SUKABUMISATU.com – Nama Ir. H. Dasep Ahmadi mungkin sudah tak asing lagi di telinga para pemerhati teknologi otomotif nasional. Namun, tak banyak yang menyadari bahwa sosok jenius di balik lahirnya “Mobil Listrik Ahmadi” yang sempat fenomenal itu adalah putra asli dari pelosok selatan Sukabumi, tepatnya dari Desa Ciemas.
Lahir di tanah yang kaya akan kandungan emas, Dasep tumbuh dengan kecemerlangan yang melampaui zamannya. Kini, di usia yang menginjak 60 tahun, “Kang Dasep”—begitu ia akrab disapa—kembali membuktikan bahwa kreativitas dan kecerdasannya tak bisa dibatasi oleh jeruji besi sekalipun.
Dari Ciemas Menuju Panggung Dunia
Perjalanan Dasep dimulai dari bangku sekolah di SDN 1 Ciemas, berlanjut ke SMPN 1 dan SMAN 1 Kota Sukabumi, hingga akhirnya menembus kampus bergengsi ITB Bandung. Sejak mahasiswa, ia sudah langganan menjuarai lomba robot tingkat nasional.
Salah satu kontribusi terbesarnya bagi dunia industri adalah penciptaan mesin CNC (Computer Numerical Control). Mesin ini menjadi tulang punggung manufaktur modern yang mampu membentuk baja dengan presisi tinggi. Hingga saat ini, belum ada teknologi yang mampu menggantikan peran vital mesin ciptaan putra Sukabumi ini di pabrik-pabrik besar.
Pionir Mobil Listrik: Melampaui Zamannya
Jauh sebelum brand besar seperti BYD atau Tesla merajai jalanan Indonesia seperti di tahun 2026 ini, Dasep Ahmadi sudah memimpikan masa depan hijau sejak tahun 2013. Bersama Dahlan Iskan, ia merancang mobil listrik generasi pertama bermerek Ahmadi.
”Tentu masih sangat sederhana, warnanya hijau. Namanya juga uji coba generasi pertama,” kenang Dahlan Iskan saat menceritakan kembali momen bersejarah ketika mobil itu melaju dari Depok menuju Jakarta.
Meski langkahnya sempat terhenti karena persoalan hukum yang memaksanya kehilangan kebebasan selama 10 tahun, semangat Dasep tidak pernah “layu”. Di saat BYD kini menguasai pasar global, dunia mencatat bahwa di Indonesia, benih inovasi itu pernah disemai oleh seorang anak Ciemas.
Paten Internasional dari Balik Jeruji
Kisah inspiratif Dasep tak berhenti di masa lalu. Selama menjalani masa tahanan di LP Cipinang, ia justru berhasil merumuskan desain “rumah” baterai yang kini telah meraih hak paten internasional.
Paten yang didaftarkan di Swiss ini berlaku di 90 negara. Dengan dokumen teknis setebal 35 halaman, Dasep membuktikan kapasitasnya di hadapan tim penguji Eropa. Ini menjadi bukti sahih bahwa meski raga terbatas, pikiran seorang inovator tetap mampu menembus batas negara.
Sisi Religius dan Olah Jiwa
Selama di dalam “sekolah kehidupan”, Dasep juga dikenal sebagai sosok yang religius. Ia dijuluki ustaz oleh rekan-rekannya dan menemukan metode unik menghafal Al-Quran berdasarkan urutan turunnya wahyu—sebuah pendekatan logis ala sarjana teknik.
Meski kini ia mengaku tidak ingin lagi terjun langsung ke industri manufaktur mobil listrik karena keterbatasan modal, fokusnya tetap pada pengembangan teknologi baterai.
Kisah Dasep Ahmadi adalah pengingat bagi warga Sukabumi: bahwa dari pelosok Ciemas, bisa lahir gagasan yang mampu mengubah dunia. Ia adalah bukti bahwa emas dari Ciemas bukan hanya yang mengalir di sungai Cikotok, melainkan juga intelektualitas putra daerahnya yang terus bersinar meski dihantam badai ujian.
Editor: Demi Pratama Adiputra










