Kisah Maryoto, Purnabakti TNI di Cikembar Sukabumi yang Sukses Sulap 52 Hektar Lahan Jadi Kebun Singkong

Mengabdi pada negara sekaligus menggerakkan ekonomi warga lokal, Maryoto membuktikan konsistensinya bertani singkong sejak masih aktif bertugas hingga purnabakti.

Maryoto, Petani Singkong Cikembar Sukabumi.

CIKEMBAR, SUKABUMISATU.com — Dedikasi dan semangat pantang menyerah ditunjukkan oleh Maryoto, seorang purnabakti TNI yang kini sukses mengelola puluhan hektar perkebunan singkong di Kampung Cicatih, Desa Cimanggu, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi.

​Tak main-main, kiprah Maryoto di dunia pertanian sudah berlangsung selama hampir 30 tahun. Usaha ini ia perintis sejak masih aktif bertugas sebagai prajurit TNI hingga akhirnya memasuki masa purnabakti.

Berawal dari Lahan Mangkrak

​Kisah perjalanan Maryoto bermula tiga dekade lalu. Saat masih berdinas aktif, ia melihat potensi lahan tidur di sekitar asrama tentara yang belum termanfaatkan secara optimal.

​”Awalnya dari lahan asrama sekitar 40 hektar yang baru terpakai 9 hektar. Sisanya tanah terbengkalai, daripada menganggur saya manfaatkan untuk tanam singkong,” ujar Maryoto saat ditemui di kebunnya di Cikembar. Senin, (03/08/2026)

​Berawal dari menggarap 1 hektar lahan, Maryoto secara bertahap memperluas garapannya seiring bertambahnya modal dan pengalaman. Kini, total lahan singkong yang dikelolanya telah mencapai 52 hektar.

Baca Juga  Deddy Mizwar Sambangi Petani Singkong Sukabumi, Soroti Potensi Besar dan Kendala Produksi

Berdayakan Warga Lokal dan Terapkan Strategi Tumpangsari

​Keberhasilan Maryoto tak hanya dinikmati sendiri. Perkebunan singkong miliknya menjadi tumpuan hidup bagi puluhan warga sekitar. Saat ini, ia mempekerjakan sedikitnya 40 orang karyawan lokal yang terdiri dari 20 pria dan 20 wanita.

​Para buruh tani di kebunnya mendapatkan penghasilan dari sistem borongan mengupas dan memikul singkong dengan tarif Rp400 per kilogram. Dalam sehari, seorang pekerja mampu mengumpulkan hingga 4 kuintal singkong dengan pendapatan rata-rata Rp160.000 per hari.

​Untuk menjaga efisiensi dan kontinuitas pasokan, Maryoto menerapkan sistem pola tanam bergilir (plotting) per 3 hektar. Selain itu, ia juga memadukannya dengan sistem tumpangsari jagung manis.

Baca Juga  Kemarau Bawa Berkah Ekonomi: Harga Mentimun di Sukabumi Meroket hingga Rp13 Ribu per Kg

​”Singkong ditanam bersisian dengan jagung manis. Jagung manis ini kan masa panennya cepat, sekitar 70 hari. Hasil panen jagung inilah yang kita pakai untuk menutup biaya pemupukan dan perawatan awal singkong, jadi beban operasional tidak terlalu berat,” jelasnya.

Diserap Pabrik Besar hingga Bogor dan Subang

​Kualitas singkong hasil panen dari perkebunan Maryoto sudah teruji dan memiliki pasar yang stabil. Seluruh hasil panennya dipasok secara rutin ke pabrik-pabrik pengolahan keripik ternama, seperti pabrik Kusuka di Bogor hingga pembeli di wilayah Subang.

​Terkait tantangan cuaca ekstrem dan musim kemarau panjang saat ini, Maryoto mengakui adanya penurunan volume hasil panen.

​”Kalau kondisi normal per hektar bisa dapat 17 ton. Saat kemarau ini ada penurunan sekitar 2 ton, jadi dapat sekitar 15 sampai 16 ton per hektar. Tapi alhamdulillah tidak rugi, karena harga singkong di pasaran sedang naik akibat tingginya permintaan,” pungkasnya.

Baca Juga  Deddy Mizwar Sambangi Petani Singkong Sukabumi, Soroti Potensi Besar dan Kendala Produksi

​Lewat ketekunan selama 30 tahun, purnawirawan TNI ini tidak hanya berhasil menjaga ketahanan pangan lokal, tetapi juga terus menebar manfaat dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat di Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi.

Reporter: Suhendi Soex

Editor: Demi Pratama Adiputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *