Jampang Kulon–Surade–Ujung Genteng: Koridor Ekonomi Hijau Sukabumi yang Belum Tergarap

Foto Udara, Pantai Ujung Genteng dan Kawasan Curug Cikaso.

Oleh: Ir. Hendra Dirdja Triana, M.M., Ph.D.

(Pemerhati Lingkungan dan Teknologi Informasi)

SUKABUMISATU.com – Kabupaten Sukabumi memiliki sebuah paradoks pembangunan. Daerah ini dianugerahi wilayah yang luas, sumber daya alam yang beragam, bentang alam yang indah, dan masyarakat yang memiliki tradisi agraris serta maritim. Namun, sebagian potensi tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi kekuatan ekonomi lokal yang terintegrasi dan berkelanjutan.

​Salah satu kawasan yang layak mendapat perhatian adalah Jampang Kulon–Surade–Ujung Genteng. Tiga kawasan ini memiliki karakter yang berbeda, tetapi justru dapat saling melengkapi. Jampang Kulon memiliki basis pertanian dan perkebunan. Surade memiliki fungsi sosial-ekonomi dan perdagangan masyarakat kawasan selatan. Sementara Ujung Genteng memiliki kekuatan wisata pesisir dan alam.

​Pertanyaan kritisnya adalah: Mengapa ketiganya belum dikembangkan secara lebih kuat sebagai satu koridor ekonomi?

​Bukan Kekurangan Potensi

​Masalah utama kawasan ini tampaknya bukan ketiadaan sumber daya. Pertanian menyediakan pangan dan bahan baku. Perkebunan menyediakan komoditas jangka panjang. Pesisir menyediakan sumber daya kelautan. Ujung Genteng menyediakan daya tarik wisata. Masyarakat menyediakan tenaga, pengetahuan lokal, dan kewirausahaan.

​Namun, potensi tersebut sering berkembang secara sektoral. Petani berproduksi sendiri, pelaku UMKM berjalan sendiri, destinasi wisata dipromosikan sendiri, dan pedagang mencari pasar sendiri. Akibatnya, nilai ekonomi yang seharusnya berputar di dalam kawasan dapat bocor ke luar daerah.

​Padahal logikanya sederhana. Jika wisatawan datang ke Ujung Genteng, seharusnya sebagian kebutuhan mereka dapat dipasok oleh petani, nelayan, perkebunan, dan UMKM di Jampang Kulon serta Surade.

Dengan demikian terbentuk rantai: Pertanian → Pengolahan → Distribusi → Pariwisata → Konsumsi → Pendapatan Masyarakat. Inilah yang disebut local economic multiplier.

​Ujung Genteng Jangan Hanya Menjadi Tempat Tujuan

​Ujung Genteng sudah dikenal sebagai kawasan wisata pesisir dan memiliki kawasan penting seperti Pantai Pangumbahan yang berkaitan dengan konservasi penyu. Tetapi pertanyaan berikutnya harus lebih jauh:

Baca Juga  Sobekan Alquran Berserakan di Depan GOR Surade Sukabumi

Berapa besar belanja wisatawan yang benar-benar masuk ke ekonomi masyarakat sekitar?

Berapa persen makanan hotel dan restoran berasal dari petani lokal?

​Berapa banyak produk UMKM Sukabumi yang dijual kepada wisatawan?

​Berapa banyak tenaga kerja lokal yang terserap?

Berapa lama wisatawan tinggal?

​Berapa besar nilai ekonomi yang tercipta dari setiap wisatawan?

​Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar menghitung jumlah pengunjung. Karena jumlah wisatawan tidak otomatis berarti kesejahteraan masyarakat meningkat.

​Jampang Kulon dan Surade sebagai Supply Base

​Jika Ujung Genteng menjadi tourism demand center, maka kawasan Jampang Kulon dan Surade dapat dikembangkan sebagai regional supply base.

​Produk pertanian dapat masuk ke rantai pasok hotel, restoran, dan kuliner. Komoditas perkebunan dapat dikembangkan menjadi produk olahan. Produk UMKM dapat menjadi bagian dari suvenir dan ekonomi kreatif. Hasil laut dapat masuk ke industri pengolahan pangan. Desa-desa dapat mengembangkan agrowisata dan ekowisata.

​Dengan demikian, wisatawan tidak hanya “datang ke pantai”. Mereka mengonsumsi produk dari seluruh ekosistem ekonomi kawasan.

Di Mana Peta Potensinya?

​Di sinilah teknologi informasi seharusnya memainkan peranan. Kita membutuhkan Natural Resources & Tourism Intelligence Map Jampang Kulon–Surade–Ujung Genteng.

​Peta ini bukan sekadar peta lokasi wisata. Ia harus memuat potensi lahan, pertanian, perkebunan, peternakan, kelautan, UMKM, wisata, infrastruktur, pasar, investasi, risiko bencana, dan kawasan konservasi.

​Dengan teknologi GIS, citra satelit, drone, kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan basis data ekonomi lokal, pemerintah dapat mengetahui secara lebih presisi:

  • ​lahan mana yang produktif;
  • ​komoditas apa yang dominan;
  • ​lokasi UMKM;
  • ​destinasi mana yang berkembang;
  • ​kawasan mana yang membutuhkan infrastruktur;
  • ​jalur distribusi mana yang paling efisien;
  • ​kawasan mana yang rawan bencana; serta
  • ​lokasi mana yang memiliki peluang investasi.
Baca Juga  Apresiasi Desa Pesisir Bersinar, Wabup Iyos: Garda Terdepan Untuk P4GN di Kabupaten Sukabumi

​Dengan kata lain: kita harus mengetahui nilai kawasan berdasarkan data, bukan hanya berdasarkan perkiraan.

Jangan Sampai Investasi Mengorbankan Alam

​Namun, investasi bukan jawaban tunggal. Kawasan selatan Sukabumi memiliki karakter ekologis yang sensitif. Pembangunan yang tidak terkendali dapat menimbulkan tekanan terhadap air, hutan, pesisir, biodiversitas, dan daya dukung lingkungan.

​Karena itu, koridor ekonomi yang dibangun harus memiliki tiga kaki: Economic Value, Environmental Value, dan Social Value.

​Jika hanya mengejar ekonomi, alam menjadi korban. Jika hanya mengejar konservasi tanpa memperhatikan ekonomi masyarakat, masyarakat dapat kehilangan pilihan mata pencaharian. Dan jika masyarakat tidak dilibatkan, pembangunan akan kehilangan legitimasi sosial. Maka konsep yang tepat adalah Green Economic Corridor.

Yang Dibutuhkan Bukan Sekadar Program Baru

​Kawasan ini tidak selalu membutuhkan proyek baru yang besar. Yang lebih penting adalah mengintegrasikan program yang sudah ada:

  • ​Pertanian dihubungkan dengan pariwisata.
  • ​Perkebunan dihubungkan dengan industri pengolahan.
  • ​UMKM dihubungkan dengan pasar wisata.
  • ​Desa dihubungkan dengan ekowisata.
  • ​Infrastruktur dihubungkan dengan pusat produksi.
  • ​Data pemerintah dihubungkan dengan kebutuhan investor.
  • ​Seluruhnya dihubungkan dalam satu regional development intelligence system.

​Siapa yang Harus Memulai?

​Pertanyaan ini penting. Pemerintah Kabupaten Sukabumi memiliki peran sebagai regulator dan orkestrator. Pemerintah kecamatan dan desa menjadi penghubung dengan masyarakat. Pelaku usaha menjadi penggerak investasi dan rantai nilai. Perguruan tinggi menyediakan riset. Komunitas menjadi penjaga lingkungan dan budaya. Sementara masyarakat harus menjadi pemilik manfaat utama.

​Model seperti ini jauh lebih sehat daripada pembangunan yang hanya bertumpu pada investasi dari luar.

​Dari “Wilayah Potensial” Menjadi “Wilayah Bernilai”

​Sudah terlalu lama banyak wilayah di Indonesia disebut “memiliki potensi”. Tetapi potensi tidak memiliki arti ekonomi apabila tidak dipetakan, dihitung, dihubungkan, dan dikelola.

Baca Juga  Isu Kelapa Ditebang Paksa Diganti Sawit di Surade, SPI Desak Distan Bertindak

​Jampang Kulon–Surade–Ujung Genteng memiliki kesempatan untuk keluar dari paradigma tersebut. Kita perlu mengubah:

  • ​Potential Area menjadi Investment-Ready Area.
  • ​Investment-Ready Area menjadi Sustainable Economic Corridor.
  • ​Sustainable Economic Corridor menjadi Green Economic Growth Center Kabupaten Sukabumi.

Saatnya Melihat Sukabumi Selatan dengan Cara Berbeda

​Jampang Kulon, Surade, dan Ujung Genteng jangan lagi dipandang sebagai wilayah yang berada “di ujung” Kabupaten Sukabumi. Justru posisinya dapat menjadi kekuatan.

​Pertanian menyediakan bahan baku. Perkebunan menyediakan natural capital. UMKM menciptakan nilai tambah. Ujung Genteng menarik wisatawan. Dan teknologi menghubungkan semuanya.

​Karena itu, yang diperlukan sekarang bukan sekadar promosi potensi. Yang diperlukan adalah keberanian melakukan audit potensi secara menyeluruh:

  • ​Berapa nilai tanahnya?
  • ​Berapa nilai produksinya?
  • ​Berapa nilai ekonominya?
  • ​Berapa nilai ekologisnya?
  • ​Berapa kebutuhan investasinya?
  • ​Berapa lapangan kerja yang dapat diciptakan?

​Dan yang paling penting: berapa besar manfaat yang benar-benar akan kembali kepada masyarakat Sukabumi Selatan?

​Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan data, maka kawasan ini tidak lagi sekadar disebut memiliki potensi. Ia dapat menjadi koridor ekonomi hijau baru Kabupaten Sukabumi. Potensinya sudah ada. Yang belum ada adalah integrasi kekuatannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *