SUKABUMISATU.com, Cibadak – Kondisi infrastruktur di Jalur Alternatif Nagrak–Cibadak tengah menjadi sorotan tajam masyarakat. Sebagai jalur penyangga yang krusial untuk mengurai kemacetan di pusat kota Cibadak, warga berharap pemerintah tidak hanya melakukan perbaikan bersifat sementara, namun memprioritaskan kualitas yang tahan lama.
Meski saat ini pengerjaan sudah mulai terlihat di beberapa titik, efektivitas perbaikan tersebut mulai dipertanyakan oleh para pengguna jalan.
Menanti Realisasi “Jalan Mulus” yang Berkualitas
Rizal, seorang pengguna jalan, memberikan catatan kritis mengenai kontradiksi antara komitmen pembangunan dengan realita di lapangan. Ia menekankan bahwa masyarakat sangat mendambakan akses jalan yang lebar dan nyaman sesuai dengan standar yang sering disosialisasikan pemerintah.
”Harapan saya jalannya mulus sesuai yang digembar-gemborkan. Namun saat ini kondisinya masih sangat memprihatinkan, terutama di wilayah Karang Tengah yang rusaknya cukup parah,” ujar Rizal salah seorang pengemudi saat diwawancarai sukabumisatu.com. Kamis, (05/02/26).
Urgensi Keselamatan Pengendara
Kritik membangun juga diarahkan pada aspek keselamatan kerja dan publik. Lubang-lubang yang dalam, terutama saat tertutup genangan air hujan, telah menjadi faktor risiko kecelakaan bagi pengendara roda dua.
Masyarakat berharap adanya langkah preventif yang lebih cepat sebelum jatuh lebih banyak korban. Keberadaan lubang yang tidak terlihat akibat genangan air menjadi “jebakan” yang sering kali menyebabkan pemotor terjatuh.
Evaluasi Kualitas Tambal Sulam
Salah satu poin penting dalam kritik warga adalah mengenai daya tahan perbaikan. Jalur ini tercatat sempat mendapatkan penanganan, namun kembali mengalami kerusakan dalam waktu yang relatif singkat.
”Sekitar sebulan atau dua minggu yang lalu sempat diperbaiki setelah ada aksi demo dari sopir angkot, tapi sekarang sudah rusak lagi. Ini menjadi pertanyaan soal kualitas pengerjaannya,” tambah Rizal.
Publik berharap instansi terkait dapat melakukan evaluasi terhadap kontraktor atau metode perbaikan yang digunakan. Dengan beban kendaraan yang tinggi, Jalur Alternatif Nagrak–Cibadak memerlukan spesifikasi material yang lebih kuat agar perbaikan tidak menjadi agenda rutin yang memboroskan anggaran daerah.
Reporter: Suhendi Soex









