Minggu,17 Mei 2026
Pukul: 18:08 WIB

Badong, Wisata Bahari Baru di Palabuhanratu, Serasa Mancing di Kapal Pesiar Pribadi

Badong, Wisata Bahari Baru di Palabuhanratu, Serasa Mancing di Kapal Pesiar Pribadi

Kamis, 23 Oktober 2025
/ Pukul: 17:25 WIB
Kamis, 23 Oktober 2025
Pukul 17:25 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

SUKABUMISATU.com – Berawal dari hobi memancing yang kerap menguras kantong, Herdiana atau yang akrab disapa Bang Dul, warga Kampung Muara Citepus, Palabuhanratu, berhasil mengubah kegemarannya menjadi peluang wisata bahari yang kini banyak diminati. Ia adalah sosok di balik lahirnya Badong, inovasi perahu bagang yang dimodifikasi menjadi sarana memancing ramah lingkungan di perairan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.

Bang Dul juga dikenal sebagai pendiri Komunitas Wisata Bahari Palabuhanratu, bersama teman-teman sehobi yang sama-sama ingin memperkenalkan potensi laut selatan sebagai wisata edukatif dan rekreatif. Dari komunitas inilah konsep wisata mancing modern mulai berkembang dan menarik banyak wisatawan lokal maupun luar daerah.

Ia menuturkan, ide Badong muncul dari keprihatinannya terhadap praktik penangkapan ikan menggunakan pagang atau bagang dengan jaring waring yang sering kali menangkap ikan-ikan kecil tanpa seleksi.

“Kalau ikan kecil terus diambil, ikan besar nanti makan apa? Saya ingin alat tangkap yang lebih bijak dan tetap bisa dinikmati penghobi mancing,” ujarnya.

Baca Juga  Proyek Camping Ground Panenjoan: Antara Keindahan Alam, Masalah Lahan dan Harapan
Bagan Badongan di Pantai Palabuanratu.

Dari situlah lahir konsep Badong — perahu bagang yang dimodifikasi agar lebih fungsional dan ramah lingkungan. Kini, setiap unit Badong dilengkapi tempat tidur, alat memasak, hingga toilet, sehingga para pemancing bisa menikmati pengalaman memancing yang nyaman di tengah laut.

“Badong ini terbuat dari rangkaian bambu yang disusun di atas drum plastik, dengan atap seperti rumah agar lebih nyaman saat memancing. Jadi bukan cuma alat tangkap, tapi juga tempat rekreasi di laut,” jelas Bang Dul.

Menariknya, peminat Badong tak hanya berasal dari masyarakat sekitar Palabuhanratu. Wisata bahari ini kini menjadi magnet bagi komunitas mancing dan kelompok pemancing dari berbagai daerah, termasuk wilayah Jabodetabek. Setiap akhir pekan dan hari libur, kawasan ini ramai dikunjungi ratusan wisatawan dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, hingga Bandung dan Cianjur.

Baca Juga  Dispar Kabupaten Sukabumi Gelar Festival Foto dan Video Pariwisata PESPOTVIT 2025

Dengan tarif sekitar Rp150 ribu per orang, pengunjung sudah bisa menikmati pengalaman memancing lengkap dengan umpan dan fasilitas di atas Badong. Mereka juga berkesempatan menangkap berbagai jenis ikan endemis Laut Selatan seperti layur, kakap, tenggiri, hingga giant trevally.

Kini, wisata mancing Badong menjadi ikon wisata bahari baru di Palabuhanratu sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat pesisir. Bagi Bang Dul, keberadaan Badong bukan sekadar bisnis, melainkan juga upaya menjaga kelestarian laut melalui cara tangkap ikan yang bertanggung jawab.

“Sekarang Badong itu sudah bagus-bagus desainnya. Saya sarankan para pengusaha Badong membuatnya lebih nyaman dari sebelumnya. Fasilitasnya lengkap — ada toilet, air wudhu, mushola, kamar tidur dengan kasur, bahkan bisa karaokean. Jadi selain untuk memancing, juga bisa wisata keluarga di tengah laut. Bisa masak, bakar ikan, dan bersantai bareng keluarga,” tuturnya.

Baca Juga  Sekda Ade Suryaman Terima Audiensi PT Saceks Creativision Bahas Produksi Film Promosi Pariwisata

Ia menambahkan, jika dulu biaya sekali mancing di laut bisa mencapai Rp3,6 juta, kini cukup dengan Rp150 ribu per orang.

“Kapasitas Badong bisa sampai 10 orang, lengkap dengan semua fasilitas itu. Jadi lebih terjangkau dan seru,” ujarnya sambil tersenyum.

Saat malam tiba, pemandangan Badong di tengah laut Palabuhanratu tampak berkelipan bagai bintang di permukaan air. Ratusan lampu dari perahu-perahu tersebut menciptakan suasana malam yang syahdu dan semarak, menjadi pemandangan khas yang memanjakan mata setiap kali memandang ke arah laut.

Sebuah harmoni antara tradisi nelayan, inovasi, dan pariwisata — lahir dari tangan seorang penghobi mancing yang jatuh cinta pada lautnya sendiri.

 

Editor: Demi Pratama Adiputra

Related Posts

Add New Playlist