Lebaran “Terbelah”: Arab Saudi Rayakan Jumat, Mengapa Indonesia Masih “Adu Nasib” di Sidang Isbat?

Ilustrasi
banner 468x60

SUKABUMISATU.com – Aroma opor ayam mungkin sudah tercium di Makkah dan Madinah. Pemerintah Arab Saudi secara resmi telah mengetok palu: 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Keputusan ini diambil setelah Mahkamah Agung Saudi memverifikasi hasil rukyatul hilal yang menyatakan Ramadan tahun ini digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari, mengingat Arab Saudi memulai puasa sehari lebih awal dari Indonesia.

​Namun, di tanah air, ketidakpastian masih menggantung di udara. Di saat jutaan warga Saudi sudah bersiap untuk salat Id esok pagi, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama baru akan menggelar Sidang Isbat pada Kamis (19/3) malam ini. Prediksi pahitnya? Indonesia kemungkinan besar baru akan berlebaran pada Sabtu, 21 Maret 2026.

banner 325x300

Kontras yang Tajam: Kepastian vs Prosedur

​Perbedaan ini bukan sekadar selisih waktu, melainkan cerminan dari jurang metodologi yang kian lebar. Arab Saudi, dengan posisinya yang lebih di barat, secara astronomis memiliki peluang melihat hilal lebih besar. Namun, bagi publik Indonesia, pemandangan “tetangga sudah Lebaran, kita masih puasa” kembali memicu kritik lama: Seberapa efektif kriteria MABIMS yang kita agungkan?

​Berdasarkan data astronomi (hisab), posisi hilal di Indonesia pada Kamis sore dilaporkan masih berada di bawah kriteria visibilitas MABIMS (tinggi 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat). Artinya, meski secara global hilal sudah “eksis”, secara aturan birokrasi agama di Indonesia, ia dianggap “tidak terlihat”.

Baca Juga  Malam Takbir Berdarah di Waluran, Seorang Pemuda Terkapar Kena Sabetan Sajam

Ironi Satu Langit, Dua Keputusan

​Naskah kritis ini menyoroti beberapa poin tajam yang menjadi perbincangan publik:

Dilema Kalender Global: Arab Saudi dan organisasi Muhammadiyah di Indonesia (yang menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal) sudah sepakat pada hari Jumat. Sementara itu, Pemerintah dan NU masih setia pada rukyat lokal. Pertanyaannya: Sampai kapan umat Islam Indonesia harus terbelah dalam merayakan hari kemenangan hanya karena batas administratif negara?

Anggaran vs Urgensi: Sidang Isbat yang memakan biaya negara kembali dipertanyakan efektivitasnya jika hasil akhirnya sudah bisa diprediksi secara matematis melalui sains astronomi sejak berbulan-bulan lalu.

Baca Juga  H+1 Lebaran, Arus Wisata Jakarta-Bogor Menuju Sukabumi dan Palabuhanratu Padat Merayap

Psikologi Umat: Perbedaan ini kerap menciptakan kebingungan di tingkat akar rumput, terutama bagi masyarakat di perbatasan atau mereka yang memiliki akses informasi global secara instan.

Menanti Ketukan Palu Menag

​Menteri Agama RI dijadwalkan mengumumkan hasil sidang pada pukul 19.25 WIB malam ini. Jika pemerintah tetap pada pendiriannya untuk menggenapkan Ramadan menjadi 30 hari (istikmal), maka Indonesia akan tertinggal satu hari di belakang Arab Saudi dan sebagian besar negara Timur Tengah lainnya.

​Di saat warga Riyadh sudah mengumandangkan takbir malam ini, warga Jakarta mungkin masih harus menyiapkan stamina untuk hari ke-30 puasa. Sebuah ironi tahunan yang membuktikan bahwa di bawah langit yang sama, waktu “menang” ternyata bisa berbeda-beda tergantung paspor yang kita pegang.

Baca Juga  PLKKMO Lakukan Konsolidasi Pembinaan Pelaku Perbukuan Pendidikan Agama dan Keagamaan di 3 Wilayah

Redaksi: Bagaimana menurut Anda? Apakah sudah saatnya Indonesia beralih ke kalender hijriah global agar seragam dengan dunia internasional, ataukah kearifan lokal dalam melihat hilal tetap harus dipertahankan meski berbeda?

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *