SUKABUMISATU.com – Di balik riuh dan teriknya mentari di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, ada asa yang perlahan mengering bersama sumur-sumur warga. Sudah tiga minggu terakhir, air bersih menjadi barang mewah yang paling diburu oleh ratusan kepala keluarga di Kelurahan Cibadak dan Desa Sekarwangi. Kamis, (02/07/2026).
Saluran irigasi Sungai Cimahi yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan mereka, mendadak berhenti mengalir akibat adanya proyek perbaikan di wilayah hulu, Desa Karang Tengah. Dampaknya nyata dan memukul langsung sendi-sendi kehidupan masyarakat paling bawah. Mulai dari jeritan petani yang melihat sawahnya retak-retak, kolam ikan yang surut, hingga cerita-cerita pilu ibu rumah tangga yang harus memutar otak demi segelas air bersih.
Cerita Pilu Ibu Ati: Nasi yang Dimasak Berbau Bensin
Salah satu potret nyata betapa berharganya air terekam dari kisah Ibu Ati. Di tengah antrean jeriken dan galon yang mengular di lokasi pembagian air bersih, ia mengisahkan pengalaman pahit yang tak sengaja dialaminya akibat kacaunya situasi penampungan air mandiri warga.
”Kan saya teh penampung galon di sini satu, terus tidak sengaja ditukar sama warga lain pakai galon yang bekas bensin. Air bantuan dari petugas yang pertama sebenarnya bagus sekali, bening. Tapi karena galonnya ketukar bekas bensin, akhirnya air itu saya pakai masak nasi. Pas matang, satu penanak nasi bau bensin semuanya! Terpaksa nasinya dibuang semua, galon-galonnya juga sekalian saya buang karena baunya lengket. Sekarang mah galonnya saya tungguin terus sendiri, takut ketukar lagi,” cerita Ibu Ati dengan nada getir sekaligus dongkol.
Bertahan di Tengah Lelah dan Keterbatasan
Tak jauh dari posisi Ibu Ati, Ibu Maemunah yang mengenakan baju bermotif totol-totol, tampak terduduk lesu menanti giliran tangki air bersih tiba. Gurat lelah tak bisa disembunyikan dari wajahnya saat menceritakan bagaimana beratnya bertahan hidup tanpa air bersih harian.
”Kekeringan ini bener-bener menyiksa kami. Sumur gali di rumah sudah tidak keluar air sama sekali. Kalau tidak ada bantuan tangki seperti ini datang, kami bener-bener bingung harus cari air ke mana lagi. Buat minum saja susah, apalagi buat kebutuhan yang lain,” keluh Ibu Maemunah singkat, menggambarkan beban berat yang dipikul para ibu rumah tangga di sana.
Hal senada diungkapkan oleh Ibu Imas, warga setempat yang mengenakan kerudung krem. Sambil memegang wadah air kosongnya, ia menceritakan bahwa warga terpaksa berkompromi dengan air yang tidak layak demi kebutuhan sanitasi dasar sebelum bantuan dari pemerintah datang.
”Kekeringan sudah tiga minggu lebih lah. Ceritanya karena air irigasinya di bagian atas sana ada perbaikan, yang kedua air selokannya pada rusak pada roboh karena longsor kecil-kecil gitu. Untuk kebutuhan harian, warga akhirnya terpaksa menampung air serapan seadanya ke dalam sumur cuma buat mandi dan cuci piring. Alhamdulillah, dengan ada bantuan air bersih ini kami sangat terbantu, ini sudah pengiriman ketiga kali ke sini,” tutur Ibu Imas penuh rasa syukur.
Ketua RW 21 Ucup: 150 KK Andalkan Sumur Gali Tradisional
Ketua RW 21 Kelurahan Cibadak, Ucup, membenarkan bahwa warganya kini sedang berada dalam kondisi rentan. Geografi wilayah yang tidak memiliki sumur bor dalam membuat warga sepenuhnya bertumpu pada resapan air permukaan dari irigasi sungai.
”Kekeringan ini kurang lebih dari mulai bulan Juni, atau sekitar 3 minggu yang lalu. Terjadi karena faktor musim kemarau dan sumber air yang kami manfaatkan selama ini dari resapan irigasi Sungai Cimahi sedang dikeringkan untuk proses perbaikan. Di sini jenis sumurnya sumur gali tradisional, tidak ada sumur bor yang lebih dalam lagi. Jadi seandainya irigasi kering, sumur kami ikut kering seketika. Dari total 430 KK di wilayah kami, yang terdampak langsung krisis air bersih ini ada 150 KK. Bukan cuma sumur warga, tanaman di kebun, ladang, hingga sawah yang memerlukan air juga semuanya jadi korban,” papar Ucup secara rinci di lapangan.
BPBD dan Relawan Rumah Zakat Pasok Dua Tangki Air Bersih
Mendengar jeritan warganya, Anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Imam, menegaskan bahwa pemerintah daerah bersama para relawan kemanusiaan bergerak cepat merespons situasi ini agar kebutuhan dasar masyarakat tidak terputus.
”Kami dari BPBD Kabupaten Sukabumi bersama rekan-rekan P2BK Cibadak langsung merespons cepat laporan dari masyarakat terkait krisis air bersih ini. Hari ini kami bekerja sama dengan Relawan Rumah Zakat mengirimkan dua tangki air bersih langsung ke penerima manfaat di dua desa terdampak. Distribusi kami mulai sejak pukul 09.00 WIB pagi,” tegas Imam saat mengawal selang air tangki ke bak-bak penampungan warga.
Berdasarkan data asesmen terbaru yang dihimpun oleh Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Cibadak, Mawaldi, total warga terdampak di dua wilayah tersebut mencapai sekitar 315 Kepala Keluarga (KK). Rinciannya meliputi 150 KK di RW 21 Kelurahan Cibadak (Kampung Lingkungansari), serta 125 KK di RT 02/RW 01 dan 40 KK di RT 03/RW 01 Kampung Cikiwul Tonggoh, Desa Sekarwangi.
Aksi kolaborasi kemanusiaan ini diharapkan dapat menjadi penyambung napas bagi warga Cibadak hingga proses perbaikan saluran irigasi di wilayah hulu rampung dikerjakan dan air kembali mengalir normal. Reporter: Suhendi Soex












