Waspada! Pergerakan Tanah Picu Retakan Serius di Tanjakan Baeud Sukabumi

Tanjakan Baeud Warungkiara Sukabumi.

SUKABUMISATU.com – Akses utama Jalan Nasional ruas Palabuhanratu–Sukabumi kembali terancam. Pengguna jalan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra saat melintasi Tanjakan Baeud, tepatnya di Kampung Baeud Hilir, Desa Warungkiara, Kabupaten Sukabumi.

​Kondisi jalan pada Sabtu (20/12/2025) terpantau mengalami retakan hebat yang membelah badan jalan. Kerusakan ini diduga kuat akibat aktivitas pergerakan tanah yang kembali aktif di wilayah tersebut.

Kronologi dan Kondisi Terkini

​Meskipun pihak PU Bina Marga sebelumnya telah melakukan upaya pemeliharaan berupa penambalan, langkah tersebut tampaknya belum cukup membendung pergeseran tanah yang masif.

Kondisi Awal: Retakan kecil yang sempat ditambal beberapa waktu lalu.

Baca Juga  Jalan Rusak Jampangkulon–Ciguyang Viral di Medsos, UPTD PU Usulkan Masuk Kegiatan 2025

​Kondisi Saat Ini: Retakan kembali melebar hingga memotong seluruh badan jalan, menciptakan risiko jalan amblas atau patah sewaktu-waktu.

Dampak Lalu Lintas

​Akibat kerusakan ini, mobilitas masyarakat terhambat secara signifikan:

​Sistem Buka-Tutup: Kendaraan roda dua maupun roda empat harus mengantre untuk melintas secara bergantian satu per satu.

​Titik Rawan: Lokasi ini menjadi sangat berbahaya saat malam hari atau ketika hujan turun, karena visibilitas yang berkurang dan kondisi tanah yang semakin labil.

​”Jalan di Tanjakan Baeud ini retak lagi. Padahal baru kemarin ditambal, sekarang sudah belah kembali. Karena hanya bisa lewat sebelah, kendaraan harus antre bergantian,” ungkap Roni (46), salah seorang warga setempat.

Baca Juga  Miris! Jalan Nasional Sukabumi-Palabuhanratu Diperbaiki Pakai Uang Recehan dari Sopir, Dimana Peran DPR RI?

Masalah Menahun yang Berulang

​Fenomena pergerakan tanah di Tanjakan Baeud bukanlah hal baru bagi masyarakat sekitar. Menurut penuturan warga, wilayah ini memang dikenal sebagai titik rawan bencana geologi yang telah terjadi secara berulang selama puluhan tahun.

​Hingga saat ini, warga dan pengguna jalan mendesak pemerintah serta pihak terkait untuk tidak sekadar melakukan penanganan darurat (tambal sulam), melainkan mencari solusi permanen demi menjamin keselamatan dan kelancaran distribusi logistik di jalur vital Sukabumi ini. (Reporter: Mawaldi) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *