Jejak Peradaban Purba di Pelabuhanratu, Pakar Temukan Batuan Identik Gunung Padang di Gunung Tangkil

Ilustrasi, Situs Megalitikum di Belakang Hotel Grand Inna Samudra Beach Hotel Palabuhanratu.

SUKABUMISATU.com – Pengungkapan mengejutkan datang dari pakar geologi sekaligus Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Danny Hilman Natawidjaja. Batuan kekar tiang (columnar joint) yang menyusun Situs Megalitikum Gunung Padang di Cianjur ternyata tidak berasal dari wilayah sekitarnya.

Menariknya, struktur batu yang identik justru ditemukan di pesisir Kabupaten Sukabumi, tepatnya di kawasan Gunung Tangkil, Pelabuhanratu.

Spekulasi besar pun merebak di kalangan peneliti dan masyarakat lokal: Apakah batuan Gunung Padang sengaja diboyong dari bumi Sukabumi, ataukah Gunung Padang dan Gunung Tangkil sebenarnya dua bangunan peninggalan peradaban purba yang didirikan pada era yang sama?

Teka-Teki Radius 5 Kilometer

Berdasarkan pemetaan geologi ketat dalam radius 5 kilometer di sekeliling Situs Gunung Padang, tim peneliti tidak menemukan satu pun formasi batuan alami yang sejenis. Seluruh batuan Andesit bersisi banyak di puncak Gunung Padang terbukti telah dipindahkan dan disusun ulang oleh tangan manusia.

Baca Juga  Pencarian Pengunjung Hilang Terseret Ombak di Pantai Karangnaya Belum Membuahkan Hasil, Tim SAR Terkendala Gelombang

“Di sekitar Gunung Padang tak ada lagi batu-batu itu, cuma di puncaknya aja yang ada,” terang Prof. Danny Hilman dalam keterangannya. “Kita cari sampai radius 5 kilometer juga tak ada. Jadi sampai sekarang kita belum tahu pasti sumber batu aslinya dari mana.”

Namun, titik terang muncul saat penelitian bergeser ke arah barat. Formasi columnar joint dengan karakteristik fisik yang sangat mirip ditemukan membentang di Gunung Tangkil, tak jauh dari kawasan pantai dan Samudra Beach Hotel yang didirikan Bung Karno di Palabuhanratu.

Dua Hipotesis Besar: Mobilisasi Purba atau Dua Balai Sezaman?

Penemuan kemiripan batu di Pelabuhanratu ini melahirkan dua spekulasi menarik yang kini menjadi sorotan para peneliti geologi dan arkeologi:

 * Jalur Mobilisasi Logistik Megalitikum: Jika batuan Gunung Padang benar-benar dipindahkan dari Gunung Tangkil, hal ini mengindikasikan adanya teknologi transportasi dan pemindahan material yang sangat luar biasa pada era praaksara. Mengingat jarak Pelabuhanratu ke Cianjur mencapai puluhan kilometer dengan medan pegunungan yang terjal, teknologi pembawaan material tersebut menjadi teka-teki besar tersendiri.

Baca Juga  Kenapa Warga Bandung Dilarang Berenang di Pantai Selatan? Simak Penjelasannya

 * Dua Balai atau Situs Sezaman: Spekulasi lain menyebutkan bahwa Gunung Tangkil dan Gunung Padang mungkin merupakan dua pusat ritual atau balai peradaban kuno yang dibangun pada periode masa yang sama. Keberadaan batuan serupa di dua titik strategis (pesisir Sukabumi dan pegunungan Cianjur) menunjukkan potensi adanya koridor kebudayaan megalitikum yang membentang luas di Jawa Barat bagian selatan.

Uji Laboratorium dan Usulan Cagar Budaya

Meski kemiripan visual dan geologisnya sangat tinggi, Prof. Danny menegaskan bahwa pembuktian ilmiah masih terus berjalan. Tim peneliti perlu melakukan analisis petrografi dan geokimia laboratorium untuk memastikan apakah komposisi mineral batuan di kedua tempat tersebut benar-benar identik.

Sementara itu, dorongan agar kawasan Gunung Tangkil di Pelabuhanratu ditetapkan sebagai situs cagar budaya resmi kini terus menguat. Penetapan ini dinilai krusial untuk melindungi formasi batu kuno tersebut dari kerusakan, sekaligus membuka pintu penelitian lebih mendalam demi mengungkap tabir peradaban purba yang menghubungkan Sukabumi dan Cianjur.

Baca Juga  Marak Perdukunan dan Penyimpangan Sejarah, Paguyuban Padjadjaran Anyar Desak Penataan Cagar Budaya Palabuhanratu

Penulis: Demi Pratama Adiputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *