Kisah Inspiratif Abah Sarnuh: Tolak Menyerah pada Gelap, Kakek 80 Tahun di Caringin Sukabumi Sulap Aliran Air Jadi “PLN” Mandiri

Pembangkit Listrik Sederhana rakitan Abah Sarnuh, di Kampung Pasirdatar, Sukamulya Kecamatan Caringin.

SUKABUMISATU.com — Usia senja nyatanya bukan alasan untuk berpangku tangan. Di usianya yang telah menginjak 80 tahun, Abah Sarnuh, seorang petani lansia asal kawasan Kontrak Pasirdatar, Desa Sukamulya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, membuktikan bahwa kreativitas bisa lahir dari rahim keterbatasan.

​Di tengah minimnya akses infrastruktur di wilayah terpelosok, kakek tangguh ini berhasil menciptakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) mandiri secara sederhana. Berkat inovasinya, aliran air kini menjelma menjadi cahaya yang menerangi dua rumah dan sebuah musala tanpa harus bergantung pada jaringan PLN. Hebatnya lagi, listrik ini bisa dinikmati setiap malam tanpa biaya sepeser pun.

Lahir dari Mahalnya Biaya Tarik Kabel PLN

​Ide cemerlang ini bermula dari kepungan kesulitan. Saat pertama kali merintis lahan pertanian dan menetap di Pasirdatar pada 1998 silam, malam-malam Abah Sarnuh hanya diterangi temaram lampu petromaks.

​Ujian datang ketika minyak tanah mulai langka pada tahun 2007. Saat itu, harapan untuk mendapat penerangan modern sebenarnya ada. Jaringan listrik PLN sempat ditawarkan ke kampungnya. Namun, karena lokasi rumahnya yang terlampau jauh dari jaringan utama, ia diwajibkan menyuplai 32 rol kabel sendiri yang saat itu ditaksir menelan biaya hingga Rp3,2 juta.

Baca Juga  Dari Penerima Bantuan PKH Jadi Konten Kreator, Lastri Warga Tenjojaya Sukabumi Kini Mandiri "Panen" Rupiah

​Bagi seorang petani biasa, angka itu teramat besar. Ditambah lagi, ia harus menanggung sendiri risiko kerusakan dan biaya perawatan kabel yang membentang jauh.

​”Saya kan bukan orang bergaji. Kalau pakai mesin diesel juga harus rutin beli solar atau bensin. Akhirnya, uang Rp3,2 juta itu saya pakai pergi ke Kota Sukabumi untuk beli dinamo dan alat-alat lainnya. Dari situ saya buat kincir air. Alhamdulillah, sampai sekarang tidak pernah mengeluarkan biaya listrik lagi,” tutur Abah Sarnuh dengan raut bangga. Senin, (22/06/2026).

​Secara teknis, inovasi Abah Sarnuh bekerja dengan prinsip sederhana. Aliran air sungai digunakan untuk memutar kincir. Putaran kincir ini kemudian menggerakkan kumparan di dalam dinamo hingga menghasilkan energi listrik yang langsung dialirkan melalui kabel-kabel ke rumah dan musala.

Terbatasnya Daya dan Tantangan Musim Hujan

​Meski mandiri dan gratis, Abah Sarnuh tak menampik bahwa listrik ciptaannya memiliki banyak keterbatasan. Pembangkit listrik tenaga air ini utamanya difungsikan untuk penerangan di malam hari, di mana volume arusnya bisa ia atur sendiri.

Baca Juga  Aktivis PASMI Soroti Status Penguasaan Tanah Pemda di Cimenteng Cikembar

​Namun, di luar penerangan, daya yang dihasilkan tidaklah besar. Listrik ini belum mampu menopang kebutuhan alat elektronik modern warga.

​”Ya bedanya kalau malam hari itu agak terang sedikit lah. Tapi kalau siang hari kelihatannya kaya redup. Daya ini nggak kuat kalau dipakai buat ngecas HP, apalagi untuk menyalakan TV. Jadi memang khusus masalah penerangan saja,” jelas Abah Sarnuh jujur.

​Selain itu, ujian terbesar bagi kincir airnya bukan datang saat kemarau, melainkan di musim penghujan. Hujan deras dan banjir kerap merusak saluran air serta kolam penampung yang menjadi urat nadi penggerak kincirnya. Jika sudah begitu, di usianya yang tak lagi muda, Abah Sarnuh harus turun tangan memperbaiki kerusakannya secara mandiri agar rumahnya kembali benderang.

Asa Terang untuk Infrastruktur Desa

​Di balik temaram lampu kincir airnya, Abah Sarnuh menyimpan harapan yang lebih terang untuk kampung halamannya. Sebagai petani yang puluhan tahun hidup di sana, ia sadar bahwa penerangan rumah saja tidak cukup untuk memajukan desanya.

​Ada kerinduan mendalam akan hadirnya campur tangan pemerintah untuk menyentuh infrastruktur dasar di kawasan Kontrak Pasirdatar.

Baca Juga  Dimakamkan, Jenazah Atta dan Istrinya Pasutri Yang Ditemukan Meninggal di Dalam Rumahnya

​”Harapannya sih pengin jalan di sini dibenarin (diperbaiki), terus pengin dipasang lampu penerangan jalan juga. Kalau infrastrukturnya bagus, ekonomi warga di sini juga pasti akan ikut lancar,” pungkasnya penuh harap.

​Kisah Abah Sarnuh adalah potret ketangguhan warga pelosok Sukabumi. Ia tak menunggu gelap berlalu, melainkan menciptakan cahayanya sendiri, sembari terus berharap akan datangnya pemerataan pembangunan yang seutuhnya.

Reporter: Suhendi Soex

Editor: Demi Pratama Adiputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *