Sungai Cisolok dan Kisah yang Tak Pernah Usai: Banjir 2025 Jadi Pengingat Luka Lama

Sungai Cisolok dan warga yang terdampak Banjir. Selasa, (28/10/25).

SUKABUMISATU.comSungai Cisolok kembali menorehkan kisah pilu pada Senin sore (27/10/2025). Air bah dari hulu membawa lumpur dan material besar, melumat rumah-rumah warga serta puluhan kios di Pasar Cisolok yang berdiri di bibir sungai.

Namun di balik derasnya arus air itu, tersimpan catatan panjang tentang keteguhan warga yang tak pernah benar-benar pergi dari tepian sungai ini.

Bagi Dudun (70), warga Kampung Cisolok, banjir kali ini bukan yang pertama. Ia masih mengingat jelas dua peristiwa besar sebelumnya: tahun 1991 dan 2001.

“Dulu sekitar tahun 2001 juga pernah banjir, tapi waktu itu cuma 12 rumah yang diungsikan. Sekarang mah lebih parah, airnya gede pisan,” ujarnya lirih.

Menurutnya, banjir tahun 1991 hanya menenggelamkan belasan rumah dan meninggalkan retakan di jembatan lama. Namun sepuluh tahun kemudian, pada 2001, air kembali naik dan memutus jembatan penghubung jalan provinsi. Kini, di tahun 2025, peristiwa serupa terulang — dengan arus yang jauh lebih cepat dan ganas.

Baca Juga  Permukiman Kampung Sawah Tengah Lenyap, Kapolsek Simpenan Soroti Perlunya Penanganan Cepat

Dedi Supriadi (45), warga lainnya, menyebut bahwa air kali ini datang lebih deras dan membawa material dalam sekejap.

“Hampir sama kayak tahun 2001, tapi sekarang airnya lebih galak. Bawa batu, kayu, bahkan jembatan penghubung Desa Cisolok dan Kampung Tugu di Desa Cikahuripan ikut hanyut,” katanya.

Meski berkali-kali diterjang bencana, warga Cisolok tak pernah kehilangan harapan. Tidak ada korban jiwa, hanya luka di hati dan kerugian yang belum seluruhnya terhitung.

Desa Cikahuripan, yang dibelah aliran Sungai Cisolok, memiliki luas sekitar 702 hektare dengan 7.657 jiwa penduduk yang tersebar di 4 dusun, 15 RW, dan 38 RT. Dari wilayah ini, Kampung Tugu menjadi titik terdampak terparah. Sebanyak 500 kepala keluarga atau sekitar 1.500 jiwa terpaksa mengungsi setelah air menerjang rumah, sekolah, dan rumah ibadah.

Jembatan kecil penghubung antar desa di Kadus I (Tugu) putus diterjang longsor. Sementara di tepian sungai, sekitar 20 kios pasar tradisional luluh lantak terseret arus.

Baca Juga  5 Desa 500 KK di Cisolok Terdampak Bencana, Pemda Sukabumi Siapkan Pengungsian

“Habis semua, bangunan sama isi dagangan ikut kebawa. Bahkan pos linmas tempat saya jaga juga ikut hanyut,” kata Dudun, yang juga pengurus pasar, dengan mata berkaca-kaca.

Menariknya, bagi warga setempat, banjir bukan sekadar bencana alam — melainkan bagian dari identitas kampung mereka. Kampung Gemol di Kedusunan Tugu, misalnya, memiliki arti “membawa” dalam bahasa Sunda. Nama itu diyakini menyimpan makna tersendiri.

“Air di sini memang ‘ngagemol’ — membawa apa saja yang dilewati. Tapi kami juga percaya, ia membawa rezeki dan pelajaran buat kami,” ucap Dedi pelan.

Kini, setelah air surut, petugas dan relawan masih membersihkan material lumpur yang menutupi jalanan. Anak-anak mulai kembali berlarian di halaman rumah yang tersisa, sementara para orang tua menatap aliran sungai dengan perasaan campur aduk — waspada, tapi tetap berharap.

Baca Juga  Walhi Minta Polri Turun Tangan Selidiki Penyebab Bencana Alam Sukabumi

Dari catatan sejarah hingga hari ini, Sungai Cisolok bukan hanya saksi bencana, tapi juga keteguhan manusia-manusia yang hidup di sekitarnya.

Warga Gemol, Tugu, dan Cikahuripan seolah ingin berkata: meski air datang dan pergi, mereka akan tetap bertahan — menjaga kampung, menjaga cerita. (Demi Pratama Adiputra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *