SUKABUMISATU.com – Malam kian larut di sudut Kota Sukabumi, Jawa Barat, namun langkah kaki Hastuti tidak juga memelan. Ibu rumah tangga ini baru saja melewati tiga lapak pedagang buah yang tutup dengan tangan hampa. Misinya malam itu hanya satu: menemukan sebutir buah pir. Bukan untuk hidangan makan malam keluarga, melainkan sebagai syarat mutlak yang harus dibawa anaknya untuk Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) keesokan harinya. Selasa, (14/07/2026).
Perjuangan Hastuti adalah cerminan dari kecemasan massal para orang tua murid di Sukabumi dalam beberapa hari terakhir. Komoditas buah pir—khususnya varietas Century yang biasanya melimpah—mendadak lenyap dari peredaran. Paradoks ini lahir dari titik temu dua agenda besar: gelombang MPLS yang mewajibkan bekal buah sehat, dan masifnya penyerapan komoditas buah untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tingkat lokal. Akibatnya, rantai pasok terguncang, dan pasar tradisional kehabisan stok.
Satu Lapak Tersisa di Tengah Kelangkaan
Di tengah kepanikan para wali murid, lapak “BJ Buah Barokah” yang dikelola oleh Rendi menjadi satu-satunya oase yang tersisa. Terletak di pasar tradisional Sukabumi, lapak Rendi mendadak diserbu puluhan orang tua yang panik mencari buah pir sejak sore hingga malam hari.
”Kebetulan diperlukan untuk MBG sama keperluan anak sekolah yang lagi musim pir nih. Lagi viral, sempat ramai tadi orang-orang nyari sampai malam,” ujar Rendi saat ditemui sukabumisatu.com dilapaknya.
Dalam kurun waktu satu hari saja, Rendi mengaku mampu menjual hingga 10 dus buah pir—seluruhnya terserap untuk kebutuhan anak sekolah dan konsumsi program gizi. Di tengah hukum ekonomi penawaran dan permintaan (supply and demand) yang biasanya melambungkan harga saat barang langka, Rendi memilih jalan kompromi demi membantu para orang tua.
Ia menjual pir tersebut seharga Rp35.000 per kilogram, atau Rp10.000 per butir untuk pembelian eceran. Bagi orang tua seperti Hastuti, harga tersebut tidak lagi menjadi soal.
”Saya keliling-keliling tidak ada, kosong semua. Untung di sini masih ada stok. Lega rasanya, ya namanya juga perjuangan demi anak agar bisa ikut MPLS dengan lancar besok,” ungkap Hastuti dengan nada lega.
Mengenal Pyrus pyrifolia: Komoditas Asia Timur yang Diperebutkan
Secara ilmiah, buah pir yang tengah diperebutkan ini memiliki nama latin Pyrus pyrifolia. Di pasar lokal Indonesia, ia lebih akrab dengan sebutan Pir Century atau Pir Madu, sementara secara global dikenal sebagai Asian Pear atau Sand Pear.
Varietas ini merupakan tanaman asli dari wilayah Asia Timur, tumbuh subur di negara Cina, Jepang, dan Korea. Karakteristik fisiknya sangat berbeda dengan pir Eropa (Pyrus communis) yang berbentuk mirip lonceng. Pir Century berbentuk bulat menyerupai buah apel dengan kulit kuning mulus.
Keunggulan utamanya terletak pada kandungan airnya yang sangat tinggi (mencapai 85–90%), kaya akan serat pektin, Vitamin C, serta tekstur daging buah yang sangat renyah (crispy) dan tidak mudah lembek. Sifatnya yang menyegarkan dan memiliki daya simpan lama tanpa perlu perlakuan khusus menjadikannya pilihan utama dalam penyusunan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjaga hidrasi serta asupan serat harian anak-anak.
Ketika Kebijakan Makro Menghantam Logistik Mikro
Kelangkaan buah pir di Sukabumi mengirimkan sinyal penting mengenai tata kelola logistik pangan dan sinkronisasi kebijakan publik. Program MBG yang diusung pemerintah memiliki tujuan mulia untuk memperbaiki status gizi anak-anak secara masif. Namun, penyerapan komoditas pangan dalam skala besar tanpa memperhitungkan kapasitas pasokan pasar lokal kerap kali melahirkan eksternalitas negatif di tingkat akar rumput.
Dalam kasus ini, penyerapan massal buah pir untuk MBG langsung memicu kelangkaan di tingkat retail (eceran). Situasi kemudian diperparah oleh kebijakan mikro institusi pendidikan (sekolah) yang masih memberlakukan syarat administratif kaku pada MPLS—seperti keharusan membawa jenis buah tertentu yang spesifik, tanpa melihat dinamika riil ketersediaan barang di pasar.
Malam itu, Hastuti mungkin bisa bernapas lega setelah mengamankan sebutir pir dari lapak Rendi. Namun, kasus ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi para pembuat kebijakan. Tanpa adanya integrasi data pasokan pangan dan fleksibilitas aturan di sekolah, niat baik untuk menyehatkan anak bangsa justru berisiko membebani isi dompet dan waktu para orang tua di tingkat bawah.
Reporter: Suhendi Soex
Editor: Demi Pratama Adiputra












