SUKABUMISATU.com, Sukabumi — Kondisi cagar budaya di kawasan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, kian memprihatinkan. Aset sejarah yang menyimpan jejak panjang peradaban daerah tersebut kini tidak hanya terbengkalai dan tak terurus, tetapi juga makin marak disalahgunakan untuk praktik-praktik penyimpangan seperti perdukunan.
Situasi ini memicu keprihatinan mendalam dari Paguyuban Padjadjaran Anyar. Mereka menyesalkan sikap pembiaran yang terjadi, mengingat kawasan pesisir selatan ini memiliki histori yang sangat kuat dan bernilai tinggi bagi Indonesia.
Ketua Paguyuban Padjadjaran Anyar, Firman Hidayat, menyayangkan tumpulnya kepedulian terhadap pemeliharaan situs-situs bersejarah tersebut. Menurutnya, Palabuhanratu memiliki posisi istimewa yang seharusnya dijaga keagungannya, bukan malah dibiarkan kumuh dan tercemar aktivitas mistis yang merusak marwah kebudayaan.
”Wilayah Palabuhanratu ini sarat dengan sejarah, dari zaman Padjadjaran, pra-kemerdekaan, sampai era pasca-kemerdekaan. Bung Karno dan lainnya sempat tinggal dan membangun wilayah Palabuhanratu, sehingga membuat wilayah ini istimewa di mata Presiden Soekarno,” ujar Firman pada sukabumisatu.com, Rabu (19/08/2026).
Pria yang akrab disapa Abah Firman ini juga mengatakan bahwa ia beserta Dinas Pariwisata akan memanggil kuncen dan pengurus beberapa petilasan serta titik wisata yang kerap dianggap keramat tersebut.
”Kami sudah memberikan tanda beberapa yang kami anggap menyimpang jauh dari nilai budaya dan sejarah untuk kemudian akan kami bina agar tidak menimbulkan citra buruk bagi tempat sejarah itu sendiri,” sambungnya.
Secara khusus, Abah Firman menyoroti kawasan Karang Hawu yang saat ini banyak dijadikan tempat ritual oleh beberapa oknum. Selain itu, ia juga menyesalkan kondisi Situs Megalitikum Gunung Tangkil yang tidak terawat.
Padahal, Gunung Tangkil merupakan temuan megalitik penting dalam dunia arkeologi Indonesia yang baru diungkap melalui teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging) oleh tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Museum Prabu Siliwangi serta peneliti lokal.
Berawal dari temuan fragmen batu mirip artefak megalitik oleh Zubair Mas’ud di lereng terpencil yang tertutup hutan lebat, survei LiDAR berhasil mengungkap empat klaster teras batu. Temuan itu diduga terdiri dari struktur ritual, jalur batu, hingga potensi arca dan menhir yang mengindikasikan tradisi budaya kuno yang kuat dan kompleks.
Tak hanya susunan batu, tim arkeologi juga menemukan ratusan fragmen keramik dari abad ke-10 hingga abad ke-20. Hal ini menandakan adanya jejak jalur perdagangan maritim regional yang luas sekaligus membuktikan peran Gunung Tangkil sebagai pusat interaksi budaya dan ekonomi masa lalu.
Meski penelitian masih menghadapi tantangan akibat lokasinya yang berada di kawasan cagar alam sehingga ekskavasi masih terbatas, situs berharga ini justru terancam terabaikan jika tidak segera ditangani secara serius.
Melihat kondisi yang makin tak terarah, Paguyuban Padjadjaran Anyar mendesak pemerintah daerah segera mengambil langkah tegas untuk membersihkan, menata ulang, serta mendorong pengakuan resmi kawasan tersebut sebagai cagar budaya. Langkah ini dinilai mendesak demi melestarikan warisan prasejarah Indonesia sekaligus mengembalikan fungsi situs sejarah sebagaimana mestinya.
Reporter: Chuba Yusuf
Editor: Demi Pratama Adiputra












