Pengamat IT dan Lingkungan Dorong Pemkab Sukabumi Gunakan AI untuk Kelola Sumber Daya Alam

Gunung Gede dan Pantai Palabuhanratu Sukabumi.

SUKABUMISATU.com — Kabupaten Sukabumi dianugerahi bentang alam yang tergolong paling lengkap di Jawa Barat. Kehadiran gunung, rimba, laut, pantai, hingga sungai berada dalam satu hamparan geografis yang saling terhubung. Namun, kekayaan luar biasa ini dinilai belum sepenuhnya terkelola secara optimal dan berkelanjutan.

​Pemerhati Lingkungan dan Teknologi Informasi, Ir. Hendra Dirdja Triana, M.M., Ph.D., menegaskan bahwa saatnya Pemerintah Kabupaten Sukabumi mengubah paradigma pembangunan dari sekadar mengeruk sumber daya (resources) menjadi mengelola modal alam (natural capital).

​Gagasan GURILAPS (Gunung, Rimba, Laut, Pantai, dan Sungai) sudah lama terdengar, namun sepertinya hanya sebagai simbol tanpa implementasi yang jelas.

​”Pertanyaannya hari ini bukan lagi apakah Sukabumi kaya? Jawabannya jelas sangat kaya. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa besar sumber daya tersebut telah dimanfaatkan secara produktif, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat lokal,” ujar Hendra saat diwawancarai sukabumisatu.com, Senin (14/09/2026).

​Satu Kesatuan Ekosistem: Kerusakan Hulu Adalah Ancaman Hilir

​Menurut Hendra, selama ini pengelolaan sektor lingkungan dan ekonomi kerap berjalan sendiri-sendiri secara parsial. Padahal, lima elemen GURILAPS merupakan satu rangkaian sistem kehidupan yang tidak bisa dipisahkan.

Baca Juga  Desa Tenjojaya Gelar Perayaan Hari Jadi ke-40, Angkat Seni Budaya dan Potensi Lokal

​”Gunung, rimba, sungai, pantai, dan laut itu saling terhubung. Kerusakan hutan di hulu akan berdampak pada sedimentasi sungai, memicu banjir, hingga akhirnya mencemari pantai dan merusak ekosistem laut. Menerapkan konsep one river–one ecosystem adalah keharusan,” jelasnya.

​Ia menambahkan, pengelolaan sektor laut juga harus didorong melalui pendekatan blue economy. Nelayan Sukabumi tidak boleh terus-menerus hanya menjual ikan mentah, melainkan harus diperkuat dengan rantai dingin (cold chain), pengolahan modern, hingga pemasaran digital agar nilai tambah ekonomi mengendap di daerah.

​Sementara untuk sektor pariwisata pantai, Hendra mengingatkan pentingnya memperhatikan carrying capacity (daya dukung lingkungan).

​”Indikator keberhasilan pariwisata jangan cuma dihitung dari berapa banyak wisatawan yang datang berjejal. Yang lebih penting adalah berapa lama mereka tinggal (length of stay), berapa besar pengeluaran mereka, dan berapa banyak UMKM lokal yang terserap,” tegas pakar IT tersebut.

Baca Juga  Badong, Wisata Bahari Baru di Palabuhanratu, Serasa Mancing di Kapal Pesiar Pribadi

​Dorong GURILAPS Intelligence Map Berbasis AI

​Sebagai pakar yang menggeluti dunia teknologi informasi, Hendra menilai pengelolaan lingkungan masa kini tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional. Kabupaten Sukabumi membutuhkan sistem pemetaan terpadu berbasis data cerdas yang ia sebut GURILAPS Natural Resources Intelligence System.

​Sistem ini menggabungkan Sistem Informasi Geografis (GIS), pemanduan citra satelit, data kehutanan, data pesisir, hingga risiko bencana yang dianalisis menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

​”Dengan AI, kita bisa memprediksi perubahan tutupan lahan, menganalisis daya dukung wisata, hingga mengukur kesesuaian investasi secara presisi. Pemerintah tidak hanya memegang peta lokasi, tetapi memiliki peta nilai (value) dan peta risiko (risk),” paparnya.

​Kesejahteraan Masyarakat Jadi Ukuran Utama

​Mengakhiri perbincangan, Hendra menekankan bahwa sebesar apa pun potensi dan canggihnya teknologi yang digunakan, muara dari utilisasi GURILAPS harus dirasakan langsung oleh warga Sukabumi.

Baca Juga  Manisnya Pantai Palabuhanratu, Kapolres Sukabumi Bagi-bagi Ratusan Es Krim ke Bocah Pesisir

Pembangunan berkelanjutan harus memenuhi tiga ukuran utama: Economic Value, Ecological Value, dan Social Value.

​”Investasi yang masuk jangan sampai membuat warga lokal hanya menjadi penonton atau buruh murah. Pembangunan berbasis komunitas (community-based development) harus diutamakan. Pembangunan sejati bukanlah tentang seberapa banyak kekayaan alam yang kita ambil hari ini, melainkan seberapa cerdas kita mengubahnya menjadi kesejahteraan tanpa merusak sumber kehidupan generasi mendatang,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *