang kemudian tertutup lapisan tanah akibat tumbukan asteroid selama jutaan tahun.
Dalam versinya, kerajaan pertama di Nusantara adalah Salaksanagara dengan raja agung bernama Arkhytirema, jauh sebelum era Neolitikum. Versi ini berbeda dengan sejarah umum yang mencatat Salakanagara berdiri tahun 130 Masehi dengan rajanya Aki Tirem. Meski demikian, keduanya sama-sama diyakini sebagai cikal bakal lahirnya Tarumanagara.
Dicky juga menyinggung jejak Lemurian yang berhubungan erat dengan India dan Tiongkok, sebelum akhirnya hancur oleh serangan bangsa Atlantean. Kisah ini bersinggungan dengan catatan Plato tentang Atlantis, peradaban besar yang tenggelam sekitar 10.000 SM setelah banjir besar Nabi Nuh. Menariknya, baik Dicky maupun sejumlah peneliti modern seperti Prof. Arysio Santos sama-sama berkeyakinan bahwa Atlantis tak lain berada di kawasan Nusantara.
Namun muncul satu pertanyaan besar: jika Lemurian begitu unggul dalam teknologi, mengapa mereka bisa runtuh di tangan bangsa Atlantis yang dianggap kurang canggih?
Gunung Padang: Bukti Ilmiah Peradaban Purba Nusantara
Pandangan Dicky mungkin terdengar spekulatif. Namun di sisi lain, penelitian ilmiah di Situs Gunung Padang, Cianjur, justru memperkuat gagasan bahwa Nusantara pernah menjadi pusat peradaban dunia.
Arkeolog Ali Akbar mengungkapkan, struktur di Gunung Padang bukan sekadar tumpukan batu, melainkan piramida berlapis yang usianya mencapai ribuan tahun. Lapisan permukaan diperkirakan berusia 500 Masehi. Empat meter di bawahnya ditemukan bangunan berusia 500 SM, dan lapisan terdalam diperkirakan mencapai 5.200 SM. Bahkan ada indikasi bahwa usia paling dasar bisa mencapai 9.000 tahun, menjadikannya piramida tertua di dunia—lebih tua dari peradaban Sumeria di Mesopotamia.
“Masih banyak misteri yang belum terungkap, mulai dari dugaan adanya ruangan di bawah struktur bangunan, usia paling dasar, hingga hilangnya peradaban maju yang membangun situs ini. Kami berharap melalui pemugaran, misteri itu bisa terkuak,” ujar Ali Akbar.
Lemurian, Atlantis, dan Warisan Nusantara
Dua sudut pandang ini, mitologi ala Arkhytirema dan penelitian arkeologi Gunung Padang, seakan menyatu dalam satu benang merah: Nusantara bukan sekadar kepulauan, melainkan pusat peradaban dunia purba.
Apakah benar bangsa Lemurian pernah hidup di tanah Sunda? Apakah Atlantis yang diceritakan Plato sebenarnya berada di bumi Nusantara? Atau mungkinkah Gunung Padang adalah sisa kejayaan bangsa yang hilang ribuan tahun lalu?
Misteri ini belum sepenuhnya terjawab. Namun satu hal jelas: sejarah Nusantara menyimpan jejak peradaban besar yang menunggu untuk terus digali, diperdebatkan, dan mungkin suatu hari nanti… diakui dunia.
Oleh: Demi Pratama Adiputra
Sumber: Buku “Arkhytirema”









