SUKABUMISATU.com – Bencana alam yang terus menerjang wilayah Sukabumi membuat Masyarakat Pemerhati Ekologi (MAHALOGI) angkat bicara. Mereka menilai, musibah yang terjadi bukan sekadar faktor cuaca, tapi akibat ulah manusia yang merusak lingkungan.
Dalam aksi budaya bertajuk Raksa Buana, Selasa (2/7), MAHALOGI menyampaikan pernyataan sikap di Sukabumi. Koordinator MAHALOGI, Mantra Sugrito, menyebut peristiwa banjir, longsor, dan pergeseran tanah yang menewaskan warga dan merusak fasilitas umum, seharusnya jadi alarm keras bagi pemerintah.

“Ini bukan kebetulan. Alam sedang bicara. Kita yang lalai,” ujarnya.
MAHALOGI menyoroti masifnya perusakan hutan, alih fungsi lahan, hingga penambangan ilegal di kawasan utara dan selatan Sukabumi. Kondisi itu dinilai memperparah risiko bencana di wilayah yang dikenal rawan longsor tersebut.
Dalam pernyataannya, MAHALOGI mendesak Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pertanian bertindak tegas menindak pelaku perusakan alam. Termasuk aparat atau perusahaan yang terlibat.
Selain itu, mereka meminta Balitbangda segera merevisi draft RPJMD dan memasukkan program pembangunan berkelanjutan berbasis budaya lokal. Tak kalah penting, mereka juga mendesak Gubernur Jabar KDM turun tangan langsung mengatasi persoalan di Sukabumi.
“Jangan tunggu korban terus berjatuhan. Pemimpin harus hadir, bukan sekadar pidato,” tegas Mantra.
MAHALOGI menilai, slogan transformasi Sukabumi dari Musibah ke Mubarakah tak cukup hanya jadi ucapan. Harus diwujudkan dalam kebijakan nyata.










