SUKABUMISATU.COM – Kepolisian Polres Sukabumi Kota menutup penyelidikan kasus dugaan penganiayaan hingga menewaskan anak SD di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. Hasil pemeriksaan polisi serta tim medis menunjukan, MH (9), meninggal dunia karena tetanus.
Hal tersebut terungkap dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Mapolres Sukabumi Kota, Senin malam (10/7/2023). Dalam konferensi pers tersebut, polisi juga menghadirkan sejumlah dokter yang terlibat dalam penanganan MH, hingga penyelidikan kasus ini.
“Hasil penyelidikan ini akan kami sampaikan kepada terlapor maupun pelapor. Bahwa kita akan menghentikan penyelidikan ini, jadi tidak naik ke tahap sidik,” ujar AKBP Ari Setyawan Wibowo, Kapolres Sukabumi Kota kepada awak media.
Dalam kasus ini, polisi memeriksa 21 orang saksi termasuk diantaranya pihak keluarga serta perwakilan dari sekolah hingga rekan MH. Dari hasil penyelidikan, tidak ada yang mengarah kuat pada dugaan penganiayaan.
“Keterangan dari siswa-siswa juga tenaga pengajar pun, tidak ada ada yang melihat bahwa MH ini dianiaya atau dikeroyok. Kami pastikan penyelidikan kasus ini dilakukan sesuai prosedur,” tutur Ari.
Ia menambahkan, kasus ini masih memungkinkan untuk kembali diusut jika polisi mendapatkan alat bukti baru yang memperkuat ke arah dugaan penganiayaan.
Sementara itu dokter spesialis forensik RSUD R Syamsudin SH, dr Nurul Aida Fathya, menegaskan pihaknya tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan yang menyebabkan kematian pada tubuh MH.
Berdasarkan hasil dari pemeriksaan jenazah pada saat proses ekshumasi, bekas lebam beberapa bagian tubuh MH diduga bekas penanganan medis.
“Bukan hanya pada saat autopsi saja. Kami juga mengambil sampel dan memeriksanya di laboratorium. Dan hasil pemeriksaan di laboratorium pun tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan,” tukasnya.
Tim forensik mendapati ada dugaan kegagalan organ paru yang diduga menyebabkan kematian MH. Hal itu diduga terjadi akibat infeksi.
Hal senada juga diungkapkan Wakil Direktur Medis RSU Hermina Sukabumi, dr Andreansyah Nugraha. Sebelum meninggal dunia, MH sempat menjalani penanganan medis di RS Hermina.
Dokter menyimpulkan, MH diduga meninggal dunia karena tetanus. Dokter menemukan ada indikasi infeksi di bagian telinga yang berpotensi menjadi pemicu atau memperparah tetanus pada tubuh MH.
“Meskipun saat kami konfirmasi keluarga menyebutkan tidak ada riwayat terluka, namun tetanus ini kemungkinan disebabkan hal lain. Apalagi kami menemukan ada gejala infeksi yang mana di bagian telinga anak ini mengeluarkan lendir,” imbuhnya.
“Hasil konfirmasi keluarga juga menyebutkan kalau riwayat vaksinasi terhadap anak tersebut tidak lengkap. Bisa jadi yang tidak lengkap itu adalah vaksin tetanus,” kata dia.
dr Andreansyah menjelaskan tetanus adalah penyakit berbahaya yang tingkat mortalitas atau menyebabkan kematiannya tinggi. Oleh karena itu, dokter menyarankan agar anak-anak divaksin secara lengkap yang salah satunya adalah vaksin tetanus (DPT).
Redaktur: Mulvi Mohammad Noor












