Sabtu,18 April 2026
Pukul: 14:46 WIB

Menggugat Syahwat Kekuasaan di Tubuh KNPI Sukabumi, Antara Stempel vs Kontribusi

Menggugat Syahwat Kekuasaan di Tubuh KNPI Sukabumi, Antara Stempel vs Kontribusi

Selasa, 30 Desember 2025
/ Pukul: 23:04 WIB
Selasa, 30 Desember 2025
Pukul 23:04 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

SUKABUMISATU.com – Alih-alih menjadi kawah candradimuka bagi calon pemimpin masa depan, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Sukabumi justru kembali terjebak dalam pusaran konflik klasik: Dualisme Kepemimpinan.

​Menutup tahun 2025, publik disuguhi tontonan “dua matahari” yang saling klaim legitimasi. Di satu sisi, kubu Yandra Utama Santosa telah bergerak dengan restu pelantikan sejak September lalu. Namun di sisi lain, terpilihnya Gilang Gusmana melalui Musda XVI di Selabintana akhir Desember ini, seolah menegaskan bahwa rekonsiliasi pemuda di Sukabumi masih sebatas mitos.

 

Pemuda Menjadi “Anak Yatim” Organisasi

​Kritik tajam mulai berdatangan dari berbagai kalangan aktivis. Dualisme ini dinilai bukan lagi soal perbedaan visi pembangunan, melainkan murni perebutan eksistensi dan akses terhadap kekuasaan. Dampaknya, program pemberdayaan pemuda dikhawatirkan hanya berhenti di level seremoni dan klaim administratif.

Baca Juga  Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Minta Kontraktor Proyek Jalan Jaga Kualitas Hasil Kerja

​”Jika elitnya sibuk memperebutkan kursi dan stempel, siapa yang mengurus pengangguran pemuda di pelosok? Pemuda hari ini seolah kehilangan induk yang fokus bekerja,” ujar Aden Syaripudin salah satu pengamat sosial politik di Sukabumi.

 

Bom Waktu Dana Hibah

​Sikap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi yang cenderung “bermain aman” juga memicu polemik. Kehadiran pejabat daerah di kedua kubu dalam kesempatan berbeda menciptakan kebingungan di tengah masyarakat.

​Sikap pasif ini disebut-sebut sebagai bom waktu bagi tata kelola keuangan daerah. Jika pemerintah ceroboh mengucurkan dana hibah kepada organisasi yang sedang bersengketa, hal ini berpotensi menjadi temuan hukum di masa depan. Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) serta Kesbangpol kini berada di posisi sulit:

  • ​Memihak: Akan dicap tidak netral.
  • ​Membiarkan: Menghambat penyerapan anggaran kepemudaan.
Baca Juga  Desakan Mundur Dicabut dan Demo Dibatalkan, Yudha Sukmagara: Alhamdulillah Umar Akui Kesalahannya

Pesan Sejuk Yudha Sukmagara: “Sudahi Ego Sektoral”

​Di tengah memanasnya suhu internal KNPI, suara penyejuk datang dari tokoh senior kepemudaan yang juga Ketua DPC Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Yudha Sukmagara.

​Sebagai sosok yang memiliki kedekatan emosional dengan dunia organisasi, Yudha mengaku mendukung kedua belah pihak sebagai aset daerah.

​”Saya diundang dalam dua agenda KNPI ini. Hanya saja pada agenda pertama saya tidak bisa hadir karena sedang bimtek di Jakarta. Bukan berarti saya tidak mendukung, apalagi Yandra itu kan adik kami,” ungkap Yudha kepada sukabumisatu.com.

​Yudha menitipkan pesan bijak agar perbedaan ini tidak menjadi perpecahan yang destruktif. Ia mendorong semangat fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan).

Baca Juga  Ketua DPRD dan Bupati Hadiri Silaturahmi dengan Pimpinan Ormas Islam se-Sukabumi

​”Menjadi pemimpin bukan soal siapa yang memegang stempel paling kuat, tapi siapa yang mampu merangkul tangan paling banyak. Pemuda adalah cermin masa depan Sukabumi; jika hari ini kita sibuk membangun sekat, maka di masa depan kita akan mewariskan keretakan,” tegas Yudha.

​Ia mengajak kedua kubu untuk duduk bersama dan menyadari bahwa musuh utama pemuda bukanlah saudara sendiri, melainkan kemiskinan, pengangguran, dan ketertinggalan.

​Kini, bola panas ada di tangan para pengurus KNPI: Apakah mereka memilih terus berseteru dalam dualisme, atau memilih tumbuh dewasa demi kepentingan Sukabumi yang lebih baik?

Editor: Demi Pratama Adiputra

Related Posts

Add New Playlist