Nestapa Kemarau di Cibadak: Sawah Gagal Panen, Mandi Pun Warga Harus Rebutan Air ‘Kobak’

Kekeringan melanda Kecamatan Cibadak Sukabumi. Rabu, (15/07/2026).

SUKABUMISATU.com, CIBADAKKrisis air bersih akibat kemarau panjang kian meluas dan mencekik kehidupan masyarakat di wilayah Sukabumi. Di Kampung Babakansari, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, warga terpaksa harus memanfaatkan kubangan air kali (kobak) yang kotor demi bisa bertahan hidup sehari-hari.

​Pantauan di lokasi pada Rabu (15/07/2026), dampak kekeringan di wilayah ini sudah sangat memprihatinkan. Satu RW dilaporkan mengalami krisis air bersih yang parah selama tiga bulan terakhir. Tidak hanya menyulitkan warga untuk kebutuhan domestik, kemarau ini juga menyebabkan hektaran sawah di wilayah Desa Sekarwangi mengalami gagal panen.

Warga Terpaksa Mandi di Air Kubangan (Kobak) yang Kotor

​Ketua RT 04 RW 17, Pak Jengki, mengungkapkan bahwa warga di lingkungannya kini tidak memiliki banyak pilihan. Untuk mencukupi kebutuhan MCK (Mandi, Cuci, Kakus), warga memanfaatkan aliran kali yang mulai mengering dengan membuat kobak atau kubangan air darurat.

​”Kali ini kan kondisinya sangat kotor, tapi karena kesulitan air, warga tetap memanfaatkannya ke bagian aliran bawah. Daripada enggak mandi, ya dimanfaatkan saja air kotor ini,” ujar Pak Jengki saat ditemui di sela-sela kegiatannya membersihkan sampah di kali pada Rabu (15/07/2026).

Baca Juga  Proyek Geothermal Bayangi Sumber Air Cikakak, Rivera Sukabumi Ajak Warga Siaga Kekeringan

​Melihat kondisi air darurat yang kotor, Pak Jengki bersama warga berinisiatif turun langsung untuk membersihkan tumpukan sampah di aliran kali tersebut agar air yang tergenang di kubangan tidak semakin tercemar.

Mengantre Siang Hari demi Menghindari Rebutan Air

​Kesulitan serupa juga diungkapkan oleh Ibu Icin, salah seorang warga Kampung Babakansari. Ia mengaku harus jeli mengatur waktu untuk mengambil air demi kebutuhan dapur dan mencuci sayur.

​Menurutnya, banyak warga yang sengaja memilih mengantre di siang hari. Sebab, jika mengambil air pada sore atau malam hari, mereka harus berebutan karena debit air yang keluar dari celah mata air darurat tersebut sudah sangat kecil (sakedik-kedikna).

Baca Juga  Simpang Ratu Cibadak Macet Parah, Antrean Kendaraan Mengular hingga 5 Kilometer

Kebutuhan MCK & Cuci Pakaian: Menggunakan air kubangan kali yang telah dibersihkan secara gotong royong.

Kebutuhan Air Minum: Warga terpaksa merogoh kocek untuk membeli air isi ulang ke area kota karena air kali tidak layak konsumsi.

Pertanian Warga: Hektaran sawah di sekitar pemukiman dipastikan gagal panen akibat tidak adanya pasokan air.

​”Mandi mah kami di air kali ini, kadang airnya dicelembakin (dibendung kecil). Kalau musim kemarau begini airnya kecil sekali, makanya kalau sore atau malam sering berebutan,” ungkap Ibu Icin getir.

Warga Menanti Bantuan Pasokan Air Bersih

​Mewakili suara warga satu RW di Kampung Babakansari, pihak pengurus RT dan warga setempat sangat berharap adanya perhatian dan bantuan pasokan air bersih dari pemerintah daerah maupun instansi terkait.

​Di samping itu, Pak Jengki memberikan imbauan keras kepada seluruh masyarakat untuk menjaga kebersihan kali darurat ini dengan tidak membuang sampah sembarangan. Di tengah kondisi sulit seperti saat ini, aliran kali tersebut merupakan satu-satunya tumpuan warga untuk bertahan hidup.

Baca Juga  “Akhirnya Kami Tak Perlu Jauh-Jauh Cari Air”: Harapan Warga Cisireum Saat TMMD Hadirkan Sumur Bor

​”Tolong dijaga kebersihannya, jangan membuang sampah sembarangan karena air ini sangat dibutuhkan oleh warga kami di sini. Ini juga demi menjaga kesehatan kita bersama,” pungkas Pak Jengki.

Reporter: Suhendi Soex

Editor: Demi Pratama Adiputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *