Anggaran Pusat Mampet, Program MBG Cisolok Sukabumi Resmi Berhenti

Ilustrasi

SUKABUMISATU.com, CISOLOK — Program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sukabumi kembali menelan pil pahit. Akibat alokasi dana dari pemerintah pusat yang tak kunjung cair, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukabumi Cisolok 2 terpaksa mengambil langkah drastis dengan menghentikan seluruh operasionalnya mulai Selasa (15/9/2026).

​Keputusan berat tersebut ditandatangani langsung oleh Kepala SPPG Cisolok 2, Anjar, S.Tr.Pi, bersama Perwakilan Yayasan Giat Insan Pasundan sekaligus Mitra, Much Wildan P, melalui Laporan Khusus Surat Pernyataan Berhenti Operasional Sementara tertanggal 14 September 2026.

​Transfer BNI Direct Mampet, Dapur Gizi Lumpuh

​Penyebab utama dari mangkraknya dapur pemenuhan gizi di wilayah pesisir Sukabumi ini bersumber dari masalah klasik: keterlambatan transfer anggaran dari tingkat pusat. Pihak pengelola mengaku tidak lagi sanggup menopang biaya operasional harian tanpa adanya kepastian alokasi dana.

Baca Juga  Ngaku Warga Kabandungan dan Cari MBG, Pria Linglung Terobos SMPN 2 Cibadak Diduga Akan Lakukan Pencurian

​“Sehingga dana anggaran masih belum di-top up dari pusat ke BNI direct, maka kami memutuskan untuk berhenti operasional hingga waktu yang belum ditentukan,” tegas pengelola dalam poin fakta laporan resmi tersebut.

​Kondisi ini menyandera pihak pengelola lokal yang selama ini berada di garis depan pasokan bahan pangan segar. Menjaga dapur tetap mengepul tanpa kepastian anggaran dinilai sebagai langkah spekulatif yang membebani pengelola dan mitra yayasan di daerah.

​Empat Kelompok Rentan Terkena Dampak Langsung

​Buntut dari penghentian ini, jajaran Penanggung Jawab (PIC) guru di sekolah-sekolah hingga kader posyandu di wilayah Cisolok diperintahkan untuk menyampaikan kabar buruk ini secara langsung kepada masyarakat penerima manfaat.

​Terhentinya pasokan nutrisi ini berdampak langsung pada empat kelompok sasaran utama di Desa Cisolok dan sekitarnya:

  • ​Siswa dan siswi lembaga pendidikan yang bergantung pada menu harian sekolah,
  • ​Ibu hamil yang membutuhkan asupan nutrisi esensial,
  • ​Ibu menyusui, serta
  • ​Balita yang terdaftar dalam program pencegahan stunting.
Baca Juga  Program MBG Bikin Pedagang Tradisional di Pasar Cibadak Sepi Pembeli

​Catatan Kritis Redaksi: Cermin Rapuhnya Manajerial MBG di Bawah

​Lumpuhnya operasional SPPG Cisolok 2—yang bermarkas di Kampung Cikukulu, Desa Cisolok—menjadi cermin buram pelaksanaan program MBG di tingkat tapak.

​Redaksi SUKABUMISATU.com mencatat beberapa poin krusial atas peristiwa ini:

  1. ​Sistem Keuangan yang Rentan: Kebergantungan total pada skema transfer pusat tanpa adanya dana cadangan (buffer fund) lokal membuktikan betapa rapuhnya rantai pasok program ini saat terjadi kendala teknis perbankan.
  2. ​Mitra Lokal Jadi ‘Bumper’ Risiko: Pengelola lapangan dan yayasan mitra kerap dipaksa berada di posisi dilematis. Mereka berhadapan langsung dengan ekspektasi warga setiap hari, namun di saat bersamaan disandera keterlambatan administrasi di tingkat atas.
  3. ​Ancaman Target Pemenuhan Gizi: Jika kasus tersendatnya anggaran ini terus berulang di Sukabumi, ambisi pemerintah untuk menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas gizi generasi penerus terancam hanya menjadi wacana di atas kertas.
Baca Juga  SPPG Batununggal Cibadak Perkuat Layanan Gizi dan Komitmen Sosial bagi Warga

​Hingga berita ini diturunkan, pengelola SPPG Cisolok 2 menyatakan baru akan membuka kembali layanan pemenuhan gizi setelah alokasi dana dari pusat resmi ditransfer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *