SUKABUMISATU.COM, CIBADAK – Aroma maut kembali menyengat perlintasan sebidang di Sukabumi. Belum kering tanah makam korban kecelakaan kereta api sebelumnya, peristiwa tragis kembali terulang. Dalam kurun waktu sepekan, dua kecelakaan fatal melibatkan Kereta Api (KA) Pangrango terjadi, memicu keprihatinan sekaligus kecaman keras dari masyarakat terkait kelalaian mitigasi keselamatan.
Teranyar, Tim Identifikasi Satreskrim Polres Sukabumi bersama personel Satlantas dan petugas PT KAI melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di perlintasan sebidang Kampung Babakan, Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (20/6/2026).
Langkah ini menyusul kecelakaan maut pada Jumat (19/6/2026) sekitar pukul 15.19 WIB, ketika KA Pangrango menghantam truk boks bernomor polisi yang dikemudikan Hermawan (33). Nahas, hantaman keras tersebut tak hanya melukai Hermawan dan seorang warga bernama Rizki (31) yang tengah membuang sampah, namun juga merenggut nyawa Dodi (43), seorang pengendara motor yang kebetulan melintas di sekitar lokasi kejadian. Jenazah Dodi telah dipulangkan ke kampung halamannya di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, untuk dimakamkan.

Dua Kejadian Sepekan, Warga Dihantui Trauma
Insiden di Karangtengah ini melengkapi catatan kelam perkeretaapian di Sukabumi dalam sepekan terakhir. Sebelumnya, kecelakaan serupa juga terjadi di kawasan Kamandoran yang mengakibatkan seorang ketua RT setempat turut menjadi korban. Rentetan kejadian ini dinilai menjadi bukti nyata bahwa aspek keselamatan di perlintasan sebidang masih diabaikan oleh pihak berwenang.
Ferdiansyah, salah seorang tokoh pemuda setempat, mengungkapkan bahwa masyarakat kini dicekam rasa trauma yang mendalam. Ia menyebut perlintasan Kampung Babakan telah memakan korban hingga tiga kali, namun respons dari pihak terkait dinilai sangat lamban.
”Masyarakat rata-rata trauma dan ketakutan hal tersebut terjadi kembali. Di sini sudah tiga kali kejadian, dan kemarin di Kamandoran juga ada Pak RT yang tertabrak. Kami ini ingin merasa aman dan nyaman tinggal di negara ini,” ujar Ferdiansyah dengan nada kecewa saat ditemui di lokasi olah TKP, Sabtu (20/6/2026).
Birokrasi ‘Bola Panas’ dan Palang Pintu yang Jadi Pajangan
Kritik paling tajam yang disuarakan warga adalah keberadaan pos dan palang pintu otomatis di lokasi yang terkesan hanya menjadi ‘pajangan’ visual tanpa fungsi. Fasilitas keselamatan tersebut diketahui sudah selesai dibangun sejak dua tahun lalu, namun hingga hari ini tidak pernah dioperasikan.
Warga setempat bahkan sempat berinisiatif membangun palang pintu manual secara swadaya dari besi demi melindungi nyawa pengguna jalan. Sayangnya, upaya tersebut kerap berbenturan dengan perdebatan regulasi klasik antara instansi.
”Palang pintu otomatis ini sudah dua tahun dibangun tapi belum difungsikan. Jangan sampai cuma jadi pajangan! Kami pernah konfirmasi, tapi mereka saling lempar bola panas. Katanya ini tanggung jawab KAI, katanya tanggung jawab Dishub. Malah memperdebatkan duluan mana jalannya atau relnya,” cecar Ferdiansyah.
Ferdiansyah mendesak agar PT KAI, Dinas Perhubungan, kepolisian, hingga pemerintah pusat menyisihkan ego sektoral dan segera mengaktifkan pos pengamanan tersebut. “Tolong lihat dari sisi kemanusiaan. Nyawa manusia itu sangat berharga,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kepolisian Polres Sukabumi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan, sementara publik Sukabumi terus menagih pertanggungjawaban nyata dari PT KAI dan Dishub sebelum ada nyawa lain yang kembali melayang sia-sia di perlintasan maut.
Reporter: Suhendi Soex
Editor: Demi Pratama Adiputra












