SUKABUMISATU.com – Badai kenaikan harga bahan baku kemasan plastik kian mencekik para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah Sukabumi. Kenaikan yang terjadi secara signifikan dalam beberapa waktu terakhir memaksa para pengusaha kecil memutar otak agar dapur tetap mengepul.
Salah satu yang merasakan dampak pahitnya adalah Subhan, seorang pengrajin Opak Jampang di Sukabumi. Ia mengaku terpukul dengan lonjakan harga berbagai jenis plastik kemasan yang menjadi kebutuhan utama produknya.
”Kenaikannya sangat luar biasa. Kami sebagai pelaku usaha kecil merasa tertekan karena biaya produksi jadi membengkak, sementara kami tidak bisa sembarangan menaikkan harga jual ke konsumen,” keluh Subhan kepada sukabumisatu.com, Kamis (2/4/2026).
List kenaikan harga kemasan:
Standing pouch ukuran 16 x 24, dari harga 39.000/pak menjadi 56.000/pak
Plastik Opp 0.8, ukuran 40×60 dari harga 32.000/kg menjadi 55.000/kg
Kemasan aluminium foil, Ukuran 16×24, dari harga 1900 per pcs menjadi 2600 per pcs
Dipicu Konflik Timur Tengah dan Gejolak Dolar
Kenaikan harga plastik di tingkat lokal ini bukan tanpa alasan. Secara ilmiah dan ekonomi global, plastik adalah produk turunan dari petrokimia yang bahan baku utamanya berasal dari minyak bumi (Crude Oil).
Konflik Timur Tengah: Eskalasi ketegangan di wilayah Timur Tengah, terutama gangguan di jalur distribusi seperti Selat Hormuz, telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Berdasarkan laporan industri petrokimia, pasokan Naphta (bahan baku utama biji plastik) yang 60% diimpor dari Timur Tengah mengalami hambatan serius, yang secara otomatis mendongkrak harga jual plastik global.
Kurs Dolar AS: Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS kian memperburuk keadaan. Karena biji plastik merupakan komoditas impor yang dibeli menggunakan mata uang Dolar, maka setiap pelemahan Rupiah akan langsung berimbas pada kenaikan biaya pengadaan di tingkat produsen dalam negeri.
UMKM di Ambang Pilihan Sulit
Bagi pengrajin seperti Subhan, kondisi ini adalah buah simalakama. Tetap menggunakan kemasan lama dengan harga tinggi berarti menggerus keuntungan, sementara beralih ke kemasan yang lebih murah berisiko menurunkan kualitas dan daya saing produk Opak Jampang miliknya di pasaran.
”Harapan kami ada intervensi dari pemerintah. Kalau dibiarkan terus begini, lama-lama UMKM bisa gulung tikar karena modalnya habis hanya untuk beli bungkus,” pungkasnya.
Reporter: Maulana Yusuf
Editor: Demi Pratama Adiputra










