SUKABUMISATU.com — Di saat pembangunan infrastruktur identik dengan anggaran pemerintah dan proyek bernilai fantastis, warga Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, membuktikan hal berbeda. Tanpa mengandalkan APBD maupun APBN, pembangunan Jembatan Cihamerang kembali bangkit berkat kekuatan swadaya, kepedulian donatur, dan semangat gotong royong yang tak padam.
Infrastruktur krusial yang menghubungkan Desa Mekarjaya dengan Desa Cihamerang ini sebelumnya terputus akibat bencana longsor yang dipicu hujan deras pada Kamis (8/9/2022) silam sekitar pukul 14.30 WIB. Meski pemerintah desa setempat telah mengajukan bantuan darurat kepada Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sukabumi, langkah mandiri dan aksi nyata masyarakat kini menjadi penentu utama pemulihan akses vital tersebut.
Hingga pertengahan Agustus 2026, pengerjaan jembatan telah memasuki hari ke-15. Seluruh proses, mulai dari pengangkutan material besi dan pasir, pembuatan ring, pemasangan ceker ayam, hingga penggalian angkur abutmen, dilakukan murni secara kerja bakti oleh masyarakat setempat bersama para relawan.
Kepala Desa Kabandungan, Jaro Bedi, menyampaikan apresiasi mendalam atas keguyuban warganya yang rela meluangkan waktu dan tenaga demi kepentingan bersama.
”Jembatan ini murni hasil swadaya dan bantuan donatur serta koordinator Sasaka. Di sini tidak ada uang beredar untuk upah kerja. Semua turun tangan secara sukarela demi membuka kembali akses yang sempat terputus akibat bencana,” ujar Jaro Bedi di lokasi pembangunan.
Meski demikian, proses pengerjaan di lapangan bukan tanpa hambatan. Kendala struktur tanah yang dipenuhi bebatuan keras cukup memperlambat proses penggalian angkur. Jaro Bedi pun mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus merapatkan barisan.
”Kami sangat membutuhkan keikutsertaan lebih banyak warga. Jika dikerjakan bersama-sama sambil membawa peralatan galian masing-masing, pekerjaan seberat apa pun akan terasa lebih ringan,” tambahnya.
Semangat kebersamaan di Jembatan Cihamerang ini juga menyentuh hati para relawan yang datang membantu, salah satunya Opung Bunga Ayu. Menurutnya, pemandangan warga yang saling bahu-membahu mengangkut material pasir dan besi menjadi bukti bahwa nilai luhur Pancasila masih hidup di tengah masyarakat.
”Melihat bapak-bapak dan pemuda di sini bekerja tanpa pamrih sungguh menyentuh hati. Tidak ada transaksi uang, yang ada hanya peluh dan rasa persaudaraan. Ini adalah wajah asli bangsa Indonesia yang sesungguhnya,” ungkap Opung Bunga Ayu penuh haru. Sabtu, (22/08/2026).
Pembangunan Jembatan Cihamerang kini menjadi simbol persatuan dan ketangguhan warga Kabandungan. Melalui ketulusan para donatur dan tumpah darah gotong royong warga, jembatan ini tak hanya menyambungkan kembali dua desa yang sempat terisolasi, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antar warga.
Reporter: Chuba Yusuf
Editor: Demi Pratama Adiputra












