SUKABUMISATU.COM, PALABUHANRATU – Deburan ombak Pantai Selatan Sukabumi, mulai dari Cisolok hingga Ujunggenteng, selalu menyimpan daya tarik magis bagi wisatawan. Namun, di balik keindahannya, sebuah mitos lama terus berbisik di telinga masyarakat: “Orang Bandung dilarang mandi di laut selatan.”
Mitos ini bukan sekadar isapan jempol bagi warga lokal. Banyak yang percaya bahwa larangan ini membawa konsekuensi fatal jika dilanggar. Namun, benarkah ada dendam mistis di balik larangan tersebut, ataukah ini murni peringatan keselamatan?
Perspektif Budaya: Jejak Sejarah dan Trauma Pajajaran
Ketua Paguyuban Padjadjaran Anyar, Firman Hidayat, memberikan pandangan mendalam mengenai kaitan antara masyarakat Bandung (Priangan) dengan laut selatan. Menurutnya, narasi ini tidak lepas dari sejarah pitutur di masyarakat khususnya Palabuhanratu tentang Kerajaan Pajajaran dan sosok Putri Kandita.
”Secara pitutur dan kepercayaan masyarakat lokal, ada kaitan erat antara keturunan Sunda Pajajaran dengan penguasa laut selatan. Putri Kandita, yang diyakini sebagai cikal bakal Nyi Roro Kidul, adalah putri dari Prabu Siliwangi yang menyingkir karena dikhianati di lingkungan istananya, meskipun tidak ada bukti sejarah mengenai hal itu, ” ujar Firman Hidayat.
Menurut Firman, “larangan” bagi orang Bandung atau keturunan Pajajaran lebih bersifat pamali atau peringatan agar tidak bersikap sombong. “Bandung itu pusatnya Priangan, jantungnya Pajajaran masa kini. Ada semacam ‘perjanjian’ tak tertulis atau memori kolektif bahwa mereka yang datang dari pusat tanah Sunda harus memiliki tata krama yang lebih tinggi saat bertamu ke ‘halaman rumah’ Sang Putri. Jika melanggar etika atau takabur, alam seringkali memberikan teguran keras,” tambahnya.
Sisi Fakta: Bahaya Rip Current dan Karakter Orang Pegunungan
Di sisi lain, jika menilik dari sudut pandang keselamatan, tim SAR dan pengamat pantai memiliki penjelasan yang lebih rasional. Secara geografis, Pantai Selatan Sukabumi berhadapan langsung dengan Samudra Hindia yang memiliki arus balik mematikan atau Rip Current.
Berikut adalah beberapa fakta yang mendasari mengapa wisatawan asal Bandung sering menjadi korban:
- Kurangnya Pemahaman Medan: Warga Bandung yang terbiasa dengan iklim pegunungan sering kali terlalu antusias saat melihat laut sehingga abai terhadap karakter ombak yang berbeda dengan kolam renang atau pantai di utara.
- Populasi Wisatawan: Secara statistik, Bandung adalah penyumbang wisatawan terbesar ke Sukabumi. Tingginya frekuensi kunjungan secara otomatis meningkatkan probabilitas kecelakaan yang melibatkan warga dari daerah tersebut.
- Fenomena Arus Bawah: Banyak wisatawan tidak paham bahwa arus bawah laut selatan sangat kuat dan dapat menyeret seseorang dalam hitungan detik, bahkan jika mereka adalah perenang yang handal.
Menghormati Alam, Menjaga Nyawa
Firman Hidayat menekankan bahwa mitos ini seharusnya dipandang sebagai bentuk kearifan lokal untuk menjaga keselamatan diri. “Mitos diciptakan bukan untuk menakuti, tapi agar kita eling (ingat) dan waspada. Kita harus menghormati alam, baik secara mistis maupun secara logika keselamatan,” tegasnya.
Pihak Balawista (Badan Penyelamat Wisata Tirta) Kabupaten Sukabumi pun senantiasa mengingatkan agar pengunjung, dari mana pun asalnya, selalu mematuhi rambu-rambu di pantai.
Antara legenda Putri Kandita dan fakta ilmiah Rip Current, satu hal yang pasti: laut selatan tidak pernah berkompromi dengan kecerobohan. Bagi warga Bandung maupun daerah lainnya, menikmati keindahan Sukabumi sah-sah saja, asalkan tetap menjunjung tinggi aturan dan keselamatan.
Editor: Demi Pratama Adiputra









