SUKABUMISATU.com – Deru mesin kendaraan dan guyuran gerimis di Jalur Karangtengah, Cibadak, Sabtu sore (28/03/2026), menjadi saksi bisu berakhirnya sebuah perjalanan keluarga. Aisah Amini (35), seorang ibu rumah tangga asal Kadudampit, tak pernah sampai ke rumah setelah hari yang ia habiskan dengan penuh tawa di pantai Palabuhanratu bersama kedua buah hatinya.
Harusnya, sore itu menjadi momen berbagi cerita perjalanan di meja makan. Namun naas, takdir berkata lain di depan Gedung Samsat Cibadak sekitar pukul 15.30 WIB.
Pulang dari Pantai, Menjemput Maut
Aisah tidak sendirian. Ia duduk di boncengan motor yang dikendarai putra sulungnya, AD, seorang pelajar yang tengah berusaha membawa ibu dan adiknya, AV, pulang dengan selamat. Kondisi jalanan yang licin akibat hujan dan kepadatan arus lalu lintas membuat perjalanan tersebut menjadi penuh tantangan.
Mencoba mendahului sebuah truk Wing Box bermuatan air mineral, motor yang mereka tumpangi kehilangan kendali saat sebuah angkot muncul dari arah berlawanan. Motor terjatuh, dan di detik yang memilukan itu, tubuh Aisah terhempas ke kolong truk.
”Pas saya lagi melayani pembeli bakso, tiba-tiba motor itu jatuh. Nggak keras suaranya, tapi tahu-tahu pas dilihat, korban sudah tergilas,” kenang Samsu, saksi mata di lokasi kejadian yang masih tampak terpukul melihat kejadian di depan matanya.
Jerit Pilu Sang Kakak: “Dia Adik Bungsu Saya”
Di sudut rumah sakit, Ibah, kakak kandung korban, duduk dengan tatapan kosong. Ia tak menyangka kabar yang diterimanya sore itu adalah tentang kepergian adik kesayangannya.
”Dia adik bungsu saya, anak keempat. Tadi memang habis main ke Palabuhanratu sama anak-anaknya. Saya dapat kabar langsung dari anaknya yang selamat,” ujar Ibah dengan nada suara yang nyaris hilang ditelan kesedihan.
Bagi keluarga, Aisah adalah sosok ibu yang tangguh. Kehadirannya di Palabuhanratu hari itu semata-mata untuk membahagiakan anak-anaknya di hari libur. Namun kini, kebahagiaan itu terkubur di balik aspal hitam jalur maut Sukabumi.
Dua Buah Hati yang Berhasil Selamat
Keajaiban kecil terjadi di tengah tragedi besar ini. Kedua anak Aisah, AD dan si kecil AV, berhasil selamat dari maut yang merenggut nyawa ibunda mereka. Meski raga mereka utuh, luka psikis karena melihat langsung kepergian sang ibu tentu tak akan mudah sembuh.
Ramadani (48), sopir truk yang terlibat, mengaku tak sempat menghindar. “Terasa ada yang masuk kolong, makanya saya langsung berhenti,” ucapnya singkat dengan wajah pucat.
Kini, jenazah Aisah telah dibawa ke rumah duka di Kadudampit untuk dimakamkan. Kasus ini kembali menjadi pengingat pahit bagi siapa saja yang melintasi jalur Cibadak: bahwa di balik setiap kecelakaan, ada keluarga yang hancur dan rindu yang tak lagi memiliki alamat tujuan.
Reporter: Suhendi Soex
Editor: Demi Pratama Adiputra











