Lahan Mengering Dampak Kemarau, Tim Gabungan Cidolog Sisir Titik Rawan dan Minta Warga Waspada Karhutla

Forkopimcam Cidolog saat lakukan patroli Karhutala musim kemarau. Rabu, (12/08/2026).

SUKABUMISATU.com, Cidolog — Guna meminimalisasi risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di tengah paparan musim kemarau, jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkompimcam) Cidolog menggelar patroli gabungan pada Rabu (12/8/2026). Patroli menyisir sejumlah kawasan rawan guna memantau titik-titik kering yang berpotensi memicu timbulnya titik api.

Kegiatan patroli bersama ini melibatkan jajaran Pemerintah Kecamatan Cidolog, Polsek Sagaranten, dan Koramil 2211 Sagaranten, didukung oleh Posramil Cidolog, Kasi Trantibum Kecamatan Cidolog, serta Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Cidolog.

Kapolsek Sagaranten, AKP A. Suryana B, S.H., menjelaskan bahwa patroli intensif dilakukan menyusul maraknya insiden kebakaran lahan di beberapa wilayah Kabupaten Sukabumi selama musim kemarau berlangsung. Area hutan serta lahan perkebunan milik warga di Kecamatan Cidolog saat ini berada dalam kondisi mengering akibat minimnya curah hujan, sehingga sangat rentan memicu kebakaran.

Baca Juga  Program MBG Diduga Jadi Pemicu Keracunan Massal di Cidolog

Imbauan dan Kanal Pelaporan Karhutla

Untuk mencegah terjadinya Karhutla, AKP A. Suryana mengimbau masyarakat agar menghindari kebiasaan yang memicu kebakaran lahan:

  • Tidak membakar lahan saat pembukaan atau pembersihan area perkebunan.
  • Tidak membuang puntung rokok sembarangan di area semak-semak atau hutan kering.
  • Hindari pembakaran sampah yang tidak diawasi secara bertanggung jawab.

Masyarakat yang melihat atau mendeteksi adanya indikasi Karhutla diminta segera melapor kepada Pengurus RT/RW, Pemerintah Desa, Pemerintah Kecamatan, Pos Pemadam Kebakaran, atau langsung melalui Babinkamtibmas di desa masing-masing.

Analisis Studi: Penyebab dan Anomali Musim Kemarau

Berdasarkan analisis klimatologi dan kajian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), periode musim kemarau panjang yang disertai penurunan curah hujan signifikan umumnya dipicu oleh kombinasi beberapa dinamika atmosfer global dan regional:

Penguatan Fenomena El Niño & IOD Positif

Baca Juga  Sisi Kelam Kemarau di Sukabumi: Terpaksa Pakai Air Kobak Keruh Demi Bertahan Hidup

Peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik (El Niño) yang terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia mengurangi pembentukan awan hujan secara drastis di wilayah Indonesia, sehingga iklim menjadi jauh lebih kering dari rata-rata normalnya.

Dominasi Monsun Australia

Aliran angin Monsun Australia membawa massa udara kering dan dingin melewati kawasan Indonesia bagian selatan (termasuk Jawa Barat), mempercepat proses penguapan (evaporasi) dan mengeringkan vegetasi di daratan.

Dampak Ekologis dan Lingkungan

Para ahli menguraikan bahwa insiden Karhutla dan kekeringan berkepanjangan memicu rantai dampak lingkungan yang serius:

  • Kerusakan Ekosistem dan Keragaman Hayati: Kebakaran menghancurkan vegetasi alami, memusnahkan flora dan fauna lokal, serta mengusir satwa liar dari habitat aslinya.
  • Degradasi Cadangan Air Tanah: Hilangnya tutupan pohon menurunkan infiltrasi air ke dalam tanah, memicu kekeringan sumur warga dan mengganggu sektor pertanian.
  • Ancaman Bencana Susulan: Lahan bekas terbakar atau gundul kehilangan struktur perakaran penyerap air. Ketika musim hujan tiba, kawasan tersebut rawan mengalami erosi, tanah longsor, hingga banjir bandang.
Baca Juga  Warga Sukabumi Wajib Siaga, BMKG Peringatkan Kemarau Ekstrim 2026 Akan Keringkan Indonesia

Reporter: Arismanto

Editor: Demi Pratama Adiputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *