Diduga Jual Barang Haram, Warung di Cicurug Didemo dan Disegel Warga, Tukang Jamu Kena Sasaran

Warung Aceh dan Warung Jamu yang di segel Massa di Tenjoayu Cicurug Sukabumi. Sabtu, (6/6/2026).

SUKABUMISATU.com – Aksi unjuk rasa digelorakan sejumlah tokoh agama dan elemen masyarakat di wilayah Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (6/6/2026). Massa menggeruduk sebuah warung yang disinyalir kuat menjadi sarang peredaran obat keras terbatas (OKT) jenis Tramadol.

​Pantauan di lapangan, aksi protes yang berlangsung siang hari ini sempat memicu perhatian publik hingga mengakibatkan arus lalu lintas di sekitar lokasi mengalami kemacetan.

​Namun, di balik aksi pemberantasan obat terlarang tersebut, terselip kisah pilu dari pedagang lain. Warung jamu yang berada di area yang sama terpaksa ikut disegel dan berhenti beroperasi, padahal tidak tahu-menahu soal bisnis gelap tersebut.

Pemilik Kontrakan Mengaku Kecolongan

​Ganda, selaku pengelola sekaligus anak dari pemilik lahan kontrakan tersebut, mengaku terkejut bukan main saat mendapati puluhan massa sudah mengepung area usahanya.

​”Saya kaget, tiba-tiba ada puluhan massa datang ke lokasi sampai membuat kemacetan. Setelah saya lihat, ternyata mereka sedang mendemo warung yang diduga menjual tramadol,” ujar Ganda kepada SukabumiSatu.com di lokasi kejadian.

Baca Juga  Tolak Sangsi Pidana RUU ODOL, Ratusan Sopir Truk Geruduk Kantor Dishub Kabupaten Sukabumi

​Ganda menegaskan, pihak keluarga sama sekali tidak mengetahui jika salah satu penyewa menyalahgunakan warung tersebut untuk mengedarkan obat keras tanpa izin. Informasi kelam itu baru ia ketahui setelah massa berdatangan.

​”Sebenarnya saya tidak tahu kalau warung sebelah menjual tramadol. Saya juga kaget saat tahu ternyata ada yang menjual obat tersebut,” tambahnya.

Nasib Pedagang Jamu yang Ikut Terdampak

​Lebih lanjut, Ganda menyayangkan tindakan penyegelan yang dilakukan secara menyeluruh. Pasalnya, ada pedagang jamu konvensional yang sudah lama mencari nafkah di sana dan kini harus kehilangan mata pencaharian akibat ulah oknum penjual Tramadol.

​”Saya kasihan sama yang jualan jamu. Mereka sudah lama berjualan dan tidak tahu apa-apa, tapi ikut terdampak karena warungnya disegel,” ungkap Ganda dengan nada prihatin.

Baca Juga  Cicurug Darurat Narkoba? Santri dan Warga Kepung Jalan Siliwangi, Desak Polisi Bongkar Bandar Besar

​Dampak domino ini pun turut memukul ekonomi keluarganya. Bangunan yang disekat menjadi beberapa warung itu merupakan sumber pendapatan utama bagi sang ibu.

​”Ini kontrakan milik ibu saya. Saya juga kasihan kalau para penyewa sampai harus tutup akibat penyegelan. Yang saya pikirkan terutama pedagang jamu yang memang mencari nafkah dari usahanya itu,” jelasnya.

Berharap Ada Solusi dan Tindakan Tegas Aparat

​Melalui momentum ini, Ganda mengetuk pintu hati para koordinator aksi dan pemerintah setempat agar memberikan keadilan bagi pedagang yang bersih dari lingkaran seton peredaran obat keras.

​”Saya berharap kepada teman-teman yang melakukan aksi dan juga pemerintah setempat agar warung jamu yang tidak terlibat bisa dibuka kembali. Kasihan mereka, karena tidak tahu apa-apa. Selain itu, pemasukan dari kontrakan untuk ibu saya juga bisa kembali berjalan,” pungkasnya.

Baca Juga  Gen Z Berkeliaran di Tengah Edaran Belajar Daring, TNI-Polri Lakukan Penyisiran di Palabuhanratu

​Di sisi lain, warga Cicurug mendesak aparat penegak hukum (APH) beserta instansi terkait untuk lebih masif melakukan razia dan menindak tegas sarang-sarang peredaran Tramadol dan eksimer yang kian meresahkan, dengan catatan tetap objektif tanpa merugikan pelaku UMKM lain yang jujur.

Reporter: Chuba Yusuf

Editor: Demi Pratama Adiputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *