Minggu,19 April 2026
Pukul: 03:19 WIB

Tragis di Balik Kresek Hitam: Potret Kelam Pembuangan Bayi di Kota Sukabumi

Tragis di Balik Kresek Hitam: Potret Kelam Pembuangan Bayi di Kota Sukabumi

Jumat, 18 Juli 2025
/ Pukul: 11:15 WIB
Jumat, 18 Juli 2025
Pukul 11:15 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

SUKABUMISATU.com | Sukabumi — Selasa pagi itu, 15 Juli 2025, suasana Jalan Koleberes di Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, tampak seperti biasa. Namun sekitar pukul 08.10 WIB, ketenangan warga dipecah oleh jeritan seorang pemulung yang baru saja menemukan sesuatu yang tak biasa dalam kantong plastik kresek hitam besar.

Isinya bukan sampah—melainkan sesosok bayi perempuan yang masih hidup, berlumur darah, dan tergeletak di pinggir jalan. Bayi malang itu nyaris tak punya kesempatan untuk menangis minta tolong. Tapi takdir berkata lain.

“Waktu itu saya lagi di tambal ban. Ada pemulung sama tukang bubur manggil, katanya nemu bayi. Saya cek langsung, dan benar, masih ada darahnya, dibungkus plastik kresek,” tutur Ade Sudrajat, Ketua RT setempat kepada sukabumisatu.com.

Sontak warga geger. Bayi segera dibawa ke Puskesmas Benteng untuk penanganan awal, lalu dirujuk ke RSUD R Syamsudin SH. Kini, ia masih dalam perawatan medis. Kondisinya stabil. Sehat. Tapi siapa ibunya? Siapa yang membuangnya?

Tak Sendiri: Fenomena yang Berulang

Baca Juga  Sah! AKBP Ary Setyawan Wibowo jadi Kapolres Sukabumi Kota

Kasus ini bukan yang pertama. Dari penelusuran sukabumisatu.com, sedikitnya dua kasus pembuangan bayi tercatat di wilayah Kota Sukabumi sejak Januari hingga Juli 2025. Sebagian besar motifnya seragam: takut akan aib, tekanan ekonomi, atau kehamilan di luar nikah.

Menurut data Dinas Sosial dan catatan kepolisian, bayi-bayi yang dibuang biasanya ditemukan di tempat yang sepi: pinggir jalan, kebun, atau toilet umum. Mirisnya, sebagian ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

“Motifnya macam-macam. Tapi yang sering terjadi adalah tekanan psikologis karena kehamilan tak diinginkan,” ujar AKP Astuti Setyaningsih, Kasi Humas Polres Sukabumi Kota.

Pihak kepolisian hingga kini masih menyelidiki pelaku pembuangan bayi di Koleberes. Beberapa kontrakan telah diperiksa, mencari sosok perempuan yang mungkin pernah hamil dan kini tak lagi tampak.

Di Balik Angka: Luka Sosial dan Beban Perempuan

Fenomena pembuangan bayi bukan sekadar soal hukum, melainkan luka sosial yang dalam. Di balik plastik kresek itu, tersimpan cerita tentang perempuan-perempuan yang berjuang sendirian: tertolak oleh keluarga, dijauhi masyarakat, dan dihakimi tanpa ampun.

Baca Juga  Dua Jabatan Kasat Di Polres Kota Sukabumi Resmi Pergantian Pejabat

“Sering kali ibu yang membuang bayi adalah korban. Korban hubungan tidak sehat, korban tekanan keluarga, bahkan korban kekerasan seksual,” kata Een Rukmini, Kepala Dinas Sosial Kota Sukabumi.

Ia menambahkan, stigma terhadap perempuan yang hamil di luar nikah masih begitu tinggi. Dalam kondisi mental yang goyah, mereka bisa mengambil keputusan irasional, termasuk menelantarkan bayinya.

Masalah ini diperparah oleh minimnya akses ke layanan konseling, edukasi seksualitas, serta tempat penampungan aman bagi ibu hamil di luar nikah.

Lalu Apa Solusinya?

Setelah proses penyelidikan selesai, Dinas Sosial akan menerima bayi perempuan tersebut secara resmi dan merujuknya ke Satuan Pelayanan Perlindungan Anak Balita (SPAB) di Bandung.

“Untuk proses adopsi pun tidak sembarangan. Harus memenuhi syarat usia, kesehatan mental, dan kemampuan finansial,” terang Een.

Namun solusi tak bisa hanya berhenti di titik adopsi. Perlu perubahan sistemik: pendidikan seksualitas yang komprehensif di sekolah, kampanye anti-stigma, layanan konseling gratis, dan rumah aman untuk ibu hamil dalam kondisi rentan.

Baca Juga  Pemilik Warkop Di Sukabumi Ditembak, Polisi Kantongi Identitas Pelaku

RSUD R Syamsudin SH, tempat bayi itu kini dirawat, memastikan sang bayi dalam keadaan sehat. “Sudah ditangani sejak awal di Puskesmas Benteng. Saat masuk ke kami, kondisinya relatif stabil dan bersih,” jelas dr Irfan Nugraha Triputra Irawan, Humas rumah sakit.

Refleksi: Siapa yang Salah?

Ketika seorang ibu membuang bayinya, masyarakat kerap menunjuk jari dan menyalahkan si ibu. Tapi apakah hanya dia yang bersalah?

 

Masyarakat yang tak memberi ruang untuk perempuan hamil di luar nikah, keluarga yang menolak darah daging sendiri, pasangan yang lepas tanggung jawab, hingga negara yang lamban menyediakan perlindungan—semua punya bagian dalam tragedi ini.

 

Bayi dalam kresek hitam itu mungkin selamat, tapi luka sosialnya masih tertinggal. Dan selama akar masalahnya belum ditangani, bukan tak mungkin—plastik-plastik hitam berikutnya akan kembali muncul di sudut-sudut kota kita.

Reporter: Tim Investigasi Sukabumisatu.com

Editor: Demi Pratama Adi Putra

Related Posts

Add New Playlist