SUKABUMISATU.com – Warga Kampung Bojongkaler, Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, digemparkan oleh peristiwa tragis yang menimpa seorang siswi madrasah. Seorang pelajar MTsN 3 Cikembar berinisial A.K. (15) ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di dalam kamar rumahnya, Selasa malam (28/10/2025) sekitar pukul 23.15 WIB.
Korban ditemukan oleh keluarganya dalam kondisi tergantung di kusen pintu kamar. Peristiwa itu terjadi di rumah orang tuanya, Edi dan Iah, di Kampung Bojongkaler RT 004/005 Desa Bojong, Kecamatan Cikembar.
Setelah menerima laporan, Babinsa Desa Bojong Sertu Mijan bersama Polsek Cikembar, Puskesmas Cikembar, dan aparat desa segera mendatangi lokasi. Area kejadian langsung diamankan untuk pemeriksaan awal.
Sekitar pukul 00.30 WIB, proses evakuasi jenazah selesai dilakukan dengan aman. Pihak keluarga memutuskan untuk tidak dilakukan autopsi dan telah menandatangani surat pernyataan resmi. Jenazah korban kemudian dimakamkan di Desa Bojong pada Rabu pagi.
Menurut keterangan warga, korban sempat mengeluh kepada keluarga dan teman dekatnya karena sering mengalami perundungan (bullying) di sekolah. Belakangan, korban dikabarkan enggan berangkat sekolah dan lebih sering menyendiri di rumah.
Namun demikian, dugaan penyebab pasti tindakan korban masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut dari pihak berwenang.
“Informasinya korban sering dibuli oleh teman sekolahnya, tapi ini masih perlu pembuktian lebih lanjut,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Tulisan Tangan Diduga Milik Korban Beredar di Media Sosial
Beberapa jam setelah kabar duka itu tersebar, beredar pula di media sosial sebuah foto catatan tulisan tangan yang diduga kuat milik korban. Tulisan tersebut berisi permintaan maaf kepada keluarga, guru, dan teman-teman sekolahnya, serta ungkapan rasa kecewa dan tekanan batin yang dialaminya.
Dalam catatan yang ditulis rapi di buku tulis itu, korban menulis kalimat-kalimat seperti permintaan maaf kepada “umi”, “bapak”, hingga teman-teman sekolahnya. Ia mengaku menyesal, merasa tidak dianggap, dan pada bagian akhir menulis kalimat bernada menyerah:
“Ajeng teh teu pantesan… tapi teu bisa ngontrol perasaan ajeng, ajeng teu salah, tapi ajeng ngaraos sok dianggap gering… nya ieu ajeng nyerah, nrimo… maafkeun sadayana.”
Isi tulisan ini membuat banyak orang terdiam. Pesan-pesan terakhir itu menunjukkan bahwa korban sedang berada dalam kondisi emosional yang berat dan merasa tidak memiliki tempat untuk bercerita.
Teman dan Keluarga Berduka, Sekolah Diharapkan Evaluasi Lingkungan Sosial Siswa
Unggahan foto catatan tersebut kemudian menyebar luas di media sosial, disertai pesan belasungkawa dari teman-teman korban. Salah satu akun menulis:
“Sedih banget ya Allah, masih berasa kaya mimpi. Terima kasih sudah mau berteman walau sebentar. Ternyata kata orang benar, sejahat-jahatnya dunia, masih lebih jahat manusia.”
Ungkapan itu menggambarkan duka mendalam sekaligus kekecewaan terhadap fenomena perundungan yang masih terjadi di lingkungan sekolah.
Pihak keluarga korban meminta agar masyarakat tidak menyebarluaskan foto maupun tulisan pribadi korban demi menghormati privasi dan menjaga kondisi psikologis keluarga yang masih berduka.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi seluruh pihak—sekolah, orang tua, dan masyarakat—untuk lebih peka terhadap tanda-tanda tekanan psikologis pada remaja.
Satu ejekan kecil bisa menjadi beban besar bagi mereka yang menyimpannya sendiri.
Reporter: Tim SUKABUMISATU
Editor: Demi Pratama A. Putra







