Oleh: Ir. Hendra Dirdja Triana, M.M., Ph.D.
(Pemerhati Lingkungan dan Teknologi Informasi)
SUKABUMISATU.COM — Ketika berbicara mengenai masa depan pembangunan Sukabumi Raya, muncul sebuah pertanyaan penting: apakah Kabupaten dan Kota Sukabumi lebih tepat mengembangkan ekonomi hijau atau ekonomi biru?
Menurut saya, pertanyaan tersebut sebenarnya tidak perlu dijawab dengan memilih salah satu. Sukabumi Raya justru memiliki peluang besar untuk mengembangkan keduanya secara terintegrasi.
Karakter geografis Sukabumi mempertemukan kawasan pegunungan, hutan, pertanian, perkebunan, sungai, pesisir, hingga laut lepas. Dengan kata lain, Sukabumi memiliki ekosistem dari hulu sampai hilir yang memungkinkan ekonomi hijau dan ekonomi biru saling menguatkan.
Ekonomi Hijau untuk Kawasan Daratan
Ekonomi hijau pada dasarnya menempatkan pertumbuhan ekonomi, efisiensi sumber daya, dan perlindungan lingkungan dalam satu kerangka kerja yang utuh.
Untuk Sukabumi, implementasinya dapat dimulai dari sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, agroforestri, energi terbarukan, pengelolaan air, pariwisata berbasis alam, hingga ekonomi sirkular.
Kabupaten Sukabumi memiliki keragaman komoditas pertanian yang tersebar di berbagai kecamatan. Data pemerintah daerah menunjukkan bahwa potensi pertanian mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan, dan peternakan (PPID Sukabumi).
Tantangannya saat ini adalah bagaimana produksi tersebut tidak berhenti pada penjualan bahan mentah semata:
- Padi harus dapat berkembang menjadi industri pangan.
- Buah dan hortikultura diolah menjadi produk olahan bernilai tinggi.
- Komoditas perkebunan dikembangkan melalui industri hilir.
- Limbah pertanian masuk ke dalam rantai ekonomi sirkular.
- Kawasan hutan tidak hanya dinilai dari hasil kayunya, tetapi juga dari potensi karbon, ketersediaan air, biodiversitas, dan jasa lingkungan.
Dengan demikian, rumusannya jelas:
Green Economy = produksi + nilai tambah + efisiensi sumber daya + konservasi.
Ekonomi Biru untuk Pesisir Sukabumi
Di sisi lain, Sukabumi memiliki garis pantai selatan yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Palabuhanratu merupakan salah satu pusat perikanan penting, sementara kawasan Ujung Genteng memiliki potensi perikanan, wisata pesisir, konservasi, dan sumber daya hayati laut.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menempatkan kawasan Selatan Sukabumi sebagai kawasan strategis yang diarahkan untuk pengembangan perikanan tangkap, pariwisata berbasis potensi alam, Geopark Ciletuh–Palabuhanratu, serta perlindungan lingkungan pesisir dan mitigasi bencana (JDIH Jawa Barat).
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sendiri terus mendorong pendekatan ekonomi biru melalui pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan, pemulihan ekosistem, penguatan tata ruang laut, peningkatan nilai karbon biru, dan penguatan data kelautan-perikanan (KKP).
Prinsip ini sangat relevan bagi Sukabumi. Ekonomi biru tidak berarti sekadar meningkatkan volume ikan yang ditangkap. Yang jauh lebih penting adalah membangun rantai nilainya:
Ikan → cold chain → pengolahan → packaging → branding → pasar.
Melalui alur ini, nilai tambah hasil laut akan lebih banyak berputar dan tinggal di daerah.
Potensi Karbon Biru Sukabumi
Menariknya, Sukabumi juga memiliki potensi yang mempertemukan ekonomi biru dengan agenda perubahan iklim global.
Penelitian KKP mengenai perairan Ujung Genteng menemukan 36 spesies rumput laut dan mengidentifikasi sejumlah spesies yang berpotensi berperan dalam penyimpanan karbon biru (blue carbon) serta dapat dikembangkan melalui budidaya (E-Journal Balitbang).
Temuan ini menunjukkan bahwa laut bukan hanya sekadar sumber ikan. Laut adalah natural capital yang memiliki nilai ekologis, karbon, wisata, biodiversitas, dan ekonomi sekaligus.
Di Mana Ekonomi Hijau dan Biru Bertemu?
Justru di sinilah konsep pembangunan Sukabumi Raya menjadi sangat menarik. Bayangkan satu rantai ekosistem yang saling terhubung:
Gunung → Rimba → Sungai → Pertanian → Pesisir → Laut.
Kerusakan di kawasan hulu dapat meningkatkan sedimentasi sungai dan akhirnya merusak pesisir. Sebaliknya, pengelolaan hutan, Daerah Aliran Sungai (DAS), dan pertanian yang baik di hulu akan meningkatkan kualitas lingkungan hingga ke wilayah pesisir.
Artinya, ekonomi hijau dan ekonomi biru tidak boleh dirancang sebagai dua program terpisah. Keduanya merupakan bagian dari satu kesatuan sistem ekologis.
Sukabumi Membutuhkan “Green–Blue Economic Corridor”
Konsep yang paling sesuai untuk Sukabumi Raya adalah Green–Blue Economic Corridor.
Kawasan daratan dikembangkan melalui pendekatan ekonomi hijau, sedangkan kawasan pesisir dan laut dikembangkan melalui ekonomi biru. Di antara keduanya, terdapat sungai, DAS, kawasan konservasi, dan jaringan ekonomi masyarakat sebagai penghubung.
Model alurnya dapat digambarkan sebagai berikut:
Green Economy: Pertanian – Perkebunan – Hutan – Agroforestri – Energi – Ekowisata
River & Watershed Economy: Air – DAS – Irigasi – Konservasi – Pengendalian Banjir
Blue Economy: Perikanan – Budidaya – Rumput Laut – Karbon Biru – Wisata Bahari – Industri Kelautan
Inilah yang seharusnya menjadi fondasi dan karakter utama ekonomi Sukabumi Raya.
Teknologi Sebagai Penghubung Integrasi
Implementasi konsep ini membutuhkan dukungan data spasial yang terintegrasi. Sukabumi dapat membangun Green–Blue Natural Resources Intelligence System berbasis GIS, citra satelit, drone, sensor lingkungan, dan kecerdasan buatan (AI).
Sistem intelligence ini berfungsi memetakan:
- Kesesuaian lahan pertanian, perkebunan, dan hutan;
- Sumber air dan kondisi DAS;
- Kawasan rawan bencana dan biodiversitas;
- Garis pantai, mangrove, dan ekosistem pesisir;
- Potensi perikanan dan destinasi wisata;
- Infrastruktur hingga peluang investasi.
Dengan sistem data ini, pemerintah dan investor dapat mengetahui secara pasti bukan hanya lokasi potensi berada, tetapi juga berapa nilainya, apa risikonya, dan bagaimana daya dukung lingkungannya.
Bukan Eksploitasi, Tetapi Utilisasi
Inilah perbedaan mendasar antara pembangunan konvensional dan pembangunan berkelanjutan. Sumber daya alam tidak boleh hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dieksploitasi, melainkan sebagai modal alam (natural capital) yang harus menghasilkan manfaat tanpa kehilangan fungsi ekologisnya.
- Hutan menghasilkan ekonomi sekaligus menyimpan karbon.
- Pertanian menghasilkan pangan sekaligus menjaga kualitas tanah.
- Sungai menyediakan air sekaligus harus tetap sehat ekosistemnya.
- Laut menghasilkan ikan sekaligus harus tetap produktif.
- Pantai menghasilkan pariwisata sekaligus harus tetap terlindungi.
Jadi, Mana yang Lebih Cocok?
Jawabannya bukan memilih hijau atau biru. Untuk Sukabumi Raya, pendekatan yang paling sesuai adalah:
Hijau di darat, biru di laut, dan terintegrasi melalui DAS, pesisir, teknologi, serta ekonomi masyarakat.
Model ini sejalan dengan arah pengembangan kawasan Selatan Sukabumi yang menggabungkan sektor perikanan, pariwisata, perlindungan geologi, lingkungan pesisir, dan mitigasi bencana (JDIH Jawa Barat).
Dengan demikian, masa depan Sukabumi Raya tidak harus mempertentangkan antara ekonomi dan lingkungan. Ekonomi justru harus tumbuh karena lingkungannya dikelola dengan baik.
Pertanyaannya kini bukan lagi: “Hijau atau biru?”
Melainkan: “Bagaimana hijau dan biru dapat menjadi satu mesin pertumbuhan ekonomi Sukabumi Raya yang menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian alam?”
Jika mampu menjawab tantangan tersebut, Sukabumi Raya bukan hanya memiliki sumber daya alam yang kaya, tetapi juga dapat menjadi percontohan nasional bagaimana ekonomi hijau dan ekonomi biru bertemu dalam satu kawasan pembangunan yang berkelanjutan.












