Masyarakat Sukabumi Padati Pantai usai Lebaran, Tradisi atau Rekreasi?

SUKABUMISATU.COM – Kabupaten Sukabumi memiliki garis pantai sepanjang 128,43 km,terbentang dari Kecamatan Tegalbuleud hingga Kecamatan Cisolok. Dari 47 Kecamatan yang ada di Kabupaten Sukabumi, sembilan diantaranya berada di daerah pesisir pantai, dan selalu padat pengunjung setiap momen pasca lebaran.

Padatnya kunjungan ke pantai di setiap momen pasca lebaran ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat Sukabumi dan sekitarnya. Bahkan, bagi sebagian orang, sudah menjadi agenda wajib di sela mudik lebaran.

Dari penelusuran sukabumisatu.com kebiasaan masyarakat berkunjung ke pantai setelah lebaran ini disebabkan beberapa faktor. Diantaranya karena pantai dianggap destinasi wisata yang murah dan terjangkau.

Faktor selanjutnya adalah waktu liburan yang bersamaan. Kesempatan untuk dapat berkumpul dengan seluruh sanak saudara sangat terbatas karena kesibukan masing-masing. Kebanyakan orang akan libur selama 3 sampai 7 hari saat Idul Fitri, sehingga mereka cenderung memilih waktu yang bersamaan untuk pergi ke pantai.

Baca Juga  Waspada! Ada Ubur-ubur Jalatrong di Pantai Citepus Kebon Kalapa Sukabumi

Pakar sejarah Sukabumi, Irman Firmansyah kepada sukabumisatu.com, mengatakan kebiasaan masyarakat mengunjungi pantai setelah lebaran ini sudah berlangsung sejak dahulu bahkan saat populasi kendaraan roda 2 dan 4 belum sebanyak saat ini.

Menurut Irman yang juga Ketua Yayasan Dapuran Kipahare ini, tradisi masyarakat yang bermain ke pantai setelah lebaran ini disebut Sawalan. Dari segi harfiah,Sawalan berbeda dengan Nyawalan yang memiliki arti secara umum berpuasa di bulan Syawal pada penanggalan hijriah.

“Sawalan adalah tradisi masyarakat menyambut buat Sawal,tradisi Sawalan ini sebetulnya beragam. Ada yang dengan saling berkunjung dengan keluarga,ada yang berjiarah ke makam orang tua,dan ada juga yang berekreasi dan mandi dipantai,” kata Irman pada sukabumisatu.com. Jumat, (19/04/2024)

Lanjut Irman, tradisi Sawalan ini pada awalnya dilakukan masyarakat dari Pegunungan Selatan Jawabarat. Hingga menjadi tradisi sampai saat ini.

Baca Juga  Cerita Warga Situ Gede Sukabumi, Belum Pernah Ada Kurban Sapi Selama 42 Tahun

“Tradisi Sawalan ini sebetulnya banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya lain, ada pengaruh Islam,Mataram,dan sunda juga.Tapi intinya budaya Lebaran ke pantai itu berasal dari budaya masyarakat pegunungan bukan masyarakat pesisir,hal ini bisa dilihat dari perbedaan ritualnya. Masyarakat pegunungan tidak melakukan ritual saat berkunjung ke laut, mereka hanya berlibur dan melepas penat,” sambung Irman.

Irman juga menceritakan bahwa dahulu tidak hanya pasca lebaran saja masyarakat memenuhi pantai. Namun dalam berbagai ritual keagamaan pada saat itu juga ada beberapa prosesi ritual yang melibatkan masyarakat banyak seperti syukuran laut atau ritual saat masa paceklik. Namun ritual-ritual tersebut sudah ditinggalkan seiring perkembangan jaman dan pengaruh agama.

“Kunjungan masyarakat ke pantai pelabuhan ratu sudah terdokumentasikan sejak 1950,dimana masyarakat dari Jakarta berbondong-bondong ke Pelabuhanratu. Nah,tradisi makan bersama,dan berlibur ke pantai ini merupakan ungkapan Kemenangan setelah berpuasa Ramadhan. Dan bahkan di wilayah selatan itu ada yang merayakannya dengan permainan reog,pada dasarnya semua adalah ungkapan syukur dan kemenangan setelah beribadah Ramadhan,” pungkas Irman.

Baca Juga  H+1 Lebaran, Puluhan Ribu Kendaraan Masuk ke Sukabumi

Penulis: Demmy Pratama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *