SUKABUMISATU.com, Karawang – Di balik meja kerja seorang pejabat publik, semestinya tersimpan telinga yang sabar dan hati yang lapang. Sebab, kursi kepemimpinan bukan sekadar tempat mengukur kuasa, melainkan panggung pengabdian—di mana setiap suara, termasuk suara kritis seorang kuli tinta, adalah cermin kecil untuk melihat kekurangan diri.
Namun, pemandangan hangat itu tampaknya tak terlihat di Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, baru-baru ini.
Alih-alih merangkul, sebuah insiden kurang sedap justru mencederai indahnya relasi antara birokrat dan pers. Ketua DPD Asosiasi Pewarta Pers Indonesia (APPI) Kabupaten Karawang, Daman Huri, dengan nada prihatin mengecam keras sikap arogansi yang ditunjukkan oleh Camat Rengasdengklok.
Semua berawal dari niat mulia: membahas stunting, sebuah persoalan kemanusiaan yang menuntut kerja sama semua pihak atau yang dikenal dengan prinsip pentahelix. Sang camat sempat menyentil awak media di wilayahnya yang dianggap belum maksimal membantu menyebarkan sosialisasi program tersebut.
Sebagai jurnalis yang memegang teguh marwah profesi, salah satu wartawan kemudian maju meluruskan tanya. Ia mengonfirmasi secara elegan: apakah selama ini pihak media pernah benar-benar diundang untuk dilibatkan dalam agenda sosialisasi stunting tersebut?
Sebuah pertanyaan sederhana, jujur, dan berpijak pada fakta di lapangan.
Namun, bukannya menyambut dengan senyum atau jawaban menyejukkan, sang camat justru meradang. Alih-alih merangkul, ia memilih balik menginterogasi. Dengan nada menantang, ia melontarkan kalimat yang mengoyak profesionalisme, “Anda datang ke sini diundang apa tidak?”
Tak berhenti di situ, tensi kian memanas hingga terlontarlah kalimat yang membuat siapa pun pengabdi kata-kata merasa tertohok. “Teman saya wartawan banyak, yang bertanya seperti itu cuma kamu saja, siamah bedegong!”
Sebuah frasa dalam bahasa Sunda kasar yang menyematkan cap “kepala batu” atau “bandel” kepada seorang pencari berita. Di ruang publik, di hadapan nurani yang semestinya menjunjung tinggi etika, kata-kata itu meluncur begitu saja.
Menilik Cermin Ketelusan Sang Bupati
Menyikapi riak kecil yang melukai hati nurani pers ini, Daman Huri tidak tinggal diam. Dengan kepala dingin, ia menitipkan sebuah pesan reflektif yang sarat makna.
Daman berharap Camat Rengasdengklok mau merenung sejenak, menoleh ke atas, dan belajar banyak dari gaya komunikasi Bupati Karawang. Selama ini, sang bupati dikenal sebagai sosok pemimpin yang hangat, berjiwa besar, dan sama sekali tidak alergi terhadap kritik maupun pertanyaan kritis para wartawan. Di hadapan bupati, setiap tanya selalu dijawab dengan senyum, keterbukaan, dan kebijaksanaan.
Sebab pada akhirnya, wartawan bukanlah musuh yang harus ditaklukkan, melainkan mitra sejati dalam merajut kemajuan daerah. Tugas mereka adalah bertanya—membuka jendela informasi agar masyarakat luas bisa menghirup udara kebenaran.
Hingga berita ini diturunkan, DPD APPI Karawang dengan tegas menuntut adanya niat baik: sebuah klarifikasi dan permohonan maaf secara terbuka dari sang camat. Bukan sekadar demi memulihkan harga diri profesi jurnalis, melainkan demi mengembalikan marwah pelayan publik yang semestinya menjadi teladan keteduhan di tengah masyarakat.
Karena jabatan bisa usang, kekuasaan bisa berlalu, tetapi tutur kata yang santun dan kerendahan hati akan abadi merawat ingatan publik. (Redaksi)












