SUKABUMISATU.com — Dari halaman Pondok Pesantren Al-Manshuriyah, Desa Karang Tengah, Kecamatan Cibadak, gema takbir dan shalawat menggema, menandai puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-80 pada Selasa (22/10/2025).
Namun lebih dari sekadar upacara tahunan, peringatan kali ini menjadi cermin kuatnya sinergi antara ulama, umaro, dan masyarakat dalam membangun kebersamaan.
Dengan tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Membangun Peradaban Dunia”, semangat santri tampak menyatu dengan denyut kehidupan warga. Sejak 20 Oktober, berbagai kegiatan sosial dan keagamaan digelar: mulai dari Musabaqoh Qiraatul Kutub (MQK), Hifdzil Qur’an (MHQ), hingga lomba kaligrafi yang diikuti oleh para pelajar dan santri muda.
Tak berhenti di situ, kegiatan berlanjut dengan lomba hadroh, bakti sosial, khitanan massal, dan pasar murah yang menghadirkan bahan pokok dengan harga terjangkau. Sementara di puncak acara, masyarakat tumpah ruah mengikuti upacara Hari Santri yang turut dihadiri oleh Forkopimcam Cibadak, ormas Islam, majelis taklim, dan para tokoh pesantren.
Beragam layanan publik juga dihadirkan mulai dari donor darah, cek kesehatan gratis, akupunktur, hingga pelayanan administrasi seperti perpanjangan SIM dan pembuatan NIB (Nomor Induk Berusaha). Tak ketinggalan, bazar UMKM menjadi ajang promosi bagi produk-produk lokal warga Cibadak.
Meski waktu persiapan hanya dua minggu, seluruh rangkaian berjalan tertib dan meriah. Semua berkat semangat gotong royong yang menjadi napas utama acara ini.
“Alhamdulillah, peringatan Hari Santri tahun ini bukan hanya seremonial, tapi momentum mempererat silaturahmi antara ulama, umaro, dan masyarakat,” ujar Ketua Panitia Hendar Irawan, yang juga Ketua MUI Kecamatan Cibadak.
Tak hanya menyemarakkan, kegiatan ini juga menebar manfaat. Panitia berhasil menggalang donasi sosial sebesar Rp3.155.000 untuk disalurkan ke Pondok Pesantren Al-Khazini, Sidoarjo, Jawa Timur—sebuah bentuk nyata solidaritas antar-santri lintas daerah.
“Motto kami jelas: Dari kita, oleh kita, untuk semua. Semoga semangat Hari Santri ini terus menyalakan api perjuangan menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan,” tutur Hendar penuh haru.
Di tengah suasana sederhana namun penuh makna itu, Hari Santri di Cibadak bukan sekadar peringatan—melainkan perwujudan nyata dari pesan luhur para ulama: bahwa santri bukan hanya penjaga agama, tetapi juga penyangga peradaban bangsa.
Reporter: Mawaldi
Editor: Demi Pratama Adiputra











